24.9 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Aris Setiawan, Dokter Hewan Penggiat Sistem Hidroponik

- Advertisement -

Tak hanya aktif sebagai dokter hewan, Aris Setiawan pun bergiat di pertanian hidroponik. Dia memanfaatkan pekarangan. Petani desa memilihnya jadi ketua poktan.

 

 

Sabtu sore itu (30/3) jalanan di Dusun Nglangu, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen basah karena usai diguyur hujan. Warga yang siang itu menjemur gabah, langsung bergegas mengamankan gabahnya ke dalam rumah.

Tidak terkecuali penghuni rumah bercat oranye di sebelah selatan jalan itu. Di kediaman tersebut, terlihat ada beberapa macam bibit tanaman. Letaknya ditata berjejer menyandar ke tembok.

- Advertisement -

Saat Minggu Inspiratif – Jawa Pos Radar Kediri bertandang, sesosok lelaki ke luar rumah menyambut. Dia lalu mempersilakan masuk wartawan koran ini. “Masuk dulu, Mas, ditunggu di dalam saja,” ujar lelaki yang mengenalkan diri bernama Tajam itu dengan ramah.

Sore itu media ini memang sedang menunggu pemuda asal Dusun Nglangu, Desa Puhsarang untuk membahas tentang kelompok tani (poktan) hidroponik yang diketuainya. Tak lama kemudian, pemuda yang ditunggu itu datang.

Sembari masih mengenakan jas hujan, ia kembali dari kandang hewan tetangganya. Itu sehabis melakukan penyuntikan. Dokter hewan muda tersebut bernama Aris Setiawan.

Pemuda 27 tahun ini menjelaskan bahwa kemarin sedang berkeliling desa. Dia mulai dari Puhsarang, Kanyoran, Selopanggung, hingga Keniten di Kecamatan Mojo. “Tiap hari begini, Mas,” imbuhnya.

Pekerjaannya sebagai dokter hewan memang menuntutnya untuk berkeliling dari kandang ke kandang. Itu mulai pagi hingga malam. Meski begitu, kegiatan tersebut ternyata tidak menyurutkan semangatnya untuk bertani.

Baca Juga :  Korban Ghosting Bisa Jadi Trauma

“Dari kecil sudah suka dengan yang namanya pertanian, apalagi orang tua juga bertani,” paparnya.

Namun, Aris juga tidak ingin mengganggu waktu kerjanya yang padat untuk mengurusi tanamannya jika ia memutuskan bertani ke sawah. Menurutnya, selain mengganggu waktu untuk bekerja, dirinya juga tidak ada waktu lebih untuk fokus mengurusi tanamannya. “Karena itu saya punya ide untuk beralih ke tanaman hidroponik,” katanya.

Menurut Aris, bertani hidroponik dirasa lebih mudah dan efisien. “Kalau sudah pulang bekerja, malam-malam gitu, masih bisa mengurusi tanaman hidroponik, tidak perlu jauh-jauh ke sawah,” terangnya.

Selain efisien, beralih ke tanaman hidroponik itu juga memiliki manfaat lain. Yakni dapat mengubah pekarangan rumah yang tidak terpakai. Selain itu, untuk para warga Dusun Nglangu yang tidak memiliki lahan sawah, cara alternatif bertani seperti itu dirasa sangat cocok.

Usaha bertani yang ditekuninya sekitar satu tahun itu, menarik perhatian para petani di Dusun Nglangu. Pasalnya dengan cara yang lebih mudah dan lebih cepat dirasa dapat menumbuhkan taraf perekonomian warga sedikit lebih cepat.

Aris juga menambahkan bahwa sekarang dirinya diangkat menjadi ketua kelompok tani hidroponik Wilis Jaya Makmur. Ia memiliki harapan untuk mengajak para petani desa lebih aktif di pertanian hidroponik.

Baca Juga :  Korban Ketiga Sriwijaya Air asal Kediri Dimakamkan di Sebelah Ibu

Tentunya juga tidak meninggalkan lahan sawah mereka. “Keuntungan bisa didapatkan lebih banyak,” ungkapnya sambil menyeruput teh dari gelasnya. Di tengah perbincangan, Tajam, ayah Aris, sesekali ikut mendampingi.

Selain para petani yang telah berusia tua di dusunnya, Aris juga memiliki harapan besar terhadap para pemuda dusun. Itu agar mereka pun aktif dalam pertanian hidroponik.

Menurutnya, dengan melakukan usaha pertanian secara hidroponik, para pemuda desa tidak perlu lagi bingung untuk mendapatkan uang jajan. Selain itu juga untuk mempersiapkan para pemuda agar dapat lebih mandiri, dan tidak terjerumus ke hal yang negatif.

“Ya supaya tidak menganggur, kan lumayan dari proses penyemaian, pengairan, hingga panen tidak sulit. Apalagi, nanti bisa dapat untung,” urai kepada Minggu Inspiratif – Jawa Pos Radar Kediri

Aris menjelaskan bahwa para petani hidroponik di desanya saat ini kebanyakan menanam sayuran. Seperti sawi, seledri, dan lainnya. Kebetulan, sekitar dua bulan lalu, sawi sudah panen dengan hasil yang lumayan.

Dengan bekal air dan wadah untuk tanaman yang ditanam di atas styrofoam, Aris menilai, tanaman hidroponik tumbuhnya lebih cepat. Itu jika dibandingkan dengan tanaman yang ditanam di lahan.

 

 

 

 

 

 

- Advertisement -

Tak hanya aktif sebagai dokter hewan, Aris Setiawan pun bergiat di pertanian hidroponik. Dia memanfaatkan pekarangan. Petani desa memilihnya jadi ketua poktan.

 

 

Sabtu sore itu (30/3) jalanan di Dusun Nglangu, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen basah karena usai diguyur hujan. Warga yang siang itu menjemur gabah, langsung bergegas mengamankan gabahnya ke dalam rumah.

Tidak terkecuali penghuni rumah bercat oranye di sebelah selatan jalan itu. Di kediaman tersebut, terlihat ada beberapa macam bibit tanaman. Letaknya ditata berjejer menyandar ke tembok.

Saat Minggu Inspiratif – Jawa Pos Radar Kediri bertandang, sesosok lelaki ke luar rumah menyambut. Dia lalu mempersilakan masuk wartawan koran ini. “Masuk dulu, Mas, ditunggu di dalam saja,” ujar lelaki yang mengenalkan diri bernama Tajam itu dengan ramah.

Sore itu media ini memang sedang menunggu pemuda asal Dusun Nglangu, Desa Puhsarang untuk membahas tentang kelompok tani (poktan) hidroponik yang diketuainya. Tak lama kemudian, pemuda yang ditunggu itu datang.

Sembari masih mengenakan jas hujan, ia kembali dari kandang hewan tetangganya. Itu sehabis melakukan penyuntikan. Dokter hewan muda tersebut bernama Aris Setiawan.

Pemuda 27 tahun ini menjelaskan bahwa kemarin sedang berkeliling desa. Dia mulai dari Puhsarang, Kanyoran, Selopanggung, hingga Keniten di Kecamatan Mojo. “Tiap hari begini, Mas,” imbuhnya.

Pekerjaannya sebagai dokter hewan memang menuntutnya untuk berkeliling dari kandang ke kandang. Itu mulai pagi hingga malam. Meski begitu, kegiatan tersebut ternyata tidak menyurutkan semangatnya untuk bertani.

Baca Juga :  Melihat Crop Circle di Lahan Persawahan Desa Kedungmalang, Papar

“Dari kecil sudah suka dengan yang namanya pertanian, apalagi orang tua juga bertani,” paparnya.

Namun, Aris juga tidak ingin mengganggu waktu kerjanya yang padat untuk mengurusi tanamannya jika ia memutuskan bertani ke sawah. Menurutnya, selain mengganggu waktu untuk bekerja, dirinya juga tidak ada waktu lebih untuk fokus mengurusi tanamannya. “Karena itu saya punya ide untuk beralih ke tanaman hidroponik,” katanya.

Menurut Aris, bertani hidroponik dirasa lebih mudah dan efisien. “Kalau sudah pulang bekerja, malam-malam gitu, masih bisa mengurusi tanaman hidroponik, tidak perlu jauh-jauh ke sawah,” terangnya.

Selain efisien, beralih ke tanaman hidroponik itu juga memiliki manfaat lain. Yakni dapat mengubah pekarangan rumah yang tidak terpakai. Selain itu, untuk para warga Dusun Nglangu yang tidak memiliki lahan sawah, cara alternatif bertani seperti itu dirasa sangat cocok.

Usaha bertani yang ditekuninya sekitar satu tahun itu, menarik perhatian para petani di Dusun Nglangu. Pasalnya dengan cara yang lebih mudah dan lebih cepat dirasa dapat menumbuhkan taraf perekonomian warga sedikit lebih cepat.

Aris juga menambahkan bahwa sekarang dirinya diangkat menjadi ketua kelompok tani hidroponik Wilis Jaya Makmur. Ia memiliki harapan untuk mengajak para petani desa lebih aktif di pertanian hidroponik.

Baca Juga :  Global Zakat-ACT: Kepedulian dalam Mural Humanity Food Truck 2.0

Tentunya juga tidak meninggalkan lahan sawah mereka. “Keuntungan bisa didapatkan lebih banyak,” ungkapnya sambil menyeruput teh dari gelasnya. Di tengah perbincangan, Tajam, ayah Aris, sesekali ikut mendampingi.

Selain para petani yang telah berusia tua di dusunnya, Aris juga memiliki harapan besar terhadap para pemuda dusun. Itu agar mereka pun aktif dalam pertanian hidroponik.

Menurutnya, dengan melakukan usaha pertanian secara hidroponik, para pemuda desa tidak perlu lagi bingung untuk mendapatkan uang jajan. Selain itu juga untuk mempersiapkan para pemuda agar dapat lebih mandiri, dan tidak terjerumus ke hal yang negatif.

“Ya supaya tidak menganggur, kan lumayan dari proses penyemaian, pengairan, hingga panen tidak sulit. Apalagi, nanti bisa dapat untung,” urai kepada Minggu Inspiratif – Jawa Pos Radar Kediri

Aris menjelaskan bahwa para petani hidroponik di desanya saat ini kebanyakan menanam sayuran. Seperti sawi, seledri, dan lainnya. Kebetulan, sekitar dua bulan lalu, sawi sudah panen dengan hasil yang lumayan.

Dengan bekal air dan wadah untuk tanaman yang ditanam di atas styrofoam, Aris menilai, tanaman hidroponik tumbuhnya lebih cepat. Itu jika dibandingkan dengan tanaman yang ditanam di lahan.

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/