25.7 C
Kediri
Wednesday, August 17, 2022
Array

Perlakuan Khusus ABK

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Bersamaan dengan pengumuman kelulusan di kelompok SMA/SMK kemarin (3/5), siswa-siswa sekolah dasar (SD) justru memulai ‘perjuangan’-nya. Siswa kelas VI melangsungkan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) hari pertamanya.

Berbeda dengan kakak-kakanya di level sekolah menengah pertama (SMP) dan menengah atas (SMA), ujian kelompok SD itu tak berbasis komputer. Namun masih ujian berbasis kertas dan pensil.

Karena masih menggunakan metode ujian manual, belum terpantau kendala pada hari pertama kemarin. Baik itu di wilayah Kota maupun Kabupaten Kediri. Di wilayah kota, menurut Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Cevy Ning Suyudi, pelaksanaan USBN hari pertama berlangsung lancar. Sebab sejak awal mereka sudah mempersiapkan diri. Mulai dari sosialisasi tentang teknis pelaksanaan hingga tryout untuk menguji kesiapan para siswa.

“Semoga sampai ujian terakhir nanti tetap berlangsung lancar,” harap Cevy.

Para siswa kelas akhir SD tersebut bakal berkutat dengan ujian selama tiga hari. Masing-masing satu pelajaran per hari. Kemarin, mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Indonesia. Kemudian, hari ini bakal mengerjakan soal matematika. Dan esok hari, di hari terakhir, ada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA).

- Advertisement -

Menurut Cevy, untuk soal USBN ini soalnya saja di seluruh Jawa Timur. Komposisinya gabungan antara soal dari pusat dan provinsi. “Komposisi soal ujian terdiri dari 25 persen materi dari pusat dan 75 persen dari provinsi,” terang Cevy.

Baca Juga :  Rp 3,6 M untuk Kantor Kelurahan Kemasan, Dewan Anggap Terlalu Besar

Sementara itu, di antara ribuan siswa peserta USBN kemarin, juga ada beberapa siswa berkebutuhan khusus yang masuk dalam kelas inklusi. Berbeda dengan siswa lainnya, para ABK ini mendapat perlakukan khusus. Yaitu mendapat pendampingan dari para guru.

Salah satunya yang ada di SDN 1 Betet. Dari empat kelas yang digunakan untuk USBN, ada tiga kelas yang terselip siswa ABK. Walaupun mendapat pendampingan, namun para siswa itu berada dalam satu kelas yang sama.

“Kami campur atau terintegrasi dengan yang normal anak-anak ABK ini. Dan mereka bisa bergaul,” ujar Kepala SDN 1 Betet Sutyadi.

Sutyadi menerangkan, dari 60 siswa mulai kelas I sampai VI yang termasuk ABK, belasan di antaranya sudah kelas VI. Mereka pun harus mengikuti USBN.

Di antara mereka ada  yang berstatus lambat belajar. Rinciannya, yang ber-IQ di atas 70 sebanyak dua orang, yang ber-IQ 50 sebanyak 8 siswa, dan juga ABK down syndrome satu anak.

Juga ada siswa yang memiliki tuna ganda. Yaitu satu anak mengalami lambat belajar, hiperaktif, dan autis. “Untuk yang tuna ganda ini tidak bisa dijadikan satu dengan yang lainnya. Sehingga dia ujian sendiri didampingi guru pendampingnya dalam satu ruangan,” terangnya.

Baca Juga :  Siswa SMA Tak Lulus 100 Persen, Ini Sebabnya

Cara pendampingan ujian ini sudah berdasar koordinasi dengan pihak Disdik. Satu guru pendamping bertugas untuk dua ABK. Tugas guru pendamping hanya membantu mengisi data dan menjelaskan bila anak merasa kesulitan dalam memahami soal. “Tetapi untuk jawaban tetap anak tersebut yang menjawabnya,” ungkapnya.

Para ABK itu tetap mengerjakan soal yang sama dengan siswa lain. Namun, pihak sekolah memang tak membebani target terhadap mereka. Sebab, walaupun nanti sama-sama mendapat ijazah, statusnya berbeda. Bila siswa normal dinyatakan lulus, untuk ABK dinyatakan tamat.

Untuk para ABK ini lebih dikembangkan pada keterampilan di luar akademis. Setiap pembelajaran biasanya mulai pukul 07.00 sampai pukul 09.00 para siswa ABK terintegrasi dengan siswa normal lainnya. Namun di atas jam 09.00 mereka dipisah. Diajak belajar di luar kelas atau di gazebo agar lebih mengasah keterampilannya. “Kami ajarkan seni dan ketrampilan seperti membatik,” terang Sutyadi.

Masih menurut Sutyadi, soal USBN untuk ABK kemarin memang berbeda dengan saat pihaknya melakukan ujian sekolah (US) beberapa waktu lalu. Soal saat itu yang menyusun adalah tim guru pendamping. Sehingga dibuat menyesuaikan dengan kemampuannya. Soalnya harus tepat dengan ketunaanya. “Soal US saat itu ada gambar dan berwarna. Pokoknya ada visualnya agar memudahkan siswa ABK tersebut,” tegasnya. 

 

- Advertisement -

KEDIRI KOTA – Bersamaan dengan pengumuman kelulusan di kelompok SMA/SMK kemarin (3/5), siswa-siswa sekolah dasar (SD) justru memulai ‘perjuangan’-nya. Siswa kelas VI melangsungkan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) hari pertamanya.

Berbeda dengan kakak-kakanya di level sekolah menengah pertama (SMP) dan menengah atas (SMA), ujian kelompok SD itu tak berbasis komputer. Namun masih ujian berbasis kertas dan pensil.

Karena masih menggunakan metode ujian manual, belum terpantau kendala pada hari pertama kemarin. Baik itu di wilayah Kota maupun Kabupaten Kediri. Di wilayah kota, menurut Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Cevy Ning Suyudi, pelaksanaan USBN hari pertama berlangsung lancar. Sebab sejak awal mereka sudah mempersiapkan diri. Mulai dari sosialisasi tentang teknis pelaksanaan hingga tryout untuk menguji kesiapan para siswa.

“Semoga sampai ujian terakhir nanti tetap berlangsung lancar,” harap Cevy.

Para siswa kelas akhir SD tersebut bakal berkutat dengan ujian selama tiga hari. Masing-masing satu pelajaran per hari. Kemarin, mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Indonesia. Kemudian, hari ini bakal mengerjakan soal matematika. Dan esok hari, di hari terakhir, ada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA).

Menurut Cevy, untuk soal USBN ini soalnya saja di seluruh Jawa Timur. Komposisinya gabungan antara soal dari pusat dan provinsi. “Komposisi soal ujian terdiri dari 25 persen materi dari pusat dan 75 persen dari provinsi,” terang Cevy.

Baca Juga :  Dinas Pendidikan Kota Kediri Bagikan Dasi, Topi dan Ikat Pinggang

Sementara itu, di antara ribuan siswa peserta USBN kemarin, juga ada beberapa siswa berkebutuhan khusus yang masuk dalam kelas inklusi. Berbeda dengan siswa lainnya, para ABK ini mendapat perlakukan khusus. Yaitu mendapat pendampingan dari para guru.

Salah satunya yang ada di SDN 1 Betet. Dari empat kelas yang digunakan untuk USBN, ada tiga kelas yang terselip siswa ABK. Walaupun mendapat pendampingan, namun para siswa itu berada dalam satu kelas yang sama.

“Kami campur atau terintegrasi dengan yang normal anak-anak ABK ini. Dan mereka bisa bergaul,” ujar Kepala SDN 1 Betet Sutyadi.

Sutyadi menerangkan, dari 60 siswa mulai kelas I sampai VI yang termasuk ABK, belasan di antaranya sudah kelas VI. Mereka pun harus mengikuti USBN.

Di antara mereka ada  yang berstatus lambat belajar. Rinciannya, yang ber-IQ di atas 70 sebanyak dua orang, yang ber-IQ 50 sebanyak 8 siswa, dan juga ABK down syndrome satu anak.

Juga ada siswa yang memiliki tuna ganda. Yaitu satu anak mengalami lambat belajar, hiperaktif, dan autis. “Untuk yang tuna ganda ini tidak bisa dijadikan satu dengan yang lainnya. Sehingga dia ujian sendiri didampingi guru pendampingnya dalam satu ruangan,” terangnya.

Baca Juga :  Info UNBK Kediri: Kelulusan Otoritas Sekolah

Cara pendampingan ujian ini sudah berdasar koordinasi dengan pihak Disdik. Satu guru pendamping bertugas untuk dua ABK. Tugas guru pendamping hanya membantu mengisi data dan menjelaskan bila anak merasa kesulitan dalam memahami soal. “Tetapi untuk jawaban tetap anak tersebut yang menjawabnya,” ungkapnya.

Para ABK itu tetap mengerjakan soal yang sama dengan siswa lain. Namun, pihak sekolah memang tak membebani target terhadap mereka. Sebab, walaupun nanti sama-sama mendapat ijazah, statusnya berbeda. Bila siswa normal dinyatakan lulus, untuk ABK dinyatakan tamat.

Untuk para ABK ini lebih dikembangkan pada keterampilan di luar akademis. Setiap pembelajaran biasanya mulai pukul 07.00 sampai pukul 09.00 para siswa ABK terintegrasi dengan siswa normal lainnya. Namun di atas jam 09.00 mereka dipisah. Diajak belajar di luar kelas atau di gazebo agar lebih mengasah keterampilannya. “Kami ajarkan seni dan ketrampilan seperti membatik,” terang Sutyadi.

Masih menurut Sutyadi, soal USBN untuk ABK kemarin memang berbeda dengan saat pihaknya melakukan ujian sekolah (US) beberapa waktu lalu. Soal saat itu yang menyusun adalah tim guru pendamping. Sehingga dibuat menyesuaikan dengan kemampuannya. Soalnya harus tepat dengan ketunaanya. “Soal US saat itu ada gambar dan berwarna. Pokoknya ada visualnya agar memudahkan siswa ABK tersebut,” tegasnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/