JP Radar Kediri - Istilah warna hijau miskin belakangan ini menjadi viral di media sosial dan sering digunakan dalam berbagai konteks, terutama dalam perbincangan mengenai estetika rumah dan tingkat ekonomi masyarakat. Sebutan ini merujuk pada warna hijau tertentu yang sering ditemukan pada rumah-rumah sederhana, kontrakan, dan kos-kosan. Namun, bagaimana sebenarnya asal-usul istilah ini?
Istilah ini muncul karena warna hijau yang sering digunakan sebagai cat dinding di rumah-rumah dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Warna hijau yang dimaksud biasanya adalah Green Gecko, yaitu hijau muda yang cerah. Warna ini sering dipilih karena memberikan kesan segar dan alami, menyerupai warna tumbuhan dan tanaman.
Namun, seiring waktu, warna ini mulai dikaitkan dengan rumah-rumah yang sederhana dan sering ditemukan di daerah dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah. Akibatnya, muncul stereotipe bahwa warna hijau ini adalah warna miskin, meskipun sebenarnya pemilihannya lebih didasarkan pada faktor harga dan ketersediaan.
Salah satu faktor yang memperkuat penggunaan warna hijau ini adalah Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Program ini bertujuan untuk membangun daerah-daerah tertinggal di Indonesia dengan berbagai proyek pembangunan, termasuk pengecatan rumah warga. Karena identitas TNI erat dengan warna hijau, maka warna yang digunakan dalam program ini adalah hijau.
Selain itu, warna hijau yang digunakan dalam program TMMD diketahui lebih murah dan bisa dibeli secara eceran. Hal ini membuatnya semakin populer di kalangan masyarakat yang ingin mengecat rumah dengan biaya terjangkau. Akibatnya, warna hijau ini semakin melekat dengan citra rumah sederhana dan akhirnya disebut sebagai hijau miskin.
Meskipun istilah hijau miskin sering digunakan dalam konteks humor atau candaan, ada makna sosial yang lebih dalam di baliknya. Warna hijau sendiri sebenarnya memiliki simbolisme yang positif. Dalam psikologi warna, hijau sering dikaitkan dengan kesegaran, ketenangan, dan keseimbangan. Warna ini juga sering digunakan untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman dan alami dalam sebuah ruangan.
Namun, karena penggunaannya yang dominan di rumah-rumah sederhana, warna ini akhirnya mendapatkan label yang kurang menguntungkan. Padahal, banyak orang memilih warna hijau bukan karena keterbatasan ekonomi, tetapi karena preferensi pribadi atau alasan estetika.
Sebutan warna hijau miskin muncul dari kombinasi antara faktor ekonomi, program pembangunan, dan persepsi sosial. Meskipun istilah ini sering digunakan secara bercanda, penting untuk memahami bahwa warna hijau memiliki makna yang lebih luas dan tidak selalu mencerminkan status ekonomi seseorang. Pada akhirnya, pemilihan warna rumah adalah soal preferensi dan kenyamanan, bukan sekadar stereotipe yang berkembang di masyarakat.
Penulis: Laila Karima
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira