Apa istimewanya “Brownies Kukus Amanda”? Ini adalah salah satu produk kue yang menerapkan jurus “Reverse Thinking” alias berpikir terbalik. Jika merujuk pada proses pembuatannya, harusnya nama untuk kue ini adalah: “Bolu-Kukus Brownies”. Sebab, menurut cerita, resep asli kue ini adalah “Bolu Kukus”. Selanjutnya dikembangkan dan disempurnakan menjadi produk andalan: “Brownies Kukus Amanda”. Nama “Amanda” merupakan akronim dari “Anak Menantu Damai”.
Andaikata produk ini dipromosikan dengan nama “Bolu-Kukus Brownies” merujuk pada proses pembuatannya, mungkin konsumen tidak akan penasaran. Tapi, ketika namanya dibalik, yakni menjadi “Brownies” yang “Dikukus”, maka benak konsumen menjadi bertanya-tanya. Karena “Brownies” yang biasanya dipanggang, menjadi luar biasa, dengan pakem yang menyalahi kebiasaan itu. Ini lah jurus “Reverse Thinking” yang bisa diterapkan dalam marketing.
Beberapa produk dunia yang pernah menjadi trend global, juga menerapkan jurus “berpikir terbalik”. Ketika dulu jam-jam digital Jepang yang relatif murah menyerang pasar global, industri jam di Swiss nyaris bangkrut. Satu perusahaan kemudian berpikir terbalik menciptakan “Swatch” atau “Swiss Watch”, yang trendi itu. “Swatch” tidak menjadi arloji biasa. Orang membeli “Swatch” bukan karena mutunya sangat akurat menunjukkan waktu. Tapi semata-mata karena “Swatch” menjadi aksesoris fashion. Kala itu, menjadi sebuah trend baru yang bentuknya jam tangan. Tak heran, apabila orang kemudian mengoleksi “Swatch” sama seperti orang mengoleksi tas, jaket, dan sepatu.
Produk lain yang juga menggunakan jurus “Reverse Thinking” adalah Heinz, produsen saus tomat di Amerika. Ketika itu, produk saus tomat sempat mengalami pertumbuhan yang mandeg alias tidak tumbuh secara baik dari tahun ke tahun, semata-mata karena penetrasi pasar saus tomat di Amerika sudah mencapai hampir 100 persen. Maka, Heinz mencoba mencari sebuah solusi terobosan.
Secara tradisional, kalau Heinz ingin meningkatkan penjualan, maka dia harus berpromosi agar konsumen mengkonsumsi lebih banyak saus tomat. Misalnya, saus tomat dijadikan saus pendamping di makanan-makanan lainnya. Ini cara berpikir yang normal.
Tapi, Heinz menerapkan jurus “berpikir terbalik”. Berangkat dari sebuah pertanyaan: “Mungkinkah saus tomat dipakai untuk konsumsi yang berbeda?” Di dalam survei dan observasi, terutama di gerai-gerai masakan siap saji, ternyata ditemukan anak-anak sering menggunakan saus tomat secara berlebihan, untuk dijadikan permainan. Misalnya, ketika makan kentang goreng, saus tomat dicorat-coret menjadi bentuk lukisan. Hal ini lah yang lantas memotivasi cara berpikir Heinz untuk “berpikir terbalik”. Yakni, mengubah fungsi saus tomat.
Akhirnya Heinz mendesain ulang botol saus tomat, dengan menggunakan bahan plastik dengan moncong yang lebih runcing, sehingga memudahkan anak-anak untuk menggunakannya. Dengan bentuk botol seperti itu, maka anak-anak menemukan saus tomat Heinz lebih asyik untuk dipermainkan atau dijadikan alat untuk melukis. Heinz kemudian juga menciptakan saus tomat dengan warna baru, yaitu biru, hijau dan ungu. Anak-anak pun merasa gembira karena mereka punya mainan baru, saus tomat aneka warna. Ibu-ibu mulanya kesal dengan ulah Heinz ini. Tapi, kemudian mereka ikut arus. Anak-anak yang semula susah makan menjadi lebih mudah makan, karena menemukan bahwa makan bisa menjadi rekreasi baru. Celakanya, ibu-ibu yang tadinya hanya membeli satu botol saus tomat, menjadi harus membeli 2-3 botol saus tomat. Maka, dalam seketika penjualan saus tomat Heinz menjadi berlipat ganda. Tumbuh dengan lebih cepat, berkat pemikiran yang tidak normal itu.
Satu lagi contoh produk yang menggunakan jurus “berpikir terbalik” adalah Puma, produsen alat-alat olah raga. Yakni ketika mereka ingin menciptakan produk-produk eksklusif. Diciptakan lah serangkaian produk yang ditujukan untuk eksekutif yang menggunakan merek baru “96 hours”. Produk-produk “96 hours” sangat revolusioner, dimana produk Puma dijual dalam satu koper kecil, praktis, yang memungkinkan seorang eksekutif bepergian selama 4 hari (96 jam), tapi memiliki pakaian lengkap hingga sepatu lengkap. Yang menarik, ketika “96 hours” pertama kali dikenalkan kepada publik, tidak dipromosikan secara gencar dan luas. Tapi dirahasiakan dan dipromosikan hanya dari mulut ke mulut. Hasilnya, “96 hours” jauh lebih cepat terkenal dan menyebar, dibandingkan apabila mereka diiklankan. “96 hours” menciptakan rasa penasaran yang begitu besar di kalangan eksekutif.
Nah, siapkah kita menerapkan jurus “Reverse Thinking” alias “Berpikir Terbalik” dalam mengembangkan bisnis kita? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah