26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022
Array

Bahan Baku Langka, Datangkan dari Luar Kota

Sejak puluhan tahun lalu, Dusun/Desa Betet, Kecamatan Ngronggot dikenal sebagai kampung cobek. Mayoritas warga di sana menjadi perajin cobek dan talenan dari kayu. Keterampilan turun-temurun itu sudah menjadi sumber kehidupan sehari-hari.

 

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Kampung Cobek dan Talenan lokasinya tidak jauh dari Balai Desa Betet, Kecamatan Ngronggot. Jaraknya hanya sekitar 200 meter. Masuk ke jalan kecil, deretan kayu dari pohon mangga tampak dijemur di depan teras rumah warga. Semakin ke selatan, jumlahnya makin banyak.

Ya, di Dusun Betet itu, sebagian besar warganya menjadi perajin cobek, ulekan dan talenan dari kayu. Kayu-kayu yang dijejer itu merupakan bahan baku pembutan talenan. Sedangkan untuk cobek dan ulekan berbahan baku dari batang pohon kelapa. Terutama, di bagian pangkalnya.

Pembuatan cobek dan talenan jadi aktivitas rutin warga di sana. Masing-masing rumah memiliki alat yang lengkap. Mulai alat untuk memotong kayu, menghaluskan hingga mesin bubut untuk membentuk menjadi barang yang diinginkan.

Salah satu perajin cobek di Dusun Betet adalah Susianik. Ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk di rumahnya, Anik –panggilannya- belum memulai produksi. “Sekarang masih dikirim barangnya. Jadi istirahat dulu produksinya,” kata Anik memulai pembicaraan.

Bersama Wiyono, sang suami, Anik menggantungkan hidup dari penjualan cobek, ulekan dan talenan. Begitu pula dengan kepala keluarga (KK) lain di dusun tersebut. Khususnya warga di rukun tetangga (RT) 13.

Untuk perajin talenan, total ada empat keluarga.Sedangkan perajin cobek dan ulekan sebanyak 7 KK. “Kalau saya tiga-tiganya (cobek, ulekan dan talenan),” lanjut perempuan 38 tahun ini.

Baca Juga :  Rombongan Ziarah Wali asal Ngronggot Kecelakaan, Dua Meninggal

Sebelum menjamur seperti sekarang, dulu pembuatan cobek dan ulekan diawali oleh Kamidi, warga setempat. Pada 1985, Kamidi menjadi perajin pertama di dusun tersebut. Kala itu, bahan baku masih mudah diperoleh di sekitar Desa Betet. Misalnya di Desa Klurahan, Ngronggot dan Desa Tanjungtani, Prambon. Setahun berikutnya atau pada 1986, warga mulai membuat talenan. Karena sukses, setelah itu warga lain mengikuti jejak Kamidi menjadi perajin cobek. Bagi warga di sana, tidak membutuhkan waktu lama untuk belajar membuat kerajinan tersebut.

Anik sendiri baru mengawalinya pada 2005 silam. Setelah menikah dengan Wiyono pada 1998, dia sempat berjualan aneka kue dan donat. Namun, usahanya itu gagal. Karena itu, dia kemudian banting setir menjadi perajin cobek seperti tetangganya yang lain.

Setelah menekuni kerajinan cobek, kehidupan ekonomi keluarganya semakin membaik. Saat ini, omzet Anik bisa mencapai sekitar Rp 8 juta setiap bulannya. “Ini sudah menjadi mata pencaharian kami,” terangnya.

Untuk memproduksi cobek dan ulekan, bahan baku yang disiapkan adalah bagian pangkal (dekat akar) dari pohon kelapa. Biasanya, dia membeli satu truk untuk persediaan produksi selama beberapa minggu. Satu truk berisi sekitar 50 batang.

Jika dulu warga bisa mendapat bahan baku dari Nganjuk, kini dia harus mencari hingga ke luar kota. Di antaranya dari Blitar dan Kediri. Biasanya, mereka sudah memesan batang pohon kelapa yang sudah ditebang. “Jadi nanti kami ambil sendiri bagian pangkalnya. Ongkosnya Rp 40 ribu per batangnya,” urai perempuan asal Kelurahan Bawang, Kota Kediri ini.

Baca Juga :  JPU Hadirkan 3 Saksi, Ungkap Kasus Curi Besi di Kediri

Dengan bantuan alat produksi, Anik bisa memproduksi sekitar 20 buah cobek setiap harinya. Sedangkan ulekan lebih banyak lagi. Setiap hari, dia bisa menyelesaikan sekitar 200 buah.

Hasil produksinya lantas dilempar ke pengepul. Ada pula yang langsung dijual ke pelanggan di Jombang dan Mojokerto. Berapa harganya? Untuk cobek, Anik membanderol variatif. Tergantung ukurannya.

Yang paling besar bisa sampai Rp 40 ribu. Kemudian, ukuran sedang dan kecil dihargai Rp 30 ribu dan Rp 20 ribu. Khusus untuk ulekan, harganya antara Rp 2.000 hingga Rp 3.000.

Jika ulekan dan cobek memakai kayu pohon kelapa, talenan memakai batang pohon mangga. Semua pohon mangga bisa jadi bahan baku. Asalkan diameter pohon sesuai. Mayoritas perajin mencari yang ukuran sekitar 90 sentimeter. “Ukuran itu bisa jadi tiga buah (telenan, Red),” beber Anik.

Yang menarik, setiap orang punya ukuran yang sama setiap kali produksi. Untuk satu talenan, panjangnya sekitar 30 sentimeter. Bagaimana bisa sama? Anik mengaku, hal itu terjadi secara alamiah. Masing-masing perajin melihat produk tetangga mereka. Hingga akhirnya perajin lainnya ikut membuat dengan ukuran yang sama.

Berbeda dengan cobek dan ulekan, agar hasilnya bagus, bahan baku talenan harus benar-benar kering. Makanya, perajin sering menjemurnya dulu di tepi jalan atau teras rumah.

Yang sudah kering bisa  segera diproses. Sekali produksi, Anik bisa menghasilkan sekitar 1.000 buah telenan. Harga jualnya sekitar Rp 2.500 per buah. “Memang murah. Alhamdulillah produk kami sudah dikenal di luar kota,” katanya senang. 

 

 

                 

 

- Advertisement -

Sejak puluhan tahun lalu, Dusun/Desa Betet, Kecamatan Ngronggot dikenal sebagai kampung cobek. Mayoritas warga di sana menjadi perajin cobek dan talenan dari kayu. Keterampilan turun-temurun itu sudah menjadi sumber kehidupan sehari-hari.

 

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Kampung Cobek dan Talenan lokasinya tidak jauh dari Balai Desa Betet, Kecamatan Ngronggot. Jaraknya hanya sekitar 200 meter. Masuk ke jalan kecil, deretan kayu dari pohon mangga tampak dijemur di depan teras rumah warga. Semakin ke selatan, jumlahnya makin banyak.

Ya, di Dusun Betet itu, sebagian besar warganya menjadi perajin cobek, ulekan dan talenan dari kayu. Kayu-kayu yang dijejer itu merupakan bahan baku pembutan talenan. Sedangkan untuk cobek dan ulekan berbahan baku dari batang pohon kelapa. Terutama, di bagian pangkalnya.

Pembuatan cobek dan talenan jadi aktivitas rutin warga di sana. Masing-masing rumah memiliki alat yang lengkap. Mulai alat untuk memotong kayu, menghaluskan hingga mesin bubut untuk membentuk menjadi barang yang diinginkan.

Salah satu perajin cobek di Dusun Betet adalah Susianik. Ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk di rumahnya, Anik –panggilannya- belum memulai produksi. “Sekarang masih dikirim barangnya. Jadi istirahat dulu produksinya,” kata Anik memulai pembicaraan.

Bersama Wiyono, sang suami, Anik menggantungkan hidup dari penjualan cobek, ulekan dan talenan. Begitu pula dengan kepala keluarga (KK) lain di dusun tersebut. Khususnya warga di rukun tetangga (RT) 13.

Untuk perajin talenan, total ada empat keluarga.Sedangkan perajin cobek dan ulekan sebanyak 7 KK. “Kalau saya tiga-tiganya (cobek, ulekan dan talenan),” lanjut perempuan 38 tahun ini.

Baca Juga :  JPU Hadirkan 3 Saksi, Ungkap Kasus Curi Besi di Kediri

Sebelum menjamur seperti sekarang, dulu pembuatan cobek dan ulekan diawali oleh Kamidi, warga setempat. Pada 1985, Kamidi menjadi perajin pertama di dusun tersebut. Kala itu, bahan baku masih mudah diperoleh di sekitar Desa Betet. Misalnya di Desa Klurahan, Ngronggot dan Desa Tanjungtani, Prambon. Setahun berikutnya atau pada 1986, warga mulai membuat talenan. Karena sukses, setelah itu warga lain mengikuti jejak Kamidi menjadi perajin cobek. Bagi warga di sana, tidak membutuhkan waktu lama untuk belajar membuat kerajinan tersebut.

Anik sendiri baru mengawalinya pada 2005 silam. Setelah menikah dengan Wiyono pada 1998, dia sempat berjualan aneka kue dan donat. Namun, usahanya itu gagal. Karena itu, dia kemudian banting setir menjadi perajin cobek seperti tetangganya yang lain.

Setelah menekuni kerajinan cobek, kehidupan ekonomi keluarganya semakin membaik. Saat ini, omzet Anik bisa mencapai sekitar Rp 8 juta setiap bulannya. “Ini sudah menjadi mata pencaharian kami,” terangnya.

Untuk memproduksi cobek dan ulekan, bahan baku yang disiapkan adalah bagian pangkal (dekat akar) dari pohon kelapa. Biasanya, dia membeli satu truk untuk persediaan produksi selama beberapa minggu. Satu truk berisi sekitar 50 batang.

Jika dulu warga bisa mendapat bahan baku dari Nganjuk, kini dia harus mencari hingga ke luar kota. Di antaranya dari Blitar dan Kediri. Biasanya, mereka sudah memesan batang pohon kelapa yang sudah ditebang. “Jadi nanti kami ambil sendiri bagian pangkalnya. Ongkosnya Rp 40 ribu per batangnya,” urai perempuan asal Kelurahan Bawang, Kota Kediri ini.

Baca Juga :  Lalu Lintas Padat, Traffic Light Belum Difungsikan

Dengan bantuan alat produksi, Anik bisa memproduksi sekitar 20 buah cobek setiap harinya. Sedangkan ulekan lebih banyak lagi. Setiap hari, dia bisa menyelesaikan sekitar 200 buah.

Hasil produksinya lantas dilempar ke pengepul. Ada pula yang langsung dijual ke pelanggan di Jombang dan Mojokerto. Berapa harganya? Untuk cobek, Anik membanderol variatif. Tergantung ukurannya.

Yang paling besar bisa sampai Rp 40 ribu. Kemudian, ukuran sedang dan kecil dihargai Rp 30 ribu dan Rp 20 ribu. Khusus untuk ulekan, harganya antara Rp 2.000 hingga Rp 3.000.

Jika ulekan dan cobek memakai kayu pohon kelapa, talenan memakai batang pohon mangga. Semua pohon mangga bisa jadi bahan baku. Asalkan diameter pohon sesuai. Mayoritas perajin mencari yang ukuran sekitar 90 sentimeter. “Ukuran itu bisa jadi tiga buah (telenan, Red),” beber Anik.

Yang menarik, setiap orang punya ukuran yang sama setiap kali produksi. Untuk satu talenan, panjangnya sekitar 30 sentimeter. Bagaimana bisa sama? Anik mengaku, hal itu terjadi secara alamiah. Masing-masing perajin melihat produk tetangga mereka. Hingga akhirnya perajin lainnya ikut membuat dengan ukuran yang sama.

Berbeda dengan cobek dan ulekan, agar hasilnya bagus, bahan baku talenan harus benar-benar kering. Makanya, perajin sering menjemurnya dulu di tepi jalan atau teras rumah.

Yang sudah kering bisa  segera diproses. Sekali produksi, Anik bisa menghasilkan sekitar 1.000 buah telenan. Harga jualnya sekitar Rp 2.500 per buah. “Memang murah. Alhamdulillah produk kami sudah dikenal di luar kota,” katanya senang. 

 

 

                 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/