27.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Protes dengan Mural di Aspal Desa Bulusari Sepanjang 500 Meter

TAROKAN, JP Radar Kediri– Warga Dusun Selang, Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan gundah. Mereka mengeluhkan polusi debu dan suara bising alat berat dampak proyek bandara. Tak hanya memasang spanduk protes, uneg-unegnya juga dituliskan seperti mural di aspal.

Bahkan, sekitar 500 meter sepanjang jalan dusun dicoret dengan cat berisi tulisan protes. Di antaranya bertuliskan, ‘Masyarakat Tidak Butuh Debu, Masyarakat Maunya Es Teh’, ‘Ora Mangan Beras tapi Mangan Bleduk’.

“Pesannya sama. Kalau memang debu dari pembangunan terkena angin hingga sampai ke permukiman,” terang Ketua RT1/RW4 Dusun Selang M. Sodik.

Lelaki berkaus hitam itu menjelaskan bahwa mural yang ditulis di aspal dibuat warganya sekitar satu bulan lalu. Mereka protes dampak pembangunan bandara yang berada tepat di timur dusun.

Baca Juga :  Jamu Jerman Bikin Boscu Masuk Tahanan

Menurut Sodik, debu berterbangan masuk ke lingkungan dusunnya. Selain itu, bising alat berat di area proyek bikin warga terganggu. “Sampai malam, terus menerus bunyinya. Sampai ke rumah,” ungkapnya.

Sebagai ketua RT, Sodik pun sempat diajak warga untuk bermusyawarah. “Akhirnya keluhan warga kami terima dan kami laporkan ke kasun dan ke Kades Bulusari,” terang lelaki berusia 60 tahun itu.

Sodik menjelaskan, hasil musyawarah itu telah diteruskan ke pihak pembangun bandara. Hasilnya, sekitar 100 kepala keluarga (KK) yang terdampak telah diberi kompensasi. Aktivitas pembangunan yang menimbulkan suara bising juga dihentikan. “Dulu dari pagi, sampai pagi lagi. Sekarang sekitar pukul 11 malam (23.00) sudah selesai,” ujar Sodik. Namun mural di jalanan dusun itu belum bisa hilang sepenuhnya.(syi/ndr)

Baca Juga :  Temukan Gerabah Zaman Kerajaan Majapahit di Pace

 

- Advertisement -

TAROKAN, JP Radar Kediri– Warga Dusun Selang, Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan gundah. Mereka mengeluhkan polusi debu dan suara bising alat berat dampak proyek bandara. Tak hanya memasang spanduk protes, uneg-unegnya juga dituliskan seperti mural di aspal.

Bahkan, sekitar 500 meter sepanjang jalan dusun dicoret dengan cat berisi tulisan protes. Di antaranya bertuliskan, ‘Masyarakat Tidak Butuh Debu, Masyarakat Maunya Es Teh’, ‘Ora Mangan Beras tapi Mangan Bleduk’.

“Pesannya sama. Kalau memang debu dari pembangunan terkena angin hingga sampai ke permukiman,” terang Ketua RT1/RW4 Dusun Selang M. Sodik.

Lelaki berkaus hitam itu menjelaskan bahwa mural yang ditulis di aspal dibuat warganya sekitar satu bulan lalu. Mereka protes dampak pembangunan bandara yang berada tepat di timur dusun.

Baca Juga :  Bupati Kab Kediri Ingatkan Banyakan dan Tarokan Percepat Vaksinasi

Menurut Sodik, debu berterbangan masuk ke lingkungan dusunnya. Selain itu, bising alat berat di area proyek bikin warga terganggu. “Sampai malam, terus menerus bunyinya. Sampai ke rumah,” ungkapnya.

Sebagai ketua RT, Sodik pun sempat diajak warga untuk bermusyawarah. “Akhirnya keluhan warga kami terima dan kami laporkan ke kasun dan ke Kades Bulusari,” terang lelaki berusia 60 tahun itu.

Sodik menjelaskan, hasil musyawarah itu telah diteruskan ke pihak pembangun bandara. Hasilnya, sekitar 100 kepala keluarga (KK) yang terdampak telah diberi kompensasi. Aktivitas pembangunan yang menimbulkan suara bising juga dihentikan. “Dulu dari pagi, sampai pagi lagi. Sekarang sekitar pukul 11 malam (23.00) sudah selesai,” ujar Sodik. Namun mural di jalanan dusun itu belum bisa hilang sepenuhnya.(syi/ndr)

Baca Juga :  Sungai Kuncir Siaga, Jembatan Cepoko Berguna

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/