Ternyata ada ASI (Air Susu Ibu) berbentuk tablet. Maksudnya, ada tablet yang fungsinya untuk melancarkan (booster) ASI. Namanya: “Mom Uung”. Tahun ini, produk tersebut berhasil menjadi juara pertama di ajang “Exceptional Performance in e-Commerce (EPIC) Award” Jumat pekan lalu (13/2). Award ini diberikan kepada produk yang dianggap sukses mencapai nilai penjualan tertinggi, dan punya strategi dan kampanye digital yang inovatif dan berdampak. Data penjualan yang dipakai adalah yang dipesan melalui platfom marketplace, mulai dari Shopee, Tokopedia, dan Blibi.
Di tahun 2025, “Mom Uung” mencetak terobosan besar. Angka penjualannya meningkat tajam, dari nol penjualan di awal 2024 hingga mencapai rekor tertinggi hampir Rp 4 miliar per Agustus 2025.
Anda yang belum familiar dengan produk ini, berikut informasinya:
“Mom Uung” adalah brand lokal Indonesia yang bergerak di bidang kesehatan ibu dan anak. Khususnya untuk mendukung proses menyusui. Produk yang ditawarkan selain ASI Booster, juga menyediakan pompa ASI, kantong ASI dan produk nutrisi untuk ibu menyusui. Brand ini dikelola oleh sebuah perusahaan yang berbasis di Surabaya, dan berdiri sejak 2019.
Latar belakang pendirian “Mom Uung” cukup menarik. Yakni dari pengalaman personal sang founder yang saat itu mengalami kesulitan dalam menyusui. Problem yang dialami mulai dari produksi ASI yang tidak lancar, hingga kurangnya informasi dan dukungan. Dari pengalaman itu lah, dia menyadari bahwa banyak ibu lain yang bisa jadi mengalami masalah serupa. Hal ini mendorongnya untuk menciptakan solusi berupa produk ASI Booster berbahan herbal, dan berbentuk tablet.
“Mom Uung” menegaskan, bahwa mereka hadir bukan sekadar menjual produk. Tapi menjadi sahabat bagi para pejuang ASI. Fokus utama “Mom Uung” adalah membantu ibu agar dapat memberikan ASI secara optimal, karena ASI dianggap sebagai nutrisi terbaik bagi pertumbuhan dan kecerdasan anak.
Dalam konteks marketing, “Mom Uung” menggunakan strategi “Solution-Oriented Marketing”. Mereka tidak hanya memposisikan diri sebagai penjual, tetapi sebagai problem solver. “Kami hadir sebagai solusi” begitu lah kira-kira tagline brand-nya. Ini sejalan dengan konsep “value proposition marketing”, dimana produk hanyalah alat, sementara yang dijual adalah solusi.
Merujuk pada strategi yang diusung “Mom Uung”, berarti marketing itu tidak hanya menjual produk. Tapi harus bisa mengidentifikasi masalah pelanggan dan pasar. Manfred Bruhn, Professor of Marketing and Management dari University of Basel (Swiss) menyebutnya sebagai “Problem and Solution Approach”. Konsep ini dia jelaskan dalam bukunya “Principles of Marketing”.
Dalam buku tersebut Bruhn menekankan dua hal: Pertama, marketing harus bisa dijadikan sebagai analisis masalah (problem analysis). Berarti, dalam hal ini, marketing harus bisa digunakan untuk mengidentifikasi masalah pelanggan dan pasar. Kedua, marketing harus menjadi pencipta solusi (solution development). Artinya, marketing harus mampu menghasilkan solusi praktis, bukan sekadar konsep teoritis.
Lebih lanjut Bruhn menjelaskan, bahwa marketing adalah bagian dari manajemen perusahaan secara keseluruhan. Sehingga perusahaan harus bisa membaca masalah pasar, lalu meresponnya dengan strategi. Nilai semata-mata bukan terletak pada produk. Tetapi pada solusi yang dirasakan oleh pelanggan.
Pendekatan “problem-solution” yang ditawarkan Bruhn, pada dasarnya mengajak kita untuk kembali pada hakekat marketing. Yaitu: memahami manusia. Saya sering mengatakan kepada tim marketing saya, bahwa marketing itu sesungguhnya adalah “ilmu manusia”. Ilmu memahami manusia.
Di balik setiap transaksi yang terjadi, selalu ada kebutuhan, harapan, bahkan kegelisahan yang ingin diselesaikan. Ketika sebuah brand mampu menangkap realitas tersebut (kebutuhan, harapan, dan kegelisahan customer), maka hubungan antara produk dan customer tidak lagi bersifat transaksional. Melainkan menjadi relasi yang bermakna.
Pendekatan ini, menuntut pelaku bisnis untuk terus adaptif terhadap perubahan. Ingat, masalah konsumen atau customer itu tidak pernah statis. Melainkan terus berkembang seiring perubahan zaman, teknologi dan pola hidup. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk tidak hanya inovatif dalam menciptakan produk. Tetapi juga harus sensitif dalam membaca dinamika kebutuhan pasar.
Ketajaman dalam memahami masalah, menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah brand tidak ditentukan oleh seberapa canggih produknya. Tetapi ditentukan oleh seberapa besar dampak solusi yang diberikan kepada konsumennya.
Brand yang mampu menghadirkan solusi yang tepat akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan, loyalitas, bahkan advokasi dari pelanggan. Di sinilah letak kekuatan sejati dari pendekatan “problem–solution” dalam marketing modern.
Karena pada akhirnya, bisnis yang bertahan bukanlah yang paling banyak menjual, tetapi yang paling mampu memahami dan menyelesaikan masalah manusia. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah