24 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Nggolek Pesugihan, Olehe Pegatan

Sebagai pedagang bakso, Kang Sudrun memang harus bersaing ketat. Saiki yang dodolan pentol juga semakin banyak. Maka, yang dikedepankan tentunya kualitas rasa dan pelayanan.

Sayangnya, Kang Sudrun tidak berpikir demikian. Yang melintas di benaknya justru mencari aji-aji pesugihan. Bagaimana membuat daganganya laris manis. Meskipun rasa dan penyajian biasa-biasa wae.

Berbeda dengan sang istri, Mbok Ndewor. Dia menganggap kegiatan suaminya itu klenik dan cenderung syirik. Karena itu, dia berusaha  ngrusuhi suaminya ketika berpraktik tak masuk akal seperti itu.

(Ilustrasi: Afrizal)

Dodolan bakso tahunan ora tahu nglakoni klenik kayak ngunu. Eh, saiki kok malah nggolek pesugihan,” ucapnya sebal pada kelakukan sang suami.

Wanita beralamat di Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri ini tak begitu paham jenis ilmu pesugihan apa yang dijalani suaminya. Yang dia tahu Kang Sudrun sudah mulai tak beres. Hampir selalu meletakkan sesajen di sudut-sudut rumah. Persis seperti yang sering terliaht nang prapatan-prapatan. Mulai kembang tujuh rupa, telur ayam kampung, dan beras kuning.

Baca Juga :  Witing Tresna Jalaran Ngglibet 

Kang Sudrun juga pernah membongkar plafon rumah. Awalnya, Mbok Ndewor mikir suaminya benahi atap atau mencari bangkai tikus. Eh, lha kok malah masang kain kafan di salah satu kayu penyangga.

Mbok Ndewor pun marah-marah. Menentang keras praktik klenik nan syirik itu. Tapi, bukannya menghentikan, Kang Sudrun balik memarahi sang istri.

Menengo ae awakmu. Iki ngunu nggolek kamulyan,” sergah Kang Sudrun, njaluk bojone agar diam.

Mendapat sergahan itu, Mbok Ndewor makin panik. Dia juga takut dapat imbas dari praktik seperti itu. Apalagi, selama ini santer tersiar kabar bila nggolek pesugihan mesti ada konsekuensinya. Alias mesti njaluk tumbal.

Maka, Mbok Ndewor berusaha mbubarno upaya sang suami. Penolak pesugihan seperti nggoreng telur yang sebelumnya diletakkan sebagai sesajen oleh suaminya.

Baca Juga :  Perawan tapi Janda

Pokok ben ana endok sing digawe sesajen langsung tak goreng. Pas tak pangan rasane ya biasa. Ora sampek keracunan,” ucapnya.

Selain itu, semua yang dipasang suaminya langsung dibubrahi. Dijukuk tanpa sepengetahuan Kang Sudrun. Pas mbubrahi kain kafan yang dipasang di plafon rumah, ternyata banyak barang-barang aneh lainnya.

Tapi, upaya-upaya itu tak mampu menghentikan keinginan Kang Sudrun mencari pesugihan. Semakin hari justru bertambah aneh-aneh ae kelakuane. Kadang sampai pergi berhari-hari. Meninggalkan dagangan bakso serta keluarga. Ketika ditanya, tak mau mengaku.

Jawabane mung ngene, saiki tambah akeh saingane,” kata Mbok Ndewor.

Akhirnya, Mbok Ndewor yang tak kuat. Dia pun melaporkan kasus ini ke pengadilan agama. Yen bojone ngebet nggolek pesugihan dia ganti ngotot minta pegatan. Peh, Kang Sudrun…Kang Sudrun, zaman milenial kok ya sik percaya barang tahyul.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Sebagai pedagang bakso, Kang Sudrun memang harus bersaing ketat. Saiki yang dodolan pentol juga semakin banyak. Maka, yang dikedepankan tentunya kualitas rasa dan pelayanan.

Sayangnya, Kang Sudrun tidak berpikir demikian. Yang melintas di benaknya justru mencari aji-aji pesugihan. Bagaimana membuat daganganya laris manis. Meskipun rasa dan penyajian biasa-biasa wae.

Berbeda dengan sang istri, Mbok Ndewor. Dia menganggap kegiatan suaminya itu klenik dan cenderung syirik. Karena itu, dia berusaha  ngrusuhi suaminya ketika berpraktik tak masuk akal seperti itu.

(Ilustrasi: Afrizal)

Dodolan bakso tahunan ora tahu nglakoni klenik kayak ngunu. Eh, saiki kok malah nggolek pesugihan,” ucapnya sebal pada kelakukan sang suami.

Wanita beralamat di Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri ini tak begitu paham jenis ilmu pesugihan apa yang dijalani suaminya. Yang dia tahu Kang Sudrun sudah mulai tak beres. Hampir selalu meletakkan sesajen di sudut-sudut rumah. Persis seperti yang sering terliaht nang prapatan-prapatan. Mulai kembang tujuh rupa, telur ayam kampung, dan beras kuning.

Baca Juga :  Pinter Macak Ora Isa Masak

Kang Sudrun juga pernah membongkar plafon rumah. Awalnya, Mbok Ndewor mikir suaminya benahi atap atau mencari bangkai tikus. Eh, lha kok malah masang kain kafan di salah satu kayu penyangga.

Mbok Ndewor pun marah-marah. Menentang keras praktik klenik nan syirik itu. Tapi, bukannya menghentikan, Kang Sudrun balik memarahi sang istri.

Menengo ae awakmu. Iki ngunu nggolek kamulyan,” sergah Kang Sudrun, njaluk bojone agar diam.

Mendapat sergahan itu, Mbok Ndewor makin panik. Dia juga takut dapat imbas dari praktik seperti itu. Apalagi, selama ini santer tersiar kabar bila nggolek pesugihan mesti ada konsekuensinya. Alias mesti njaluk tumbal.

Maka, Mbok Ndewor berusaha mbubarno upaya sang suami. Penolak pesugihan seperti nggoreng telur yang sebelumnya diletakkan sebagai sesajen oleh suaminya.

Baca Juga :  Dinkes Kota Kediri Layangkan SP1 ke RS Muhammadiyah

Pokok ben ana endok sing digawe sesajen langsung tak goreng. Pas tak pangan rasane ya biasa. Ora sampek keracunan,” ucapnya.

Selain itu, semua yang dipasang suaminya langsung dibubrahi. Dijukuk tanpa sepengetahuan Kang Sudrun. Pas mbubrahi kain kafan yang dipasang di plafon rumah, ternyata banyak barang-barang aneh lainnya.

Tapi, upaya-upaya itu tak mampu menghentikan keinginan Kang Sudrun mencari pesugihan. Semakin hari justru bertambah aneh-aneh ae kelakuane. Kadang sampai pergi berhari-hari. Meninggalkan dagangan bakso serta keluarga. Ketika ditanya, tak mau mengaku.

Jawabane mung ngene, saiki tambah akeh saingane,” kata Mbok Ndewor.

Akhirnya, Mbok Ndewor yang tak kuat. Dia pun melaporkan kasus ini ke pengadilan agama. Yen bojone ngebet nggolek pesugihan dia ganti ngotot minta pegatan. Peh, Kang Sudrun…Kang Sudrun, zaman milenial kok ya sik percaya barang tahyul.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/