26.4 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Riyadi, Pelopor Bersih-Bersih Sungai Gronjong Wariti

- Advertisement -

Dulu, sungai itu di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri ini sangat kotor. Berbau pula. Tak ada warga yang mau menjamah karena dianggap angker. Kini, Sungai Gronjong Wariti ini jadi bersih dan indah.

 

Memasuki gapura yang terbuat dari rangkaian bambu khas pedesaan ini mulai terdengar gemericik air. Semakin dekat, suara aliran air itu makin keras terdengar. Terutama ketika sudah berjarak tiga meter menuju titik pusat Sungai Gronjong Wariti.

Sungai Gronjong Wariti adalah sungai yang terletak di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan. Sungai itu sekarang merupakan kawasan wisata unggulan yang begitu dibanggakan warga desa setempat. Aliran airnya jernih, bersih. Menjadi pemikat bagi yang mengunjungi.

Namun, siapa kira kalau dulunya sungai tersebut sangat kotor. Bahkan tidak pernah terjamah aktivitas manusia. “Orang bilang sungai ini wingit, banyak makhluk halusnya,” ujar Riyadi, warga setempat yang sekaligus menjadi pelopor aksi bersih-bersih yang membuat sungai tersebut berubah 180 derajat seperti sekarang ini.

- Advertisement -

Awalnya, warga sebatas tahu keberadaan Sungai Gronjong ini. Tanpa memberikan perhatian lebih terhadap kebersihannya. Kondisi yang kotor, kumuh, suasana yang wingit, serta kondisi yang rawan banjir saat musim hujan adalah alasan warga pesimistis dan malas untuk merawat kebersihannya.

Namun, ada yang berbeda di benak Riyadi. Lelaki yang biasa dipanggil Ndarik itu begitu optimistis melihat peluang dari Sungai Gronjong tersebut. “Nggak tahu ya, saya merasa yakin saja. Bila sungai ini bersih, bisa berdampak positif bagi warga,” ungkapnya saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri di salah satu warung kopi Grojokan Wariti.

Ndarik kemudian bercerita ,awalnya ia hanya mendapatkan cemoohan dan gunjingan warga. Banyak yang bertanya mengapa ia mau berkotor-kotor membersihkan sungai yang tidak terjamah. Tak sedikit yang menertawakannya. Namun, hal itu justru menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus membersihkan sungai.  

Ndarik tidak sendiri dalam  mengambil langkah awal membersihkan sungai di kampung halamannya ini. Ia ditemani oleh Bashori, yang sangat optimistis bila sungai ini bisa digunakan untuk jalur perahu maupun arung jeram. Yang pasti, Ndarik dan Bashori sama-sama merindukan kondisi sungai yang bersih seperti saat mereka masih kecil.

Baca Juga :  Melihat Kampung Emping Melinjo di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan

Pembersihan sungai Gronjong ini dilakukan sejak Desember 2017 hingga Januari 2018. “Cukup lama kami bersih-bersih. Karena banyak yang menyumbat dan menghambat aliran air. Sampai kayu yang besarpun ada di sungai ini,” ceritanya. Dalam waktu sebulan, warga setempat perlahan ikut serta dalam membersihkan sungai yang terletak antara Dusun Mejono dan Dusun Sumber Mulyo ini. Sehingga pembersihan dan penataan lingkungannya menjadi lebih cepat dan ringan.

Diakui Ndarik, saat sungai mulai terlihat bersih, antusiasme warga lebih terlihat. Yang laki-laki ikut menata lingkungan sekitar sungai agar lebih indah. Sedangkan yang perempuan menyiapkan sajian makanan, camilan, hingga kopi secara gratis.

Anggota karang taruna tak ketinggalan. Mereka menggambar, mengecat, dan memberikan warna pada taman maupun kolam renang di sekitar sungai.

Grojokan Wariti sendiri memiliki makna sebagai sungai sumber kehidupan. Yang diambil dari bahasa sansekerta. Pemberian nama Wariti di belakang Gronjong adalah nama yang disematkan oleh Sekretaris Desa Mejono Abdul Mujito. “Maknanya sesuai, ketika sungai ini bersih, warga bisa menjadikannya sumber ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup,” terang laki-laki 53 tahun ini sambil menunjukan pada wartawan letak pedagang-pedagang dan usaha kecil milik warga di area Gronjong Wariti.

Ndarik juga begitu bersyukur ketika lokasi wisata milik desa ini sudah cukup dikenal secara luas oleh warga Kediri dan sekitarnya. Rasa optimismenya kini membuahkan hasil. Sungai yang tadinya kotor saat ini sudah bisa difungsikan dan dinikmati keindahannya oleh siapa saja yang berkunjung.

Masih di lokasi yang sama, Ujang Rohman, pengelola kolam renang anak-anak di Gronjong Wariti mengakui bila kawasan wisata ini merupakan wisata air termurah di dunia. “Karena beangkat dari alam, tidak terlalu banyak buatan manusia. Jadi biaya masuknya murah. Asal jangan membuang sampah sembarangan,” pungkasnya.

Baca Juga :  Ahmad Yusuf Afandi, Siswa MI Thoriqul Huda Tenggelam di Brantas

 

 

 

Cocok dengan Makna sebagai Sumber Kehidupan

 

Wariti yang bermakna sumber kehidupan mulai terlihat saat sungai ini menjadi kawasan wisata milik Desa Mejono. Banyak warga setempat yang mencari keuntungan ekonomis dengan berjualan di kawasan Gronjong Wariti. Kebanyakan dari mereka adalah berjualan kopi, makanan ringan, hingga sajian makanan berat seperti rujak petis hingga mi ayam.

Tidak hanya dalam bidang makanan, penjaga kolam hingga penjaga taman bermain pun terbagi menjadi beberapa orang dengan fokusnya masing-masing. “Jualan di sini Alhamdulillah membantu pemasukan ekonomi. Apalagi pas hari libur, penuh semua,” ujar Juwaidah, salah satu pemilik warung kopi di Gronjong Wariti.

Juwaidah mengakui bila keberadaan wisata milik desa ini dampaknya tidak hanya terasa bagi dirinya saja. Melainkan juga bagi warga setempat. Mulai dampak ekonomi, dampak eksistensi karena semakin dikenal potensi desanya, sampai dampak kekompakan warga yang semakin terlihat saat kerja bakti merawat dan mengelola Gronjong Wariti.

Perempuan 41 tahun ini menjelaskan bila lahan yang tersedia untuk berjualan di sekitar lokasi pariwisata ini tersedia khusus bagi warga setempat. Serta tidak dipungut pajak sama sekali. “Ya Cuma uang kebersihan. Kalau itukan ringan dan untuk kepentingan bersama,” papar Juwaidah.

Uang kebersihan itu juga kembali untuk warga. Biasanya direalisasikan untuk membeli tempat sampah, alat kebersihan, dan kebutuhan lainnya. Agar bisa untuk merawat wisata air yang kerap dikunjungi siswa dan pelajar ini.

 

Gronjong Wariti

 

1.     Bermakna sumber kehidupan bagi warga Desa Mejono

2.     Keberadaannya menambah pemasukan ekonomi warga setempat

3.     Keberadaanya membuat warga semakin kompak memelihara potensi desa

4.     Kondisinya saat ini membuktikan bila sungai yang kotor mampu kembali dimanfaatkan

- Advertisement -

Dulu, sungai itu di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri ini sangat kotor. Berbau pula. Tak ada warga yang mau menjamah karena dianggap angker. Kini, Sungai Gronjong Wariti ini jadi bersih dan indah.

 

Memasuki gapura yang terbuat dari rangkaian bambu khas pedesaan ini mulai terdengar gemericik air. Semakin dekat, suara aliran air itu makin keras terdengar. Terutama ketika sudah berjarak tiga meter menuju titik pusat Sungai Gronjong Wariti.

Sungai Gronjong Wariti adalah sungai yang terletak di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan. Sungai itu sekarang merupakan kawasan wisata unggulan yang begitu dibanggakan warga desa setempat. Aliran airnya jernih, bersih. Menjadi pemikat bagi yang mengunjungi.

Namun, siapa kira kalau dulunya sungai tersebut sangat kotor. Bahkan tidak pernah terjamah aktivitas manusia. “Orang bilang sungai ini wingit, banyak makhluk halusnya,” ujar Riyadi, warga setempat yang sekaligus menjadi pelopor aksi bersih-bersih yang membuat sungai tersebut berubah 180 derajat seperti sekarang ini.

Awalnya, warga sebatas tahu keberadaan Sungai Gronjong ini. Tanpa memberikan perhatian lebih terhadap kebersihannya. Kondisi yang kotor, kumuh, suasana yang wingit, serta kondisi yang rawan banjir saat musim hujan adalah alasan warga pesimistis dan malas untuk merawat kebersihannya.

Namun, ada yang berbeda di benak Riyadi. Lelaki yang biasa dipanggil Ndarik itu begitu optimistis melihat peluang dari Sungai Gronjong tersebut. “Nggak tahu ya, saya merasa yakin saja. Bila sungai ini bersih, bisa berdampak positif bagi warga,” ungkapnya saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri di salah satu warung kopi Grojokan Wariti.

Ndarik kemudian bercerita ,awalnya ia hanya mendapatkan cemoohan dan gunjingan warga. Banyak yang bertanya mengapa ia mau berkotor-kotor membersihkan sungai yang tidak terjamah. Tak sedikit yang menertawakannya. Namun, hal itu justru menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus membersihkan sungai.  

Ndarik tidak sendiri dalam  mengambil langkah awal membersihkan sungai di kampung halamannya ini. Ia ditemani oleh Bashori, yang sangat optimistis bila sungai ini bisa digunakan untuk jalur perahu maupun arung jeram. Yang pasti, Ndarik dan Bashori sama-sama merindukan kondisi sungai yang bersih seperti saat mereka masih kecil.

Baca Juga :  .....Resikan.....

Pembersihan sungai Gronjong ini dilakukan sejak Desember 2017 hingga Januari 2018. “Cukup lama kami bersih-bersih. Karena banyak yang menyumbat dan menghambat aliran air. Sampai kayu yang besarpun ada di sungai ini,” ceritanya. Dalam waktu sebulan, warga setempat perlahan ikut serta dalam membersihkan sungai yang terletak antara Dusun Mejono dan Dusun Sumber Mulyo ini. Sehingga pembersihan dan penataan lingkungannya menjadi lebih cepat dan ringan.

Diakui Ndarik, saat sungai mulai terlihat bersih, antusiasme warga lebih terlihat. Yang laki-laki ikut menata lingkungan sekitar sungai agar lebih indah. Sedangkan yang perempuan menyiapkan sajian makanan, camilan, hingga kopi secara gratis.

Anggota karang taruna tak ketinggalan. Mereka menggambar, mengecat, dan memberikan warna pada taman maupun kolam renang di sekitar sungai.

Grojokan Wariti sendiri memiliki makna sebagai sungai sumber kehidupan. Yang diambil dari bahasa sansekerta. Pemberian nama Wariti di belakang Gronjong adalah nama yang disematkan oleh Sekretaris Desa Mejono Abdul Mujito. “Maknanya sesuai, ketika sungai ini bersih, warga bisa menjadikannya sumber ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup,” terang laki-laki 53 tahun ini sambil menunjukan pada wartawan letak pedagang-pedagang dan usaha kecil milik warga di area Gronjong Wariti.

Ndarik juga begitu bersyukur ketika lokasi wisata milik desa ini sudah cukup dikenal secara luas oleh warga Kediri dan sekitarnya. Rasa optimismenya kini membuahkan hasil. Sungai yang tadinya kotor saat ini sudah bisa difungsikan dan dinikmati keindahannya oleh siapa saja yang berkunjung.

Masih di lokasi yang sama, Ujang Rohman, pengelola kolam renang anak-anak di Gronjong Wariti mengakui bila kawasan wisata ini merupakan wisata air termurah di dunia. “Karena beangkat dari alam, tidak terlalu banyak buatan manusia. Jadi biaya masuknya murah. Asal jangan membuang sampah sembarangan,” pungkasnya.

Baca Juga :  Trauma, Pengungsi Macanan Pindah ke TK Dharma Wanita II

 

 

 

Cocok dengan Makna sebagai Sumber Kehidupan

 

Wariti yang bermakna sumber kehidupan mulai terlihat saat sungai ini menjadi kawasan wisata milik Desa Mejono. Banyak warga setempat yang mencari keuntungan ekonomis dengan berjualan di kawasan Gronjong Wariti. Kebanyakan dari mereka adalah berjualan kopi, makanan ringan, hingga sajian makanan berat seperti rujak petis hingga mi ayam.

Tidak hanya dalam bidang makanan, penjaga kolam hingga penjaga taman bermain pun terbagi menjadi beberapa orang dengan fokusnya masing-masing. “Jualan di sini Alhamdulillah membantu pemasukan ekonomi. Apalagi pas hari libur, penuh semua,” ujar Juwaidah, salah satu pemilik warung kopi di Gronjong Wariti.

Juwaidah mengakui bila keberadaan wisata milik desa ini dampaknya tidak hanya terasa bagi dirinya saja. Melainkan juga bagi warga setempat. Mulai dampak ekonomi, dampak eksistensi karena semakin dikenal potensi desanya, sampai dampak kekompakan warga yang semakin terlihat saat kerja bakti merawat dan mengelola Gronjong Wariti.

Perempuan 41 tahun ini menjelaskan bila lahan yang tersedia untuk berjualan di sekitar lokasi pariwisata ini tersedia khusus bagi warga setempat. Serta tidak dipungut pajak sama sekali. “Ya Cuma uang kebersihan. Kalau itukan ringan dan untuk kepentingan bersama,” papar Juwaidah.

Uang kebersihan itu juga kembali untuk warga. Biasanya direalisasikan untuk membeli tempat sampah, alat kebersihan, dan kebutuhan lainnya. Agar bisa untuk merawat wisata air yang kerap dikunjungi siswa dan pelajar ini.

 

Gronjong Wariti

 

1.     Bermakna sumber kehidupan bagi warga Desa Mejono

2.     Keberadaannya menambah pemasukan ekonomi warga setempat

3.     Keberadaanya membuat warga semakin kompak memelihara potensi desa

4.     Kondisinya saat ini membuktikan bila sungai yang kotor mampu kembali dimanfaatkan

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/