Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
JP Radar Kediri– Pernahkah kamu merasa lelah dengan tumpukan pekerjaan atau cemas melihat harga kebutuhan pokok yang terus naik, lalu pelariannya justru checkout keranjang belanja online?
Hati-hati, bisa jadi kamu sedang terjangkit fenomena Doom Spending.
Istilah ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sebuah perilaku ekonomi yang dipicu oleh kondisi mental.
Secara sederhana, doom spending adalah kebiasaan menghabiskan uang secara impulsif untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, hanya demi mendapatkan kesenangan sesaat di tengah rasa putus asa akan masa depan.
Baca Juga: Fenomena Curhat ke AI di Kalangan Anak Muda, Apa Alasannya?
Bukan Sekadar Boros, Ada Masalah Financial Defeatism
Mengacu pada kajian ilmiah dalam jurnal ekonomi kontemporer (Ekopedia), fenomena ini berakar dari kondisi psikologis yang disebut Financial Defeatism atau keputusasaan finansial.
Ini adalah kondisi di mana seseorang merasa bahwa target finansial jangka panjang, seperti memiliki rumah atau tabungan hari tua sudah mustahil untuk dicapai karena situasi ekonomi yang sulit.
Akibatnya, logika mereka bergeser: "Daripada menabung bertahun-tahun tapi tetap tidak bisa beli rumah, lebih baik uangnya dipakai untuk kopi mahal, baju baru, atau tiket konser sekarang juga."
Dopamin Instan di Tengah Gempuran Media Sosial
Penelitian juga menunjukkan bahwa media sosial memainkan peran besar melalui fenomena FoMO (Fear of Missing Out).
Tekanan untuk terlihat "eksis" dan sukses secara finansial di dunia maya membuat banyak anak muda terjebak dalam belanja impulsif.
Secara biologis, saat melakukan doom spending, otak melepaskan hormon Dopamin. Hormon ini memberikan rasa puas dan bahagia yang instan, yang berfungsi sebagai "obat penenang" sementara terhadap kecemasan masa depan.
Sayangnya, efek ini hanya bertahan sebentar, dan seringkali diikuti oleh rasa bersalah (buyer’s remorse) saat melihat saldo rekening yang menipis.
Jebakan Kemudahan Transaksi Digital
Tren ini semakin diperparah dengan kemudahan akses layanan keuangan digital seperti Paylater dan E-wallet.
Kemudahan "beli sekarang bayar nanti" sering kali menjadi bensin bagi api doom spending.
Banyak yang tidak sadar bahwa kenikmatan sesaat ini justru menjerat mereka dalam siklus utang yang berkepanjangan.
5 Strategi Memutus Siklus Doom Spending
1. Sadari Pemicu Emosional
Langkah pertama adalah jujur pada diri sendiri. Kenali apakah keinginan belanja muncul karena kebutuhan mendesak atau sekadar pelarian saat stres.
Apakah kamu sedang tertekan karena pekerjaan atau merasa minder setelah melihat unggahan orang lain? Mengenali emosi ini adalah 50% solusi untuk berhenti menjadikan belanja sebagai "obat penenang".
2. Terapkan Aturan Jeda 48 Jam
Jangan langsung checkout. Saat menginginkan barang yang bukan kebutuhan pokok, masukkan ke keranjang belanja lalu tinggalkan selama dua hari.
Jika setelah 48 jam keinginan itu hilang, itu bukti bahwa dorongan tersebut hanyalah reaksi emosional sesaat yang dipicu oleh hormon dopamin.
3. Hapus Pemicu Digital
Jika godaan datang dari notifikasi promo atau akun yang hobi pamer barang mewah, segera ambil tindakan.
Unfollow akun yang memicu rasa "haus belanja" atau matikan notifikasi aplikasi e-commerce. Menjauhkan pandangan dari pemicu adalah cara efektif untuk menjaga kestabilan dompet.
4. Berlatih Mindful Spending
Jadilah pembelanja yang sadar dengan memberikan pertanyaan kritis sebelum membayar: "Apakah barang ini prioritas atau sekadar keinginan sesaat?".
Kebiasaan berpikir sebelum membeli ini akan mengurangi belanja impulsif yang seringkali berakhir dengan rasa menyesal.
5. Cari Sumber Dopamin Gratis yang Sehat
Dopamin (hormon bahagia) tidak harus dibeli. Alih-alih belanja saat cemas, cobalah aktivitas pengganti yang meredakan stres tanpa biaya, seperti olahraga ringan, meditasi, menekuni hobi kreatif, atau sekadar bercakap-cakap dengan teman dekat.
Aktivitas ini memberikan rasa lega yang lebih sehat dan bertahan lama.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Memilih Diam? Fenomena Silent Majority
Fenomena doom spending memang terasa menggoda sebagai "pelarian" instan. Namun, memanjakan dopamin sesaat dengan mengorbankan keamanan finansial jangka panjang bukanlah solusi bijak.