30.1 C
Kediri
Monday, August 8, 2022
Array

Ramadan Istimewa Bareng Rameyza (4)

Bukan hanya buka bersama di Masjid Nabawi yang ingin dirasakan para jamaah umrah Rameyza. Namun juga menunaikan salat Tarawih di sana.

 

Melaksanakan Tarawih di masjid nomor dua terbaik dunia itu juga menjadi pengalaman tersendiri bagi jamaah umrah Rameyza. Sebab perlu perjuangan yang tidak gampang agar bisa Tarawih di Masjid Nabawi dengan baik.

Para jamaah umrah dituntut pandai mengatur waktu selama berada di Madinah. Jika tidak kesempatan untuk memupuk pahala dengan memperbanyak ibadah di masjid Nabawi akan terlewatkan.

Ini tentu sangat tidak diinginkan oleh para jamaah. Sebisa mungkin mereka melaksanakan salat wajib dan salat sunah lainnya di masjid. Jeda antara waktu Magrib dan Isya di Madinah tidaklah banyak. Hanya sekitar 2 jam. Itupun masih di potong dengan waktu untuk berbuka di masjid, salat Magrib yang membutuhkan waktu sekitar setengah jam.

Belum lagi jika para jamaah umrah ingin menambah buka dengan makanan berat di hotel. Praktis waktu mereka hanya tinggal 1 jam saja sambil menunggu waktu Isya tiba. “Biasane mari buka ngantuk e teka,” kata Dodik Mustofa, salah satu jamaah umrah.

Memang jika ingin melaksanakan Tarawih di Masjid Nabawi, jamaah juga perlu mengatur makan. Jika porsi makannya di hotel habis banyak, maka bersiaplah untuk diserang ‘penyakit’ ngantuk. Apalagi setelah makan, leyeh-leyeh sejenak di kamar hotel, maka rasa kantuk akan cepat datang.

Baca Juga :  SDIT Bina Insani Bagi Takjil pada Masyarakat

Menahan kantuk adalah salah satu tantangan yang harus diatasi oleh para jamaah agar bisa ikut Tarawih di masjid. Mengingat Tarawih di Nabawi mulainya sekitar pukul 21.30 setelah Isya dimulai sekitar 20 menit sebelumnya.

Tarawih di jam tersebut memang bukan waktu yang biasa bagi jamaah asal Kediri seperti kami. Biasanya di Kediri, jam tersebut enak-enaknya buat leyeh leyeh menuju tidur malam.

Maka jangan kaget jika banyak jamaah utamanya dari Indonesia yang sering ‘angop’ waktu tarawih. Perjuangan bukan hanya melawan kantuk saja. Jamaah harus datang lebih awal jika ingin mendapatkan tempat di dalam. Karena ketika terlambat, maka harus siap siap kucing kucingan dengan petugas keamanan. Mereka tidak segan meminta jamaah untuk pindah agar tidak salat di sekitaran jalan dalam masjid yang biasa untuk lewat.

Ada juga jamaah yang langsung masuk ke dalam garis plastik (seperti police line) warna merah yang sengaja dipasang untuk pembatas agar jamaah tidak salat di luar garis. Jika beruntung, jamaah bisa melanjutkan ibadahnya. Tentu karena banyak yang menyerobot, garis yang awalnya lurus menjadi menggelembung. Butuh nekat dan keberanian demi bisa beribadah dalam masjid. Terkadang dibumbui dengan eyel-eyelan dengan petuhas keamanan. Karena selama salat para petugas terus berkeliling.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata Pegunungan Wilis (13)

Sebenarnya ada juga lantai 2 yang bisa dipakai untuk salat. Namun itu membutuhkan perjuangan yang tak ringan. Karena harus naik tangga yang cukup tinggi. Jika tidak biasa berolahraga maka sampai atas langsung ngos-ngosan. Sekitar 2,5 jam durasi salat tarawih di Masjid Nabawi. Maka jika tidak biasa, sekali lagi bakal sering angop.

Tapi ada trik lain juga agar mata tetap bisa melek dan bisa menyelesaikan Tarawih. Jika sudah ngantuk berat, selepas salam, maka bisa bergegas mengambil air minun. Bukan hanya melepas dahaga, tapi yang tak kalah penting bisa mengusap mata dengan sedikit zamzam. Dijamin langsung byarrr…apalagi jika airnya yang dingin. Makanya jika belum biasa salat Tarawih 2,5 jam, jangan jauh jauh dari tempat minum zamzam. Selamat berpuasa !

 

- Advertisement -

Bukan hanya buka bersama di Masjid Nabawi yang ingin dirasakan para jamaah umrah Rameyza. Namun juga menunaikan salat Tarawih di sana.

 

Melaksanakan Tarawih di masjid nomor dua terbaik dunia itu juga menjadi pengalaman tersendiri bagi jamaah umrah Rameyza. Sebab perlu perjuangan yang tidak gampang agar bisa Tarawih di Masjid Nabawi dengan baik.

Para jamaah umrah dituntut pandai mengatur waktu selama berada di Madinah. Jika tidak kesempatan untuk memupuk pahala dengan memperbanyak ibadah di masjid Nabawi akan terlewatkan.

Ini tentu sangat tidak diinginkan oleh para jamaah. Sebisa mungkin mereka melaksanakan salat wajib dan salat sunah lainnya di masjid. Jeda antara waktu Magrib dan Isya di Madinah tidaklah banyak. Hanya sekitar 2 jam. Itupun masih di potong dengan waktu untuk berbuka di masjid, salat Magrib yang membutuhkan waktu sekitar setengah jam.

Belum lagi jika para jamaah umrah ingin menambah buka dengan makanan berat di hotel. Praktis waktu mereka hanya tinggal 1 jam saja sambil menunggu waktu Isya tiba. “Biasane mari buka ngantuk e teka,” kata Dodik Mustofa, salah satu jamaah umrah.

Memang jika ingin melaksanakan Tarawih di Masjid Nabawi, jamaah juga perlu mengatur makan. Jika porsi makannya di hotel habis banyak, maka bersiaplah untuk diserang ‘penyakit’ ngantuk. Apalagi setelah makan, leyeh-leyeh sejenak di kamar hotel, maka rasa kantuk akan cepat datang.

Baca Juga :  Dibagi Dua Lotia dan Dimpimpin Kapiten

Menahan kantuk adalah salah satu tantangan yang harus diatasi oleh para jamaah agar bisa ikut Tarawih di masjid. Mengingat Tarawih di Nabawi mulainya sekitar pukul 21.30 setelah Isya dimulai sekitar 20 menit sebelumnya.

Tarawih di jam tersebut memang bukan waktu yang biasa bagi jamaah asal Kediri seperti kami. Biasanya di Kediri, jam tersebut enak-enaknya buat leyeh leyeh menuju tidur malam.

Maka jangan kaget jika banyak jamaah utamanya dari Indonesia yang sering ‘angop’ waktu tarawih. Perjuangan bukan hanya melawan kantuk saja. Jamaah harus datang lebih awal jika ingin mendapatkan tempat di dalam. Karena ketika terlambat, maka harus siap siap kucing kucingan dengan petugas keamanan. Mereka tidak segan meminta jamaah untuk pindah agar tidak salat di sekitaran jalan dalam masjid yang biasa untuk lewat.

Ada juga jamaah yang langsung masuk ke dalam garis plastik (seperti police line) warna merah yang sengaja dipasang untuk pembatas agar jamaah tidak salat di luar garis. Jika beruntung, jamaah bisa melanjutkan ibadahnya. Tentu karena banyak yang menyerobot, garis yang awalnya lurus menjadi menggelembung. Butuh nekat dan keberanian demi bisa beribadah dalam masjid. Terkadang dibumbui dengan eyel-eyelan dengan petuhas keamanan. Karena selama salat para petugas terus berkeliling.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata Pegunungan Wilis (13)

Sebenarnya ada juga lantai 2 yang bisa dipakai untuk salat. Namun itu membutuhkan perjuangan yang tak ringan. Karena harus naik tangga yang cukup tinggi. Jika tidak biasa berolahraga maka sampai atas langsung ngos-ngosan. Sekitar 2,5 jam durasi salat tarawih di Masjid Nabawi. Maka jika tidak biasa, sekali lagi bakal sering angop.

Tapi ada trik lain juga agar mata tetap bisa melek dan bisa menyelesaikan Tarawih. Jika sudah ngantuk berat, selepas salam, maka bisa bergegas mengambil air minun. Bukan hanya melepas dahaga, tapi yang tak kalah penting bisa mengusap mata dengan sedikit zamzam. Dijamin langsung byarrr…apalagi jika airnya yang dingin. Makanya jika belum biasa salat Tarawih 2,5 jam, jangan jauh jauh dari tempat minum zamzam. Selamat berpuasa !

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/