Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mudik dan Attention Economy

Kurniawan Muhammad • Rabu, 18 Maret 2026 | 08:59 WIB

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Mudik identik dengan lebaran. Saya, Anda, mungkin termasuk yang selalu mudik di saat menjelang lebaran. Dalam perspektif ekonomi nasional, di saat terjadi arus mudik, maka terjadilah momentum lonjakan konsumsi terbesar di Indonesia. Ini yang disebut dengan “peak season economy”. Tahun 2023, merujuk dari data yang ada, jumlah pemudik saat itu mencapai 123 juta orang. Perputaran ekonomi mencapai lebih dari Rp 100 triliun.

Tahun 2024, jumlah pemudik meningkat menjadi 193 juta orang. Saat itu, angka ini disebut rekor tertinggi. Perputaran uang mencapai Rp 157,3 triliun.

Nah, yang menarik, terjadi penurunan jumlah pemudik pada 2025. Saat itu, menjadi 146 juta pemudik. Turun sekitar 24 persen dibandingkan tahun 2024. Ini menyebabkan penurunan perputaran uang di kisaran Rp 137 triliun - Rp 145 triliun. Mengapa terjadi penurunan? Para analis menyebutkan di antaranya karena terjadi penurunan daya beli di masyarakat, sedangkan pada sisi lain biaya mudik meningkat.

Bagaimana dengan fenomena mudik tahun ini? Masih belum ada data yang bisa diambil sebagai patokan untuk menjawabnya.

Yang jelas, fenomena mudik bukan sekadar mobilitas manusia dalam jumlah besar. Ini adalah sebuah peristiwa sosial-ekonomi yang kompleks, dimana ratusan juta orang bergerak secara serempak. Yang dibawa bukan hanya tubuh mereka. Tetapi juga emosi, cerita, dan yang paling penting dalam konteks hari ini adalah perhatian (attention).

Dalam lanskap ekonomi digital modern, attention telah berubah menjadi komoditas paling berharga. Ini lah yang oleh para ahli disebut sebagai “attention economy” (saya akan menjelaskan lebih lanjut fenomena ini di tulisan berikutnya). Ini adalah sebuah kondisi, dimana kelangkaan bukan lagi pada informasi. Melainkan pada perhatian manusia terhadap informasi tersebut.

Jika dikaitkan dengan fenomena mudik, fenomena tersebut dapat dibaca sebagai sebuah arena besar, dimana berbagai aktor, brand, platform digital, media, hingga pelaku UMKM, semuanya saling berkompetisi untuk merebut, mengelola, dan mengkonversi perhatian publik menjadi nilai ekonomi.

Dalam masyarakat digital, manusia dibanjiri oleh informasi yang tiada henti. Namun, waktu dan fokus tetap lah terbatas. Di sini lah “perhatian” menjadi aset strategis. Selama Ramadhan dan menjelang lebaran, terjadi lonjakan signifikan aktivitas digital. Mulai dari pencarian informasi, konsumsi video, hingga interaksi di media sosial. Bahkan, perilaku konsumsi masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar keputusan pembelian dipengaruhi oleh “touchpoint digital”, seperti mesin pencari dan platform video.

Fenomena ini semakin intens selama periode mudik. Saat orang berada di perjalanan panjang, apakah di mobil, kereta atau bandara, mereka memiliki satu kesamaan: yaitu waktu luang yang besar dan kebutuhan akan hiburan, informasi, serta koneksi emosional. Ini lah “ladang perhatian” yang diperebutkan oleh berbagai brand.

Dengan kata lain, fenomena mudik menciptakan kondisi unik. Di antaranya: orang lebih banyak beraktivitas online, orang lebih emosional, dan orang lebih terbuka terhadap pesan baru. Dalam hal ini, perhatian menjadi sangat cair dan mudah berpindah. Brand yang mampu hadir pada momen yang tepat, akan memenangkan permainan. Data menunjukkan, bahwa selama Ramadhan, konsumsi video meningkat signifikan. Bahkan pada waktu-waktu spesifik seperti sahur dan berbuka. Aktivitas digital meningkat, dan iklan digital memiliki tingkat efektivitas tinggi dalam mempengaruhi keputusan pembelian.

Jadi, mudik bukan hanya tentang perjalanan fisik. Tetapi juga tentang “perjalanan perhatian” (attention journey). Mudik juga bukan sekadar tradisi budaya. Melainkan sebuah siklus ekonomi tahunan yang mampu menggerakkan konsumsi nasional, mendistribusikan pendapatan ke daerah, dan menciptakan peluang besar bagi strategi marketing berbasis momentum.

Alhamdulillah, media multiplatform yang saya pimpin, mengacu pada tahun-tahun sebelumnya, selalu mendapatkan “berkah-nya” fenomena mudik. Semoga mudik tahun ini “berkah-nya” bagi kami meningkat dibandingkan tahun lalu. Bagaimana dengan Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Shinta Nurma Ababil
#radar kediri #ekonomi #Hari Raya Idulfitri #mudik lebaran #opini #mudik #lebaran