24 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Mohammad Badrul Munir, Guru Honorer S2 yang Sukses Berbisnis Trofi 

Tak selamanya kisah guru honorer selalu tragis dalam kehidupan ekonominya. Banyak juga yang sukses dengan pekerjaan sampingannya. Mohammad Badrul Munir termasuk salah satunya. Usaha trofinya menambah penghasilan utama.

 

SAMSUL ABIDIN, KOTA – JP Radar Kediri

 

Siang itu, cuaca Kota Kediri tak begitu panas. Pun tidak begitu dingin. Saat itu dari alat pengukur suhu di gawai menunjukkan angka 28 derajat Celcius. Tepat pukul 14.00 WIB Jawa Pos Radar Kediri membuat janji bertemu di Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Lokasinya tak jauh dari salah satu rumah sakit (RS) yang ada di wilayah tersebut. Rumah yang terlihat minimalis namun begitu menyejukkan dan enak dipandang. Perlu masuk ke dalam gang kecil untuk sampai ke sana.

Rumah itu dihuni guru honorer atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah guru tidak tetap (GTT). Seorang guru yang sudah lebih dari 14 tahun mengabdikan hidupnya untuk mengajar di SDN Bangsal 3 Kota Kediri. Dia juga memiliki usaha pembuatan kerajinan trofi.

Dia adalah Mohammad Badrul Munir. Saat ditemui di rumahnya, guru ini tampak sibuk merangkai beberapa trofi pesanan. Ketika bertemu koran ini, dengan ramah dia mempersilakan masuk. “Silakan masuk Mas,” ujar Arul –sapaan akrab GTT ini.

Arul sudah mengabdi menjadi guru pendidikan agama Islam sejak 2005. Pekerjaan itu ia tekuni sejak sebelum menikah. “Awalnya nikah di usia muda, istri saat itu semester 5. Dan saya baru selesai skripsi tahun 2008,” ungkap bapak tiga anak tersebut.

Kemudian, Arul menceritakan suka dukanya menjadi guru honorer dengan gaji yang minim. Apalagi dengan kondisi sudah berumah tangga pada 2007. “Rumah belum punya, motor juga warisan dari mertua. Motor Honda Grand yang suka macet dan lain-lainnya,” jelasnya.

Arul juga masih ingat gaji awal  yang ia terima ketika itu. Saat itu gaji pertamanya Rp 100 ribu dan ia beranikan untuk kredit sepeda motor Yamaha. Yang harganya kalau di total mencapai Rp 19 juta dengan cicilannya Rp 348 ribu per bulan. “Dapat uang dari mana ? Ya, nggak tahu Allah memberi jalan yang luar biasa. Ya pas tagihan itu ada aja uangnya,” ucap laki-laki berkepala plontos tersebut.

Baca Juga :  Hendak Menangis, Wali Kota Tak Canggung Menghibur

Pernah suatu ketika, ia di datangi debt collector ke tempatnya mengajar. Namun, Arul berkata agar tidak masuk ke sekolah dan menyuruhnya menunggu di depan sekolah. “Saya semayani mundur tiga hari lagi dan alhamdulillah bisa lunas pas 3 tahun,” akunya.

Bahkan untuk membeli susu sang anak tidak pernah kesusahan. Arul berprinsip jika mengamalkan ilmu dengan ikhlas, masalah ekonomi akan dibantu oleh Allah. Lambat laun kehidupannya semakin tertata. Dan ketika tahun 2013 lalu, ia memutuskan melanjutkan studinya ke jenjang pascasarjana dan lulus 2015.

Tahun 2013 tepatnya, Arul mendapatkan kesempatan kuliah pascasarjana. Ia masuk kuliah setiap Sabtu dan Minggu. Berangkat dari Kediri dengan rombongan menyewa bus. “Berangkat Sabtu, Minggu sore itu kita pulang dan itu saya jalani selama dua tahun,” jelas Arul.

Tak hanya Arul, namun sang istri yang bernama Dwi Sulistyaningrum juga tak mau ketinggalan. Sang istri juga merupakan lulusan magister pendidikan agama Islam dari institut agama Islam swasta di Kota Kediri. Sedangkan Arul magister pendidikan agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Surabaya.

“Sama-sama GTT Mas, memang prinsip kami itu cari ilmu itu yang terpenting. Entah untuk membayar itu dari mana, kita harus mencarinya,” ucap laki-laki tersebut dengan sesekali tertawa kecil.

Yang menarik, ide awal menekuni usaha trofi ini gara-gara ia gagal nyaleg. Arul tak terpilih menjadi anggota legislatif. Ya, dahulu Arul merupakan calon legislatif (caleg) DPRD Kota Kediri 2009 dari daerah pilihan (dapil) Mojoroto. Saat itu, karena untuk kebutuhan mencetak baliho pesan ke orang lain dan harganya mahal. Lantas ia memutuskan mencetak sendiri langsung ke percetakan. “Lha kok murah dari situ saya berpikir bisa menjadi peluang usaha,” kelakarnya.

Baca Juga :  Menilik Sejarah Guyangan di Kota Angin (5)

Tak hanya itu, Arul juga mendapatkan ide menjual trofi karena sekolah tempatnya mengajar sering menggandakan trofi untuk siswa yang berprestasi. Kebetulan ia bagian yang menggandakan. “Ke tukang jualan trofi, saya lihat ini bisa jadi peluang usaha apalagi anak-anak sering menjadi juara,” katanya sembari menunjukkan trofi yang ia buat.

Awalnya, ia belum membuka usaha sendiri namun masih dilempar ke orang lain. Dan saat itu ada tander yang luar biasa karena bisa dipercaya oleh salah satu dinas. Diminta untuk menyediakan piala. Dari situlah ia berangkat ke Jakarta, ke Jogjakarta, Surabaya dan Tulungagung untuk mencari bagian-bagian trofi tersebut.

“Awalnya kesulitan dari modal Mas, untuk awal itu butuh hampir Rp 50 juta. Tapi alhamdulillah atas kepercayaan orang-orang kita bisa membayar di belakang dan juga pinjaman dari orang tua angkat kami,” terangnya di ruang tamu.

Semakin hari usahanya semakin dikenal. Bahkan saat ini bisa dikatakan menguasai pasaran di Kota Kediri. Kesulitan yang sering dialami saat usahanya ini adalah pesanan yang terkadang mendadak dan harus segera selesai. “Mau nggak mau kita harus ke perajin dan harus jadi,” jelas laki-laki kelahiran 1983 ini.

Dari usahanya inilah akhrinya Arul bisa membeli sebidang tanah di sekitar Kecamatan Banyakan. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan amanah menjadi Ketua Forum GTT-PTT non kategori Kota Kediri sampai saat ini.

 

 

 

 

 

 

- Advertisement -

Tak selamanya kisah guru honorer selalu tragis dalam kehidupan ekonominya. Banyak juga yang sukses dengan pekerjaan sampingannya. Mohammad Badrul Munir termasuk salah satunya. Usaha trofinya menambah penghasilan utama.

 

SAMSUL ABIDIN, KOTA – JP Radar Kediri

 

Siang itu, cuaca Kota Kediri tak begitu panas. Pun tidak begitu dingin. Saat itu dari alat pengukur suhu di gawai menunjukkan angka 28 derajat Celcius. Tepat pukul 14.00 WIB Jawa Pos Radar Kediri membuat janji bertemu di Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Lokasinya tak jauh dari salah satu rumah sakit (RS) yang ada di wilayah tersebut. Rumah yang terlihat minimalis namun begitu menyejukkan dan enak dipandang. Perlu masuk ke dalam gang kecil untuk sampai ke sana.

Rumah itu dihuni guru honorer atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah guru tidak tetap (GTT). Seorang guru yang sudah lebih dari 14 tahun mengabdikan hidupnya untuk mengajar di SDN Bangsal 3 Kota Kediri. Dia juga memiliki usaha pembuatan kerajinan trofi.

Dia adalah Mohammad Badrul Munir. Saat ditemui di rumahnya, guru ini tampak sibuk merangkai beberapa trofi pesanan. Ketika bertemu koran ini, dengan ramah dia mempersilakan masuk. “Silakan masuk Mas,” ujar Arul –sapaan akrab GTT ini.

Arul sudah mengabdi menjadi guru pendidikan agama Islam sejak 2005. Pekerjaan itu ia tekuni sejak sebelum menikah. “Awalnya nikah di usia muda, istri saat itu semester 5. Dan saya baru selesai skripsi tahun 2008,” ungkap bapak tiga anak tersebut.

Kemudian, Arul menceritakan suka dukanya menjadi guru honorer dengan gaji yang minim. Apalagi dengan kondisi sudah berumah tangga pada 2007. “Rumah belum punya, motor juga warisan dari mertua. Motor Honda Grand yang suka macet dan lain-lainnya,” jelasnya.

Arul juga masih ingat gaji awal  yang ia terima ketika itu. Saat itu gaji pertamanya Rp 100 ribu dan ia beranikan untuk kredit sepeda motor Yamaha. Yang harganya kalau di total mencapai Rp 19 juta dengan cicilannya Rp 348 ribu per bulan. “Dapat uang dari mana ? Ya, nggak tahu Allah memberi jalan yang luar biasa. Ya pas tagihan itu ada aja uangnya,” ucap laki-laki berkepala plontos tersebut.

Baca Juga :  Ide dari Ortu, Kreasi oleh sang Anak 

Pernah suatu ketika, ia di datangi debt collector ke tempatnya mengajar. Namun, Arul berkata agar tidak masuk ke sekolah dan menyuruhnya menunggu di depan sekolah. “Saya semayani mundur tiga hari lagi dan alhamdulillah bisa lunas pas 3 tahun,” akunya.

Bahkan untuk membeli susu sang anak tidak pernah kesusahan. Arul berprinsip jika mengamalkan ilmu dengan ikhlas, masalah ekonomi akan dibantu oleh Allah. Lambat laun kehidupannya semakin tertata. Dan ketika tahun 2013 lalu, ia memutuskan melanjutkan studinya ke jenjang pascasarjana dan lulus 2015.

Tahun 2013 tepatnya, Arul mendapatkan kesempatan kuliah pascasarjana. Ia masuk kuliah setiap Sabtu dan Minggu. Berangkat dari Kediri dengan rombongan menyewa bus. “Berangkat Sabtu, Minggu sore itu kita pulang dan itu saya jalani selama dua tahun,” jelas Arul.

Tak hanya Arul, namun sang istri yang bernama Dwi Sulistyaningrum juga tak mau ketinggalan. Sang istri juga merupakan lulusan magister pendidikan agama Islam dari institut agama Islam swasta di Kota Kediri. Sedangkan Arul magister pendidikan agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Surabaya.

“Sama-sama GTT Mas, memang prinsip kami itu cari ilmu itu yang terpenting. Entah untuk membayar itu dari mana, kita harus mencarinya,” ucap laki-laki tersebut dengan sesekali tertawa kecil.

Yang menarik, ide awal menekuni usaha trofi ini gara-gara ia gagal nyaleg. Arul tak terpilih menjadi anggota legislatif. Ya, dahulu Arul merupakan calon legislatif (caleg) DPRD Kota Kediri 2009 dari daerah pilihan (dapil) Mojoroto. Saat itu, karena untuk kebutuhan mencetak baliho pesan ke orang lain dan harganya mahal. Lantas ia memutuskan mencetak sendiri langsung ke percetakan. “Lha kok murah dari situ saya berpikir bisa menjadi peluang usaha,” kelakarnya.

Baca Juga :  Hendak Menangis, Wali Kota Tak Canggung Menghibur

Tak hanya itu, Arul juga mendapatkan ide menjual trofi karena sekolah tempatnya mengajar sering menggandakan trofi untuk siswa yang berprestasi. Kebetulan ia bagian yang menggandakan. “Ke tukang jualan trofi, saya lihat ini bisa jadi peluang usaha apalagi anak-anak sering menjadi juara,” katanya sembari menunjukkan trofi yang ia buat.

Awalnya, ia belum membuka usaha sendiri namun masih dilempar ke orang lain. Dan saat itu ada tander yang luar biasa karena bisa dipercaya oleh salah satu dinas. Diminta untuk menyediakan piala. Dari situlah ia berangkat ke Jakarta, ke Jogjakarta, Surabaya dan Tulungagung untuk mencari bagian-bagian trofi tersebut.

“Awalnya kesulitan dari modal Mas, untuk awal itu butuh hampir Rp 50 juta. Tapi alhamdulillah atas kepercayaan orang-orang kita bisa membayar di belakang dan juga pinjaman dari orang tua angkat kami,” terangnya di ruang tamu.

Semakin hari usahanya semakin dikenal. Bahkan saat ini bisa dikatakan menguasai pasaran di Kota Kediri. Kesulitan yang sering dialami saat usahanya ini adalah pesanan yang terkadang mendadak dan harus segera selesai. “Mau nggak mau kita harus ke perajin dan harus jadi,” jelas laki-laki kelahiran 1983 ini.

Dari usahanya inilah akhrinya Arul bisa membeli sebidang tanah di sekitar Kecamatan Banyakan. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan amanah menjadi Ketua Forum GTT-PTT non kategori Kota Kediri sampai saat ini.

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/