Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Burung Cililin, Yuk Selami Keindahan dan Karakteristik  Si Jambul ini

Nakula Agi Sada • Senin, 10 Februari 2025 | 17:04 WIB
Burung Cililin, Si jambul yang eksotis
Burung Cililin, Si jambul yang eksotis

Burung cililin (Platylophus galericulatus) adalah salah satu burung kicau yang begitu populer di kalangan pecinta burung di Indonesia. Dikenal karena jambul panjangnya yang khas dan suara kicauannya yang melengking, burung ini menjadi daya tarik tersendiri, baik sebagai peliharaan maupun peserta lomba kicau. Selain keindahannya, burung cililin juga memiliki karakter unik yang membuatnya menonjol di antara burung kicau lainnya. Tak heran, banyak penghobi burung mengincar spesies ini untuk dipelihara atau dilatih.

Secara fisik, burung cililin memiliki tubuh ramping dengan panjang sekitar 28–33 cm. Ciri khas yang paling mencolok adalah jambul panjang di kepalanya yang menyerupai mahkota. Warna bulu burung ini bervariasi tergantung pada asalnya. Burung cililin dari Jawa umumnya memiliki bulu berwarna abu-abu kehitaman, sedangkan cililin dari Sumatera dan Kalimantan cenderung berwarna cokelat gelap. Perbedaan warna ini juga memengaruhi suara kicauan mereka; cililin Jawa memiliki suara pendek dan kasar, sementara cililin Sumatera dan Kalimantan dikenal dengan suara melengking yang panjang dan halus.

Karakter burung cililin juga menjadi salah satu daya tarik utama. Burung ini dikenal sebagai burung dengan sifat "fighter" atau petarung. Ia sangat responsif terhadap suara burung lain, terutama saat mendengar kicauan pesaingnya. Respons ini sering ditunjukkan dengan mengeluarkan suara lebih keras untuk menandai dominasinya. Namun, sifat fighter ini juga membuat burung cililin membutuhkan perhatian khusus dalam perawatannya, terutama agar tidak mudah stres atau lelah akibat terlalu sering berkicau.

Habitat alami burung cililin terletak di kawasan hutan tropis dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Burung ini dapat ditemukan di wilayah Semenanjung Malaysia serta pulau-pulau besar seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Di habitat aslinya, burung cililin biasanya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Mereka sering terlihat bertengger di dahan pohon sambil mencari makanan berupa serangga seperti jangkrik, belalang, ulat, hingga laba-laba kecil.

Dari segi makanan, burung cililin termasuk jenis burung insektivora yang sangat bergantung pada serangga sebagai sumber energi utamanya. Namun, jika dipelihara dalam sangkar, makanan tambahan seperti kroto (telur semut rangrang), ulat hongkong, atau voer berkualitas tinggi juga dapat diberikan untuk menjaga kesehatan dan stamina burung ini. Pemberian makanan bergizi sangat penting untuk mendukung performa kicauan mereka.

Sayangnya, popularitas burung cililin sebagai salah satu burung kicau favorit justru membawa dampak negatif bagi populasinya di alam liar. Penangkapan liar secara besar-besaran untuk memenuhi permintaan pasar telah menyebabkan populasi burung ini menurun drastis di beberapa daerah. Minimnya upaya penangkaran juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kelestarian spesies ini. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk melindungi habitat alami mereka serta mendukung program konservasi.

Selain itu, perawatan burung cililin memerlukan perhatian ekstra dibandingkan jenis burung kicau lainnya. Burung ini mudah stres jika tidak dirawat dengan baik atau jika lingkungannya terlalu bising dan ramai. Oleh karena itu, pemilik harus memastikan bahwa sangkar berada di tempat yang tenang dan nyaman. Selain itu, melatih burung cililin untuk berkicau secara rutin juga penting agar mereka tetap aktif dan sehat.

Baca Juga: Misteri dan Keberkahan, Mitos Burung Perkutut dalam Budaya Jawa dan Bali

Burung cililin bukan sekadar hewan peliharaan; ia adalah bagian dari kekayaan alam Indonesia yang perlu dilestarikan. Keindahan fisik dan keunikan suaranya menjadikannya salah satu spesies unggulan dalam dunia perburungan Nusantara. Dengan memahami karakteristik dan kebutuhannya secara mendalam, kita tidak hanya bisa menikmati pesonanya tetapi juga turut menjaga keberlangsungan hidupnya di alam liar untuk generasi mendatang. (Agie)

Editor : Jauhar Yohanis
#burung #Cililin