29.1 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022
Array

Pemkab Klaim Tak Memiliki Wewenang Bangun Jembatan

NGANJUK – Perbaikan jembatan lama Kertosono dipastikan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, kewenangan perbaikan jembatan bersejarah itu ada di Pemprov Jatim. Karenanya, Pemkab Nganjuk baru akan mengusulkan perbaikan melalui dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR).

Kabag Humas Pemkab Nganjuk Agus Irianto mengatakan, perbaikan jembatan lama Kertosono merupakan tugas dan tanggung jawab Pemprov Jatim. Meski demikian, karena jembatan berada di Kabupaten Nganjuk, pemkab akan proaktif mengusulkan perbaikannya. “Kami akan tetap berupaya agar jembatan bisa diperbaiki,” kata Agus.       

Lebih jauh Agus mengatakan, pemkab melalui dinas PUPR akan mengusulkan perbaikan ke pemprov dalam waktu dekat. Meski demikian, pemkab tidak bisa menjamin apakah jembatan yang menjadi saksi perjuangan warga Nganjuk di era penjajahan itu bisa diperbaiki atau tidak.

Jika pemprov tidak mengucurkan anggaran, Agus tidak memungkiri jika nasib jembatan lama Kertosono bisa seperti jembatan Mrican di Kediri yang mangkrak. Seperti halnya jembatan lama Kertosono, jembatan di perbatasan Kota Kediri dan Kabupaten Kediri itu merupakan kewenangan pemprov.

Baca Juga :  Jatah CPNS Pemkab Mayoritas untuk Tenaga Pendidikan

Meski sudah ada jembatan baru, Agus tak memungkiri jika jembatan tersebut masih memiliki peran yang penting. Termasuk, sebagai alternatif jalan untuk mengurai kemacetan. Apalagi, masih banyak warga setempat yang menggunakannya karena dianggap lebih dekat dari lingkungan mereka.

Hal tersebut juga diakui oleh M Ferdi Setiawan. Siswa SMPN 2 Kertosono ini mengaku harus menempuh jarak yang lebih jauh setelah jembatan lama Kertosono ditutup Sabtu (03/2) lalu. “Saya harus memutar kalau berangkat ke sekolah. Sebelumnya bisa lewat jembatan lama,” kata Ferdi sembari menyebut dia harus menempuh jarak satu kilo meter lebih jauh dibanding sebelumnya.

Tak hanya dekat, Ferdi dan teman-temannya sengaja melewati jembatan lama karena lebih sepi dan dianggap aman untuk pesepeda. Sedangkan jembatan baru sudah ramai dengan lalu-lalang kendaraan besar. “Anak-anak SD juga banyak yang lewat sini,” lanjut pemuda yang kemari melihat kondisi jembatan yang ditutup itu.      

Baca Juga :  Alfamart Gelar Pelatihan Perbaikan Kualitas Produk

Dia pun berharap jembatan lama Kertosono bisa segera diperbaiki. Sehingga, warga bisa kembali memanfaatkan jembatan yang jadi jalur alternatif selama bertahun-tahun itu.   

Seperti diberitakan, jembatan lama Kertosono ditutup sejak Sabtu (03/2) lalu. Ini setelah tiang pancang jembatan di bagian tengah bergeser akibat derasnya aliran Sungai Brantas. Pergeseran tiang pancang itu membuat badan jembatan bagian tengah ambles.

Akibatnya, dari kejauhan konstruksi jembatan terlihat miring. Tidak hanya itu, badan jembatan di ujung timur sudah terpisah dari bagian tepi. Demikian juga ujung barat.

Kerusakan jembatan yang semakin parah itu membuat Pemkab Nganjuk dan polisi sepakat untuk menutupnya. Selain memasang garis polisi atau police line, warga setempat memasang papan dari anyaman bambu di kedua ujung jembatan. Hal tersebut menyusul masih banyaknya warga yang nekat melintas pascapenutupan.

- Advertisement -

NGANJUK – Perbaikan jembatan lama Kertosono dipastikan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, kewenangan perbaikan jembatan bersejarah itu ada di Pemprov Jatim. Karenanya, Pemkab Nganjuk baru akan mengusulkan perbaikan melalui dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR).

Kabag Humas Pemkab Nganjuk Agus Irianto mengatakan, perbaikan jembatan lama Kertosono merupakan tugas dan tanggung jawab Pemprov Jatim. Meski demikian, karena jembatan berada di Kabupaten Nganjuk, pemkab akan proaktif mengusulkan perbaikannya. “Kami akan tetap berupaya agar jembatan bisa diperbaiki,” kata Agus.       

Lebih jauh Agus mengatakan, pemkab melalui dinas PUPR akan mengusulkan perbaikan ke pemprov dalam waktu dekat. Meski demikian, pemkab tidak bisa menjamin apakah jembatan yang menjadi saksi perjuangan warga Nganjuk di era penjajahan itu bisa diperbaiki atau tidak.

Jika pemprov tidak mengucurkan anggaran, Agus tidak memungkiri jika nasib jembatan lama Kertosono bisa seperti jembatan Mrican di Kediri yang mangkrak. Seperti halnya jembatan lama Kertosono, jembatan di perbatasan Kota Kediri dan Kabupaten Kediri itu merupakan kewenangan pemprov.

Baca Juga :  Kasus Korupsi Jembatan Brawijaya Kediri: Ada Transfer Miliaran Rupiah

Meski sudah ada jembatan baru, Agus tak memungkiri jika jembatan tersebut masih memiliki peran yang penting. Termasuk, sebagai alternatif jalan untuk mengurai kemacetan. Apalagi, masih banyak warga setempat yang menggunakannya karena dianggap lebih dekat dari lingkungan mereka.

Hal tersebut juga diakui oleh M Ferdi Setiawan. Siswa SMPN 2 Kertosono ini mengaku harus menempuh jarak yang lebih jauh setelah jembatan lama Kertosono ditutup Sabtu (03/2) lalu. “Saya harus memutar kalau berangkat ke sekolah. Sebelumnya bisa lewat jembatan lama,” kata Ferdi sembari menyebut dia harus menempuh jarak satu kilo meter lebih jauh dibanding sebelumnya.

Tak hanya dekat, Ferdi dan teman-temannya sengaja melewati jembatan lama karena lebih sepi dan dianggap aman untuk pesepeda. Sedangkan jembatan baru sudah ramai dengan lalu-lalang kendaraan besar. “Anak-anak SD juga banyak yang lewat sini,” lanjut pemuda yang kemari melihat kondisi jembatan yang ditutup itu.      

Baca Juga :  Jatah CPNS Pemkab Mayoritas untuk Tenaga Pendidikan

Dia pun berharap jembatan lama Kertosono bisa segera diperbaiki. Sehingga, warga bisa kembali memanfaatkan jembatan yang jadi jalur alternatif selama bertahun-tahun itu.   

Seperti diberitakan, jembatan lama Kertosono ditutup sejak Sabtu (03/2) lalu. Ini setelah tiang pancang jembatan di bagian tengah bergeser akibat derasnya aliran Sungai Brantas. Pergeseran tiang pancang itu membuat badan jembatan bagian tengah ambles.

Akibatnya, dari kejauhan konstruksi jembatan terlihat miring. Tidak hanya itu, badan jembatan di ujung timur sudah terpisah dari bagian tepi. Demikian juga ujung barat.

Kerusakan jembatan yang semakin parah itu membuat Pemkab Nganjuk dan polisi sepakat untuk menutupnya. Selain memasang garis polisi atau police line, warga setempat memasang papan dari anyaman bambu di kedua ujung jembatan. Hal tersebut menyusul masih banyaknya warga yang nekat melintas pascapenutupan.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/