23.8 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022
Array

Penghayat Sapta Darma di Kediri, Pasca Putusan MK

Kediri sudah sejak lama memiliki kelompok penghayat kepercayaan. Namun, keberadaannya tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas. Kini, mereka pun mulai bisa lebih terbuka dan berbaur dengan masyarakat.

 

RAMADANI WAHYU N.

 

Sebuah bangunan bercat hijau yang ada di Jalan Pandan Nomor 40, Pare, Kediri siang kemarin tampak sepi. Sekilas, bangunan itu sebenarnya tidak ada bedanya dengan bangunan lainnya yang ada di sekitarnya. Yang membedakan adalah ornamen yang ada di dalam bangunan tersebut. Itulah sanggar peribadatan bernama Sanggar Agung Candi Busana.

Begitu masuk, tampak karpet hijau menghampar. Di salah satu sisi dinding bangunan itu terpampang ornamen berupa simbol-simbol. Itu semua merupakan simbol-simbol dari Sapta Darma. Termasuk, ada pula foto pendiri ajaran tersebut, yakni Bapa Panutan Agung Sri Gutama dan Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang.

Tepat di tengah-tengah, ada sebuah gambar tokoh pewayangan Semar. Tidak sekadar gambar, ternyata Semar memiliki makna khusus. “Kami bukannya menyembah Semar atau apa, tapi Semar itu kan bukan laki-laki bukan perempuan, yang maknanya samar. Seperti itulah manusia dihadapan Allah,” ujar Ketua Penghayat Sapta Darma Yousep Dwi Saputro.

Yousep, begitu dia akrab disapa, kemarin mendampingi langsung Jawa Pos Radar Kediri di sanggar. Menurut dia, ajaran Sapta Darma ini diterima oleh Bapa Panutan Agung Sri Gutama di tahun 1910 ini hanya berlandaskan penerimaan wahyu. Ketika itu, nama sang pendiri masih Hardjosapoero, yang berprofesi sebagai tukang cukur di Pare, Kediri.

Lantas, ajaran itu terus berkembang hingga kini pengikutnya di Kediri sudah mencapai 1.000 orang. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Kota dan Kabupaten Kediri, melainkan ada pula yang berasal dari beberapa daerah yang ada di Indonesia. Kini, aliran kepercayaan ini memiliki kantor pusat di Jogjakarta. “Hampir di semua wilayah pasti ada sanggar,” paparnya.

Baca Juga :  Bisnis Keping CD Sumadi Kaset Bertahan di Era Revolusi Industri 4.0

Tentu ini sebuah kemajuan yang sangat pesat bagi penghayat aliran ini. Bahkan terakhir sejak ada Mahkamah Konstitusi (MK) melegalkan kepercayaan atau penghayat, Yousep semakin yakin bisa diterima masyarakat. “Sebenarnya kalau di Pare sendiri, Sapta Darma sudah dibilang sangat membaur dan tidak dianggap aliran sesat,” tuturnya.

Agaknya, Yousep merasa bahwa penerimaan nasib Sapta Darma di Pare berbeda jauh dengan di wilayah lain, seperti Jawa Barat. Di wilayah Jawa Barat, lanjutnya, para penghayat sudah bisa menuliskan kepercayaannya itu di KTP. Sedangkan di Pare, masih belum ada yang mencantumkannya. Dia lantas menunjukkan KTP-nya yang pada kolom agama masih dikosongkan.

Masalah keyakinan tentu merupakan masalah paling privasi dari kehidupan seseorang. Bagi Yousep, ia tak peduli dengan tetek bengek urusan administrasi pemerintahan. Terlepas ia juga membutuhkannya. Buktinya, ia rela mengosongkan kolom agama. “Ya, dulunya ketika Sapta Darma masih dianggap sebelah mata pasti mengalami kesulitan mengurus administrasi,” jelasnya.

Bahkan, menurut Yousep, beberapa jamaahnya juga ada yang masih takut mengosongkan kolom agama. Sehingga memilih untuk menuliskan agama lain di KTP. Padahal saban harinya ke sanggar. Begitu juga sebaliknya. Ada seseorang yang juga beribadah ke tempat peribadatan lain, tapi di lain waktu ke sanggar. “Tidak apa-apa, semua orang berhak memilih,” terangnya.

Agaknya Yousep selalu menanggapi sesuatu dengan santai. Barang kali ini juga menjadi doktrin dari Penghayat Sapta Darma untuk tidak mengajak ataupun memaksa seseorang untuk ikut dalam Sapta Darma. “Kami tidak melarang siapapun untuk belajar Sapta Darma ke sini, tapi kami tidak mengajak,” jelasnya.

Alhasil, menurut Yousep, beberapa tokoh agama Islam, Kristen, Katolik juga sering berkunjung ke sanggar. Beberapa di antaranya mengikuti menyembah, istilah yang digunakan untuk sujud atau beribadah dalam Sapta Darma. Acara menyembahpun dalam Sapta Darma harus diluangkan waktunya untuk beribadah. Harus ada waktu yang disiapkan untuk menyembah. Jadi pada saat sujud harus fokus, bukan memikirkan hal lain. “Semacam meditasi, dan tidak terbatas waktu” ujar Yousep.

Baca Juga :  Persik Mengontrak Jeam Kelly Lebih dari Satu Musim

Dalam sujud Sapta Darma itu, menurut Yousep selain membaca doa juga memusatkan fikiran pada Allah yang tunggal. Bukan yang lain. Bahkan dalam tataran tertinggi seseorang bisa manunggaling kawula dengan Allah. Tak ayal, beberapa tokoh agama sering berkunjung ke sini. “Mereka rata-rata belajar di sini tentang makrifat,” jelasnya.

Yousep mengaku bahwa ia sangat senang jika Sapta Darma bisa diterima oleh beberapa tokoh agama. Dalam istilah yang digunakannya, yaitu sinergis. “Ya senang kalau bisa sinergis dengan agama sekitar, saling toleransi begitu, Mbak,” ujarnya.

Lelaki berumur 35 tahun ini mengingatkan bahwa dalam penghayat Sapta Darma yang terpenting adalah lelaku dari seseorang. Dan hal itu yang biasa nampak ketika seseorang sedang sujud. Entah ia bisa meng-Esakan Allah atau tidak. Sujud menghadap ke timur yang selalu dilakukan warga Sapta Darma itu bukan sekadar sujud. “Kami bukan menyembah matahari, Mbak. Tapi kami yakin sumber kehidupan berasal dari timur,” ujarnya. Hal ini diwujudkan dengan sumber kehidupan dari matahari yang bisa menumbuhkan pepohonan, tumbuhan, adanya fotosintesis, hingga rantai makanan pada hewan dan manusia. Semuanya berasal dari arah timur.

Adapun sesanti atau semboyan Sapta Darma dalam basa Jawa berbunyi: Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga Sapta Darma kudu seminar pindha baskara (Di mana saja , kepada siapa saja, warga Sapta Darma harus senantiasa bersinar laksana surya). Sesanti ini bermakna bahwa setiap warga Sapta Darma diwajibkan untuk selalu siap membantu siapa saja yang memerlukan bantuan. “Kami tak pilih-pilih dalam membantu sesama,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

- Advertisement -

Kediri sudah sejak lama memiliki kelompok penghayat kepercayaan. Namun, keberadaannya tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas. Kini, mereka pun mulai bisa lebih terbuka dan berbaur dengan masyarakat.

 

RAMADANI WAHYU N.

 

Sebuah bangunan bercat hijau yang ada di Jalan Pandan Nomor 40, Pare, Kediri siang kemarin tampak sepi. Sekilas, bangunan itu sebenarnya tidak ada bedanya dengan bangunan lainnya yang ada di sekitarnya. Yang membedakan adalah ornamen yang ada di dalam bangunan tersebut. Itulah sanggar peribadatan bernama Sanggar Agung Candi Busana.

Begitu masuk, tampak karpet hijau menghampar. Di salah satu sisi dinding bangunan itu terpampang ornamen berupa simbol-simbol. Itu semua merupakan simbol-simbol dari Sapta Darma. Termasuk, ada pula foto pendiri ajaran tersebut, yakni Bapa Panutan Agung Sri Gutama dan Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang.

Tepat di tengah-tengah, ada sebuah gambar tokoh pewayangan Semar. Tidak sekadar gambar, ternyata Semar memiliki makna khusus. “Kami bukannya menyembah Semar atau apa, tapi Semar itu kan bukan laki-laki bukan perempuan, yang maknanya samar. Seperti itulah manusia dihadapan Allah,” ujar Ketua Penghayat Sapta Darma Yousep Dwi Saputro.

Yousep, begitu dia akrab disapa, kemarin mendampingi langsung Jawa Pos Radar Kediri di sanggar. Menurut dia, ajaran Sapta Darma ini diterima oleh Bapa Panutan Agung Sri Gutama di tahun 1910 ini hanya berlandaskan penerimaan wahyu. Ketika itu, nama sang pendiri masih Hardjosapoero, yang berprofesi sebagai tukang cukur di Pare, Kediri.

Lantas, ajaran itu terus berkembang hingga kini pengikutnya di Kediri sudah mencapai 1.000 orang. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Kota dan Kabupaten Kediri, melainkan ada pula yang berasal dari beberapa daerah yang ada di Indonesia. Kini, aliran kepercayaan ini memiliki kantor pusat di Jogjakarta. “Hampir di semua wilayah pasti ada sanggar,” paparnya.

Baca Juga :  Suminarwati, Pencetus Motif Batik Khas Kediri

Tentu ini sebuah kemajuan yang sangat pesat bagi penghayat aliran ini. Bahkan terakhir sejak ada Mahkamah Konstitusi (MK) melegalkan kepercayaan atau penghayat, Yousep semakin yakin bisa diterima masyarakat. “Sebenarnya kalau di Pare sendiri, Sapta Darma sudah dibilang sangat membaur dan tidak dianggap aliran sesat,” tuturnya.

Agaknya, Yousep merasa bahwa penerimaan nasib Sapta Darma di Pare berbeda jauh dengan di wilayah lain, seperti Jawa Barat. Di wilayah Jawa Barat, lanjutnya, para penghayat sudah bisa menuliskan kepercayaannya itu di KTP. Sedangkan di Pare, masih belum ada yang mencantumkannya. Dia lantas menunjukkan KTP-nya yang pada kolom agama masih dikosongkan.

Masalah keyakinan tentu merupakan masalah paling privasi dari kehidupan seseorang. Bagi Yousep, ia tak peduli dengan tetek bengek urusan administrasi pemerintahan. Terlepas ia juga membutuhkannya. Buktinya, ia rela mengosongkan kolom agama. “Ya, dulunya ketika Sapta Darma masih dianggap sebelah mata pasti mengalami kesulitan mengurus administrasi,” jelasnya.

Bahkan, menurut Yousep, beberapa jamaahnya juga ada yang masih takut mengosongkan kolom agama. Sehingga memilih untuk menuliskan agama lain di KTP. Padahal saban harinya ke sanggar. Begitu juga sebaliknya. Ada seseorang yang juga beribadah ke tempat peribadatan lain, tapi di lain waktu ke sanggar. “Tidak apa-apa, semua orang berhak memilih,” terangnya.

Agaknya Yousep selalu menanggapi sesuatu dengan santai. Barang kali ini juga menjadi doktrin dari Penghayat Sapta Darma untuk tidak mengajak ataupun memaksa seseorang untuk ikut dalam Sapta Darma. “Kami tidak melarang siapapun untuk belajar Sapta Darma ke sini, tapi kami tidak mengajak,” jelasnya.

Alhasil, menurut Yousep, beberapa tokoh agama Islam, Kristen, Katolik juga sering berkunjung ke sanggar. Beberapa di antaranya mengikuti menyembah, istilah yang digunakan untuk sujud atau beribadah dalam Sapta Darma. Acara menyembahpun dalam Sapta Darma harus diluangkan waktunya untuk beribadah. Harus ada waktu yang disiapkan untuk menyembah. Jadi pada saat sujud harus fokus, bukan memikirkan hal lain. “Semacam meditasi, dan tidak terbatas waktu” ujar Yousep.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata di Pegunungan Wilis (4)

Dalam sujud Sapta Darma itu, menurut Yousep selain membaca doa juga memusatkan fikiran pada Allah yang tunggal. Bukan yang lain. Bahkan dalam tataran tertinggi seseorang bisa manunggaling kawula dengan Allah. Tak ayal, beberapa tokoh agama sering berkunjung ke sini. “Mereka rata-rata belajar di sini tentang makrifat,” jelasnya.

Yousep mengaku bahwa ia sangat senang jika Sapta Darma bisa diterima oleh beberapa tokoh agama. Dalam istilah yang digunakannya, yaitu sinergis. “Ya senang kalau bisa sinergis dengan agama sekitar, saling toleransi begitu, Mbak,” ujarnya.

Lelaki berumur 35 tahun ini mengingatkan bahwa dalam penghayat Sapta Darma yang terpenting adalah lelaku dari seseorang. Dan hal itu yang biasa nampak ketika seseorang sedang sujud. Entah ia bisa meng-Esakan Allah atau tidak. Sujud menghadap ke timur yang selalu dilakukan warga Sapta Darma itu bukan sekadar sujud. “Kami bukan menyembah matahari, Mbak. Tapi kami yakin sumber kehidupan berasal dari timur,” ujarnya. Hal ini diwujudkan dengan sumber kehidupan dari matahari yang bisa menumbuhkan pepohonan, tumbuhan, adanya fotosintesis, hingga rantai makanan pada hewan dan manusia. Semuanya berasal dari arah timur.

Adapun sesanti atau semboyan Sapta Darma dalam basa Jawa berbunyi: Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga Sapta Darma kudu seminar pindha baskara (Di mana saja , kepada siapa saja, warga Sapta Darma harus senantiasa bersinar laksana surya). Sesanti ini bermakna bahwa setiap warga Sapta Darma diwajibkan untuk selalu siap membantu siapa saja yang memerlukan bantuan. “Kami tak pilih-pilih dalam membantu sesama,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/