25.5 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022
Array

Merasakan Nyantri Ramadan di Pondok Kapu (2)

Menjadi abdi dalem pondok bukan sekadar pilihan. Tapi komitmen. Menyiapkan makanan, pergi belanja, bersih-bersih pondok. Semuanya harus dijalani dengan ikhlas.

 

RAMADANI WAHYU N.

 

Gadis berjilbab ungu itu bernama Adinda Fitri. Dia serius mengupas bawang merah di hadapannya. Sesekali diusapnya matanya dengan kerudung. Membersihkan air mata, efek dari pedasnya kupasan bawang merah. Setelah itu dilanjutkannya pekerjaannya itu.

“Setiap hari begini Mbak, sudah biasa,” ujar Dinda, gadis asli Kalimantan Timur ini, tersipu malu.

Dinda memasak untuk persiapan berbuka puasa bagi teman-temannya. Tugas itu sudah lima tahun dia jalani. Dan memang, sejak awal dia sudha bertekad menjadi abdi pondok. Bukan sekadar santri biasa yang hanya mengaji.

Keinginan itu muncul ketika ia melihat di sekelilingnya banyak teman-temannya yang menjadi santri pondok. Tapi yang menjadi abdi sedikit. Selain itu, bagi Dinda, menjadi abdi lebih terasa berkahnya.

“Hanya mencari barokah Mbak,” aku gadis 19 tahun ini.

Dipilihnya Pondok Kapu juga bukan tanpa alasan. Ada beberapa temannya yang mondok di tempat ini. Selain itu, dia juga punya kerabat yang tinggal di Kediri.

Tak rindukah dengan kampung halaman? Dinda menjawab bahwa sebenarnya dia merindukan suasana kampung lahirnya. Namun, kehadiran saudara dan kerabatnya di sekitar sudah cukup untuk pengobat rasa rindu.

Baca Juga :  Kasus Pencabulan Anak di Kediri? Ini Faktanya

“Di sini teman-temannya banyak juga. Jadi tak merasa sendiri,” akunya.

Sebelum menjadi santri salaf, Dinda menjalani pendidikan formal di MA Hasan Muchyi. Mulai kelas X hingga XII. Setelah lulus dia mengajukan diri menjadi abdi pondok.

Sejatinya, Dinda sudah melakukan pekerjaan sebagai abdi sejak kelas X. Dan diakuinya, tak mudah merangkap pekerjaan belajar sekaligus menjadi abdi. Jadwal yang padat dan kewajiban sebagai seorang pelajar menyita waktunya. Dan, Dinda pun memang tak bisa menikmati waktu senggang sepulang sekolah seperti santri lain. Ketika santri lain istirahat atau tidur siang gadis berperawakan kurus ini sibuk menyiapkan makan malam.

“Biasanya kalau Ramadan ini saya bangun pukul 02.00 WIB. Lalu bersama abdi lain kami masak,” terangnya.

Sengaja masak di dini hari agar pukul 03.00 WIB santri yang lain bisa langsung sahur. Dinda bersama Eny Nur Rohmah, abdi yang lain, memasak untuk 30 santri. Jumlah demikian adalah jumlah santri yang ada di unit Al-Hajar.

Usai sahur bersama santri-santri, dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah. Berlanjut dengan sorogan Alquran. Dan selanjutnya mengaji kitab kuning. Adapun kitab kuning yang dipelajari yaitu kitab fasholatan, fiqih, tauhid, bidayah, serta terjemah hadis dan Alquran.

Baca Juga :  Bayu Skak dan Joshua Sapa Penggemar Kediri

Hal sama dirasakan oleh Eny Nur Rohmah. Abdi dalem asli Nganjuk ini fokus untuk menjadi abdi. Menurut Eny, selepas SMP dia langsung menjadi abdi. Tak melanjutkan ke jenjang MA. Gadis yang telah tiga tahun menjadi santri sekaligus abdi di Pondok Kapu mengaku senang menjalani perannya tersebut. “Senang, bisa belajar masak juga nanti. Kan di rumah tangga pasti diperlukan,” tuturnya.

Saat santri umum bersekolah, dia dan abdi lain pergi ke pasar. Berbelanja. “Kalau ndak gitu ya bersih-bersih ndalem (rumah, Red),” ungkapnya.

Ada berbagai macam masakan yang bisa ia buat. Seperti lodeh, sayur sop, sayur asam bening, sambal goreng, hingga lauk-pauk seperti perkedel dan bakwan. Ketika berbuka puasa di saat santri-santri lain makan di piringnya masing-masing. Hal berbeda dilakukan dua abdi ini. Mereka berbuka di lengser lebar. Di mana di dalamnya nasi dan sayur dicampur menjadi satu. Mereka makan bersama-sama alias kembul. “Seadanya mbak, yang penting bisa menikmati makanan sambil guyub,” pungkasnya.

- Advertisement -

Menjadi abdi dalem pondok bukan sekadar pilihan. Tapi komitmen. Menyiapkan makanan, pergi belanja, bersih-bersih pondok. Semuanya harus dijalani dengan ikhlas.

 

RAMADANI WAHYU N.

 

Gadis berjilbab ungu itu bernama Adinda Fitri. Dia serius mengupas bawang merah di hadapannya. Sesekali diusapnya matanya dengan kerudung. Membersihkan air mata, efek dari pedasnya kupasan bawang merah. Setelah itu dilanjutkannya pekerjaannya itu.

“Setiap hari begini Mbak, sudah biasa,” ujar Dinda, gadis asli Kalimantan Timur ini, tersipu malu.

Dinda memasak untuk persiapan berbuka puasa bagi teman-temannya. Tugas itu sudah lima tahun dia jalani. Dan memang, sejak awal dia sudha bertekad menjadi abdi pondok. Bukan sekadar santri biasa yang hanya mengaji.

Keinginan itu muncul ketika ia melihat di sekelilingnya banyak teman-temannya yang menjadi santri pondok. Tapi yang menjadi abdi sedikit. Selain itu, bagi Dinda, menjadi abdi lebih terasa berkahnya.

“Hanya mencari barokah Mbak,” aku gadis 19 tahun ini.

Dipilihnya Pondok Kapu juga bukan tanpa alasan. Ada beberapa temannya yang mondok di tempat ini. Selain itu, dia juga punya kerabat yang tinggal di Kediri.

Tak rindukah dengan kampung halaman? Dinda menjawab bahwa sebenarnya dia merindukan suasana kampung lahirnya. Namun, kehadiran saudara dan kerabatnya di sekitar sudah cukup untuk pengobat rasa rindu.

Baca Juga :  Bayu Skak dan Joshua Sapa Penggemar Kediri

“Di sini teman-temannya banyak juga. Jadi tak merasa sendiri,” akunya.

Sebelum menjadi santri salaf, Dinda menjalani pendidikan formal di MA Hasan Muchyi. Mulai kelas X hingga XII. Setelah lulus dia mengajukan diri menjadi abdi pondok.

Sejatinya, Dinda sudah melakukan pekerjaan sebagai abdi sejak kelas X. Dan diakuinya, tak mudah merangkap pekerjaan belajar sekaligus menjadi abdi. Jadwal yang padat dan kewajiban sebagai seorang pelajar menyita waktunya. Dan, Dinda pun memang tak bisa menikmati waktu senggang sepulang sekolah seperti santri lain. Ketika santri lain istirahat atau tidur siang gadis berperawakan kurus ini sibuk menyiapkan makan malam.

“Biasanya kalau Ramadan ini saya bangun pukul 02.00 WIB. Lalu bersama abdi lain kami masak,” terangnya.

Sengaja masak di dini hari agar pukul 03.00 WIB santri yang lain bisa langsung sahur. Dinda bersama Eny Nur Rohmah, abdi yang lain, memasak untuk 30 santri. Jumlah demikian adalah jumlah santri yang ada di unit Al-Hajar.

Usai sahur bersama santri-santri, dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah. Berlanjut dengan sorogan Alquran. Dan selanjutnya mengaji kitab kuning. Adapun kitab kuning yang dipelajari yaitu kitab fasholatan, fiqih, tauhid, bidayah, serta terjemah hadis dan Alquran.

Baca Juga :  Dinkes Kediri Genjot Tracing untuk Deteksi Omicron

Hal sama dirasakan oleh Eny Nur Rohmah. Abdi dalem asli Nganjuk ini fokus untuk menjadi abdi. Menurut Eny, selepas SMP dia langsung menjadi abdi. Tak melanjutkan ke jenjang MA. Gadis yang telah tiga tahun menjadi santri sekaligus abdi di Pondok Kapu mengaku senang menjalani perannya tersebut. “Senang, bisa belajar masak juga nanti. Kan di rumah tangga pasti diperlukan,” tuturnya.

Saat santri umum bersekolah, dia dan abdi lain pergi ke pasar. Berbelanja. “Kalau ndak gitu ya bersih-bersih ndalem (rumah, Red),” ungkapnya.

Ada berbagai macam masakan yang bisa ia buat. Seperti lodeh, sayur sop, sayur asam bening, sambal goreng, hingga lauk-pauk seperti perkedel dan bakwan. Ketika berbuka puasa di saat santri-santri lain makan di piringnya masing-masing. Hal berbeda dilakukan dua abdi ini. Mereka berbuka di lengser lebar. Di mana di dalamnya nasi dan sayur dicampur menjadi satu. Mereka makan bersama-sama alias kembul. “Seadanya mbak, yang penting bisa menikmati makanan sambil guyub,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/