24 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Warga Banjaran Kediri Ini Kreasi Kue Basah Sejak 41 Tahun Lalu

Mempertahankan bisnis sejak 41 tahun lalu bukan perkara mudah. Jatuh bangun dihadapi Sri Rejeki Wardayati. Perempuan 66 tahun ini eksis dengan kue khasnya.

 

Di antara rumah yang berjajar di satu gang Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota Kediri ada satu yang tampak beda. Di sana tampak ramai orang ke luar masuk. Beberapa kendaraan pun bergantian membawa barang bertumpuk. Seorang pria di tepian sepeda motor bercat hitam menyusunnya dengan rapi.

Barangnya adalah kue basah yang dimasukkan kotak berukuran sekitar 25 sentimeter (cm) di tiap sisinya. Di tumpukan lain juga terlihat kotak dari plastik hitam. Sama dengan kotak putih, di situ juga diisi penuh kue.

Sejenak pria yang menata kue itu masuk rumah. Kurang dari semenit, muncul perempuan parobaya memerhatikan sekitar. Dialah Sri Rejeki Wardayati, pemilik toko kue basah yang biasa disebut toko “Sugino”.

Baca Juga :  Ibu-Ibu Karang Taruna Produktif Bikin Tas Rajut di Desa Jarak

Di belakang perempuan itu, tampak dua orang bersila di ruang tengah. Mereka menata kue dalam kotak kue yang dipegang tangan kiri. Tangan kanannya memasukkan kue seperti apem, brownies, kue kacang, dan masih banyak lainnya. “Itu pegawai saya,” ucap Sri.

Pemilik bisnis kue di Gang Bendon I Banjaran itu mengatakan, bisnisnya sudah dimulai sejak 1980. Ketika awal dibangun tujuannya untuk mencari uang tambahan. “Dulu suami saya pegawai PLN gajinya tak cukup banyak,” katanya.

Dirintis dengan telaten, Sri mulai merasakan kuenya diminati. Waktu itu, walaupun pemasaran hanya dari mulut ke mulut, bisnisnya tumbuh pesat. “Mulai ramai itu tahun 1985,” ungkapnya.

Di masa jayanya, toko kue yang tidak pernah berpindah tempat itu, mampu mengolah beberapa kuintal kue sehari. Pekerjanya 6 hingga 7 karyawan dari pagi hingga malam.

Baca Juga :  Jerih Payah Ibu-Ibu Mencari Air Bersih di Kaki Gunung Wilis

Namun, kini bisnisnya sedikit lesu. Sri mengatakan, hal itu karena efek pandemi. Sebelum pandemi dia mampu mendapat 30 pesanan per hari. Saat ini hanya sekitar 3 sampai 4 pesanan.

Kendati begitu Sri tetap mempertahankan bisnis yang dirintisnya sejak 41 tahun lalu. Menurutnya, bisnisnya adalah sesuatu yang harus dilestarikan. Karena itu, secara perlahan kini bisnisnya mulai diturunkan ke sang anak. “Sekarang saya hanya bantu sedikit-sedikit,” imbuhnya.

Di akhir wawancara, Sri menjelaskan, toko kuenya pernah mendapat penghargaan dari Pemkot Kediri. Sembari menenteng sebuah medali, Sri membacakan tulisan di situ. “Satya Yasa Cundamani 2018,” tutupnya sembari mengatakan penghargaan itu ditujukan pada orang yang bisa memberi dampak bagi warga sekitar. (wib/ndr)

- Advertisement -

Mempertahankan bisnis sejak 41 tahun lalu bukan perkara mudah. Jatuh bangun dihadapi Sri Rejeki Wardayati. Perempuan 66 tahun ini eksis dengan kue khasnya.

 

Di antara rumah yang berjajar di satu gang Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota Kediri ada satu yang tampak beda. Di sana tampak ramai orang ke luar masuk. Beberapa kendaraan pun bergantian membawa barang bertumpuk. Seorang pria di tepian sepeda motor bercat hitam menyusunnya dengan rapi.

Barangnya adalah kue basah yang dimasukkan kotak berukuran sekitar 25 sentimeter (cm) di tiap sisinya. Di tumpukan lain juga terlihat kotak dari plastik hitam. Sama dengan kotak putih, di situ juga diisi penuh kue.

Sejenak pria yang menata kue itu masuk rumah. Kurang dari semenit, muncul perempuan parobaya memerhatikan sekitar. Dialah Sri Rejeki Wardayati, pemilik toko kue basah yang biasa disebut toko “Sugino”.

Baca Juga :  Belasan Anak Ini Jadi Yatim Piatu akibat Pandemi Covid-19

Di belakang perempuan itu, tampak dua orang bersila di ruang tengah. Mereka menata kue dalam kotak kue yang dipegang tangan kiri. Tangan kanannya memasukkan kue seperti apem, brownies, kue kacang, dan masih banyak lainnya. “Itu pegawai saya,” ucap Sri.

Pemilik bisnis kue di Gang Bendon I Banjaran itu mengatakan, bisnisnya sudah dimulai sejak 1980. Ketika awal dibangun tujuannya untuk mencari uang tambahan. “Dulu suami saya pegawai PLN gajinya tak cukup banyak,” katanya.

Dirintis dengan telaten, Sri mulai merasakan kuenya diminati. Waktu itu, walaupun pemasaran hanya dari mulut ke mulut, bisnisnya tumbuh pesat. “Mulai ramai itu tahun 1985,” ungkapnya.

Di masa jayanya, toko kue yang tidak pernah berpindah tempat itu, mampu mengolah beberapa kuintal kue sehari. Pekerjanya 6 hingga 7 karyawan dari pagi hingga malam.

Baca Juga :  Makan Roti, Bocah SD Tewas

Namun, kini bisnisnya sedikit lesu. Sri mengatakan, hal itu karena efek pandemi. Sebelum pandemi dia mampu mendapat 30 pesanan per hari. Saat ini hanya sekitar 3 sampai 4 pesanan.

Kendati begitu Sri tetap mempertahankan bisnis yang dirintisnya sejak 41 tahun lalu. Menurutnya, bisnisnya adalah sesuatu yang harus dilestarikan. Karena itu, secara perlahan kini bisnisnya mulai diturunkan ke sang anak. “Sekarang saya hanya bantu sedikit-sedikit,” imbuhnya.

Di akhir wawancara, Sri menjelaskan, toko kuenya pernah mendapat penghargaan dari Pemkot Kediri. Sembari menenteng sebuah medali, Sri membacakan tulisan di situ. “Satya Yasa Cundamani 2018,” tutupnya sembari mengatakan penghargaan itu ditujukan pada orang yang bisa memberi dampak bagi warga sekitar. (wib/ndr)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/