22.9 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022
Array

Bawang Merah Impor Serbu Pasar

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN – Mendekati Ramadan, bawang merah impor ‘menyerbu’ Pasar Grosir Sayur dan Buah, Pare. Harga komoditas untuk bumbu ini lebih murah dibanding lokal. Bahkan selisihnya bisa sampai Rp 10 ribu per kilogram (kg).

Sejumlah pedagang telah mendatangkan brambang impor dari dari India tersebut sejak awal April silam. “Sejak sebulan yang lalu sudah banyak yang memasarkan di sini,” ungkap Winarsih, salah satu pedagang bawang merah di Pasar Grosir Sayur dan Buah, Pare, kemarin (5/5).

Perempuan asal Wonosari, Desa Sambirejo, Kecamatan Pare ini mengungkapkan, harga bawang merah impor jauh lebih murah daripada yang lokal. “Jauh selisihnya Mbak,” papar pedagang ini sembari mengupas bawang merah yang dipasarkannya.

Menurut Winarsih, untuk tiap kilogram harga bawang merah lokal berkisar Rp 23 ribu – Rp 25 ribu. Sementara harga bawang merah impor mencapai Rp 13 ribu–Rp 15 ribu per kilogram. Beberapa pedagang sempat mengkhawatirkan impor komoditas ini akan mempengaruhi harga bawang merah lokal.

Baca Juga :  BKD Kabupaten Kediri Belum Pastikan Mekanisme CAT

Namun kemarin, Winarsih menyatakan, meski ada brambang impor, permintaan terhadap yang lokal masih banyak. Bahkan, ia menyebut, justru komoditas brambang lokal masih lebih laris.

- Advertisement -

Pasalnya, menurut pedagang perempuan ini, bawang merah lokal jauh lebih sedap. Sehingga citarasanya sebagai bumbu masakan lebih kuat. Itu bila dibanding bawang impor. “Masih sedap yang lokal rasanya,” urainya.

Sementara itu, Zaenuri, pedagang grosir bawang merah dan bawang putih, memaparkan hal yang sama. Menurut dia, peredaran bawang impor itu setiap tahun pasti ada. Terutama mendekati bulan-bulan Ramadan. Pada saat itulah biasanya harga-harga kebutuhan pokok banyak yang melonjak.

“Biasanya di bulan-bulan awal, ya seperti April bisa juga pas Ramadan,” paparnya.

Lebih lanjut lelaki asal Pare ini menyatakan bahwa di tahun-tahun sebelumnya bisa memasok bawang merah impor sebanyak satu kontainer. Namun di tahun ini, ia mengaku, hanya mendatangkan satu ton. Sebaliknya, Zaenuri malah memasok bawang merah lokal sebanyak lima ton. “Masih banyak pasokan yang bawang merah lokal daripada impor,” akunya.

Baca Juga :  Mayoritas Jamaah Kediri Sudah Tinggalkan Mina

Zaenuri menambahkan, bawang merah lokal diambil dari wilayah Brebes dan Demak, Jawa Tengah. Pasalnya, di sana tengah musim panen. Hasil panen di daerah tersebut lebih bagus. Pun jika dibandingkan dari Kediri. Selain itu, ia juga memaparkan, bawang merah lokal lebih diminati. “Masih laris yang lokal,” urainya.

Terpisah, Sunarmi, pengecer bawang merah asal Pare, menyatakan tetap kulakan bawang merah impor. Dia ingin memberikan banyak pilihan pada pembelinya. Terutama untuk bawang merah yang harganya murah.

“Biar pembeli nanti punya banyak pilihan, pilih yang lebih murah (impor) atau yang lokal,” pungkasnya. 

- Advertisement -

KEDIRI KABUPATEN – Mendekati Ramadan, bawang merah impor ‘menyerbu’ Pasar Grosir Sayur dan Buah, Pare. Harga komoditas untuk bumbu ini lebih murah dibanding lokal. Bahkan selisihnya bisa sampai Rp 10 ribu per kilogram (kg).

Sejumlah pedagang telah mendatangkan brambang impor dari dari India tersebut sejak awal April silam. “Sejak sebulan yang lalu sudah banyak yang memasarkan di sini,” ungkap Winarsih, salah satu pedagang bawang merah di Pasar Grosir Sayur dan Buah, Pare, kemarin (5/5).

Perempuan asal Wonosari, Desa Sambirejo, Kecamatan Pare ini mengungkapkan, harga bawang merah impor jauh lebih murah daripada yang lokal. “Jauh selisihnya Mbak,” papar pedagang ini sembari mengupas bawang merah yang dipasarkannya.

Menurut Winarsih, untuk tiap kilogram harga bawang merah lokal berkisar Rp 23 ribu – Rp 25 ribu. Sementara harga bawang merah impor mencapai Rp 13 ribu–Rp 15 ribu per kilogram. Beberapa pedagang sempat mengkhawatirkan impor komoditas ini akan mempengaruhi harga bawang merah lokal.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Tabir Misteri si Gunung Air (2)

Namun kemarin, Winarsih menyatakan, meski ada brambang impor, permintaan terhadap yang lokal masih banyak. Bahkan, ia menyebut, justru komoditas brambang lokal masih lebih laris.

Pasalnya, menurut pedagang perempuan ini, bawang merah lokal jauh lebih sedap. Sehingga citarasanya sebagai bumbu masakan lebih kuat. Itu bila dibanding bawang impor. “Masih sedap yang lokal rasanya,” urainya.

Sementara itu, Zaenuri, pedagang grosir bawang merah dan bawang putih, memaparkan hal yang sama. Menurut dia, peredaran bawang impor itu setiap tahun pasti ada. Terutama mendekati bulan-bulan Ramadan. Pada saat itulah biasanya harga-harga kebutuhan pokok banyak yang melonjak.

“Biasanya di bulan-bulan awal, ya seperti April bisa juga pas Ramadan,” paparnya.

Lebih lanjut lelaki asal Pare ini menyatakan bahwa di tahun-tahun sebelumnya bisa memasok bawang merah impor sebanyak satu kontainer. Namun di tahun ini, ia mengaku, hanya mendatangkan satu ton. Sebaliknya, Zaenuri malah memasok bawang merah lokal sebanyak lima ton. “Masih banyak pasokan yang bawang merah lokal daripada impor,” akunya.

Baca Juga :  BKD Kabupaten Kediri Belum Pastikan Mekanisme CAT

Zaenuri menambahkan, bawang merah lokal diambil dari wilayah Brebes dan Demak, Jawa Tengah. Pasalnya, di sana tengah musim panen. Hasil panen di daerah tersebut lebih bagus. Pun jika dibandingkan dari Kediri. Selain itu, ia juga memaparkan, bawang merah lokal lebih diminati. “Masih laris yang lokal,” urainya.

Terpisah, Sunarmi, pengecer bawang merah asal Pare, menyatakan tetap kulakan bawang merah impor. Dia ingin memberikan banyak pilihan pada pembelinya. Terutama untuk bawang merah yang harganya murah.

“Biar pembeli nanti punya banyak pilihan, pilih yang lebih murah (impor) atau yang lokal,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/