31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022
Array

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (17)

Pondok pesantren (ponpes) Fathul Mubtadi’in, Desa Tanjungtani, Prambon, berdiri di tengah badai pemberontakan PKI 1965. Itu berbeda dengan pendahulunya di Ponpes Tankila yang melawan penjajahan Belanda.

 

Pada tahun 1950, ilmu kanuragan masih menjadi salah satu cara efektif bagi kiai di sepanjang Sungai Brantas di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon menyebarkan agama Islam. Terbukti dengan dijadikannya Ponpes Fathul Mubtadi’in menjadi pusat penggemblengan bagi santri dan warga sekitar ponpes.

Pengasuh Ponpes Fathul Mubtadi’in Kiai M Ali Zainal Abidin menyebutkan, ketika terjadi pemberontakan PKI 1965, banyak warga yang menempa diri di ponpes ini. “Sebelum ke Purwoasri, santri dan warga digembleng di sini,” katanya. Ketertarikan warga belajar ilmu beladiri di ponpes ini diselingi ilmu agama Islam. Keadaan itulah yang kemudian membuat warga di sekitar ponpes mau belajar agama Islam.

Baca Juga :  Persiapkan Tilang ETLE di Nglundo

Pada awal berdiri, Kiai Syarif Abdul Karim, pendiri Ponpes Fathul Mubtadi’in yang baru mentas dari Ponpes Lirboyo Kediri pulang ke Desa Tanjungtani, Prambon. “Awalnya ada santri dari Lirboyo yang ikut,” katanya. Meski jumlahnya tidak banyak, Kiai Syarif tekun memperdalam ilmu agamnya.

Sebelum di Lirboyo, Kiai Syarif pernah juga belajar di Ponpes Tebu Ireng Jombang. “Dia menjadi murid Kiai Hasyim Asy’ari,” kata pria yang akrab disapa Gus Kanang ini.

Saat di Ponpes Tebu Ireng itulah, dia belajar soal kedisiplinan. Meski tidak punya karomah, kata Gus Kanang, Ponpes Fathul Mubtadi’in masih berdiri hingga kini berkat ketekunannya.

Selain kedisiplinan saat mempelajari ilmu agama, Kiai Syarif juga dikenal dengan kesabarannya. Salah satu cerita yang paling fenomenal adalah Kiai Syarif tidak pernah membunuh kepinding (kutu busuk, Red) yang menghisap darah saat nyantri di pondok.

Baca Juga :  Sumur Tercemar, Warga Takut Terkena DB

“Katanya itu sedekah, karena (kepinding) makanannya hanya darah,” ucap pria yang juga cucu dari Kiai Syarif ini. Dari cerita itu, Gus Kanang menganggap kakeknya ingin menunjukkan kesabaran dan kasih sayang selama mendalami ilmu agama Islam.

Hingga kini, apa yang diajarkan kakeknya itu ditanamkan ke santri-santrinya. Awal merintis ponpes, Gus Kanang, mengatakan ada banyak disiplin ilmu yang diajarkan. Tidak hanya sosial tapi juga masalah ekonomi. Terakhir, Kiai Syarif memilih untuk mengembangkan pendidikan sebagai dasar untuk menyebarkan agama Islam di ponpes. (bersambung)

- Advertisement -

Pondok pesantren (ponpes) Fathul Mubtadi’in, Desa Tanjungtani, Prambon, berdiri di tengah badai pemberontakan PKI 1965. Itu berbeda dengan pendahulunya di Ponpes Tankila yang melawan penjajahan Belanda.

 

Pada tahun 1950, ilmu kanuragan masih menjadi salah satu cara efektif bagi kiai di sepanjang Sungai Brantas di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon menyebarkan agama Islam. Terbukti dengan dijadikannya Ponpes Fathul Mubtadi’in menjadi pusat penggemblengan bagi santri dan warga sekitar ponpes.

Pengasuh Ponpes Fathul Mubtadi’in Kiai M Ali Zainal Abidin menyebutkan, ketika terjadi pemberontakan PKI 1965, banyak warga yang menempa diri di ponpes ini. “Sebelum ke Purwoasri, santri dan warga digembleng di sini,” katanya. Ketertarikan warga belajar ilmu beladiri di ponpes ini diselingi ilmu agama Islam. Keadaan itulah yang kemudian membuat warga di sekitar ponpes mau belajar agama Islam.

Baca Juga :  Kisah Santri yang Menimba Ilmu Jadugan di Pesantren (1)

Pada awal berdiri, Kiai Syarif Abdul Karim, pendiri Ponpes Fathul Mubtadi’in yang baru mentas dari Ponpes Lirboyo Kediri pulang ke Desa Tanjungtani, Prambon. “Awalnya ada santri dari Lirboyo yang ikut,” katanya. Meski jumlahnya tidak banyak, Kiai Syarif tekun memperdalam ilmu agamnya.

Sebelum di Lirboyo, Kiai Syarif pernah juga belajar di Ponpes Tebu Ireng Jombang. “Dia menjadi murid Kiai Hasyim Asy’ari,” kata pria yang akrab disapa Gus Kanang ini.

Saat di Ponpes Tebu Ireng itulah, dia belajar soal kedisiplinan. Meski tidak punya karomah, kata Gus Kanang, Ponpes Fathul Mubtadi’in masih berdiri hingga kini berkat ketekunannya.

Selain kedisiplinan saat mempelajari ilmu agama, Kiai Syarif juga dikenal dengan kesabarannya. Salah satu cerita yang paling fenomenal adalah Kiai Syarif tidak pernah membunuh kepinding (kutu busuk, Red) yang menghisap darah saat nyantri di pondok.

Baca Juga :  Mewujudkan Area ‘Bukit Seribu Wisata’

“Katanya itu sedekah, karena (kepinding) makanannya hanya darah,” ucap pria yang juga cucu dari Kiai Syarif ini. Dari cerita itu, Gus Kanang menganggap kakeknya ingin menunjukkan kesabaran dan kasih sayang selama mendalami ilmu agama Islam.

Hingga kini, apa yang diajarkan kakeknya itu ditanamkan ke santri-santrinya. Awal merintis ponpes, Gus Kanang, mengatakan ada banyak disiplin ilmu yang diajarkan. Tidak hanya sosial tapi juga masalah ekonomi. Terakhir, Kiai Syarif memilih untuk mengembangkan pendidikan sebagai dasar untuk menyebarkan agama Islam di ponpes. (bersambung)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/