Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cucak Kombo, Ini Pengganti Makanan Utama Saat Di Penangkaran

Nakula Agi Sada • Minggu, 16 Februari 2025 | 17:04 WIB

 

Cucak Kombo, si penghisap nektar di alam bebas
Cucak Kombo, si penghisap nektar di alam bebas

Burung cucak kombo, atau yang juga dikenal sebagai kecial kombo, adalah salah satu burung kicau yang banyak diminati oleh pecinta burung di Indonesia.

Burung ini terkenal karena suara kicauannya yang merdu dan bervariasi, serta kemampuannya menirukan suara burung lain. Selain itu, keunikan cucak kombo juga terletak pada penampilannya yang sederhana namun tetap menarik perhatian.

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai burung cucak kombo.

Cucak kombo memiliki nama ilmiah Lichmera limbata, dan beberapa literatur menyebutnya sebagai Lichmera lombokia. Burung ini termasuk dalam keluarga Meliphagidae, yaitu kelompok burung pengisap nektar.

Dengan panjang tubuh sekitar 16 cm, cucak kombo memiliki ukuran yang mirip dengan kolibri. Warna tubuhnya didominasi oleh cokelat zaitun dengan sedikit corak kuning di bagian bawah tubuhnya, membuatnya terlihat sederhana namun tetap elegan.

Habitat asli burung cucak kombo adalah hutan-hutan lebat yang dekat dengan sumber air, seperti hutan mangrove dan daerah perbukitan.

Burung ini banyak ditemukan di kawasan Nusa Tenggara, seperti Pulau Lombok, Flores, Sumbawa, Bali, hingga Pulau Komodo.

Habitat alami ini menyediakan sumber makanan utama bagi cucak kombo, yaitu nektar bunga dan serangga kecil.

Salah satu daya tarik utama cucak kombo adalah suara kicauannya yang nyaring dan bervariasi.

Burung ini dikenal sebagai "penyanyi hutan" karena kemampuannya menghasilkan berbagai nada indah yang sering kali terdengar seperti melodi khas alam liar.

Tak hanya itu, cucak kombo juga memiliki kemampuan menirukan suara burung lain di sekitarnya, menjadikannya favorit di kalangan penghobi burung kicau.

Untuk memelihara cucak kombo agar tetap sehat dan rajin berkicau, diperlukan perawatan yang baik. Pakan utama burung ini adalah nektar bunga, namun dalam penangkaran biasanya diberikan cairan gula atau madu sebagai pengganti nektar.

Selain itu, mereka juga membutuhkan asupan serangga kecil seperti kroto (telur semut) untuk memenuhi kebutuhan protein.

Kebersihan kandang dan lingkungan yang nyaman juga sangat penting untuk menjaga kesehatan burung ini.

Sayangnya, popularitas cucak kombo sebagai burung kicau telah menyebabkan peningkatan perburuan liar dan perdagangan ilegal.

Hal ini mengancam populasi mereka di alam liar. Beberapa daerah telah mulai melindungi spesies ini untuk mencegah kepunahan akibat eksploitasi berlebihan.

Oleh karena itu, para pecinta burung diimbau untuk membeli cucak kombo dari penangkaran resmi yang berizin.

Selain menjadi burung peliharaan yang populer, cucak kombo juga memiliki peran penting dalam ekosistem tempat tinggalnya.

Sebagai pengisap nektar bunga, burung ini membantu proses penyerbukan tanaman di hutan-hutan tropis Indonesia.

Dengan demikian, keberadaan mereka tidak hanya memperkaya keanekaragaman hayati tetapi juga mendukung keseimbangan ekosistem.

Bagi Anda yang tertarik memelihara cucak kombo, penting untuk memahami bahwa memelihara burung ini bukan hanya soal menikmati keindahan suara kicaunya tetapi juga bertanggung jawab terhadap kelestarian spesiesnya.

Dengan merawat mereka dengan baik dan mendukung konservasi habitat alaminya, kita turut berperan dalam menjaga keberlanjutan populasi cucak kombo di alam liar.

Burung cucak kombo adalah salah satu kekayaan fauna Indonesia yang patut kita banggakan dan lestarikan.

Keindahan suara serta perannya dalam ekosistem menjadikan burung ini lebih dari sekadar peliharaan—mereka adalah bagian dari warisan alam Nusantara yang harus dijaga keberadaannya untuk generasi mendatang. (Agie)

Editor : Jauhar Yohanis