23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Kisah Relawan Penjaga ‘Lintasan Maut’ di Kediri

Mereka kerja suka rela. Menyisihkan waktu untuk membantu pengguna jalan. Toh, masih banyak yang memandang miring.

 

“Rame mas dalane, ayo ndang mlaku (ramai jalannya, ayo segera berjalan, red),” teriak seorang lelaki ber-vest warna oranye ke arah pengendara yang berjalan pelan atau bahkan berhenti.

Pagi menjelang siang itu, pengendara yang melintas di perlintasan kereta api Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih tergolong ramai. Namun, mereka memilih berjalan lambat atau berhenti untuk melihat bekas kecelakaan kereta api dengan mobil mini bus Isuzu Elf yang terjadi pagi harinya. Kondisi itulah yang membuat Oky Haritama, sang pemuda berompi itu berteriak meminta pengendara tak berhenti lama-lama.

Oky sehari-hari adalah relawan penjaga perlintasan kereta api itu. Bekerja berkelompok, dengan rekannya yang juga asal Desa Branggahan. Bergiliran mulai pukul 05.00 hingga 23.00. Saat itu giliran dia jaga. Hingga pukul 17.00.

Menurut pemuda 29 tahun itu, saat kecelakaan kelompoknya tak berjaga. Sebab masih pukul 04.30. Namun, bila ada orang yang jaga itu bukan dari kelompoknya. Sebab, mereka adalah relawan. Hanya bertugas secara sukarela. Tidak bisa 24 jam memantau lokasi.

Baca Juga :  Di Balik Kabutnya Terhampar Hutan Pinus

“Kalau malam kami pulang. Kan masing-masing punya kerjaan dan kehidupan di rumah,” dalihnya.

Yang membuat hati Oky kesal, adalah komentar-komentar yang berseliweran di dunia maya. Komentar itu membuatnya mengelus dada. Beberapa komentar mendiskreditkan para relawan itu. Mulai yang menyebut sudah dibayar tapi tak kerja, atau bisanya Cuma awe-awe saja.

“yang ini perlu diluruskan. Kami ini relawan, tidak dibayar sama sekali. Di kasih ya silakan, tidak juga tak apa-apa,” tegasnya.

Beberapa kali dia menuliskan kata di kolom komentar di salah satu grup Facebook. Entah dibaca atau tidak, yang penting dia berusaha meluruskan pandangan warganet.

“Kalau misal kami gak jaga pun gak masalah. Wong yang jaga juga kerja di sawah. Saya juga biasanya pagi atau pulang dari sini nanti, ke sawah. Saya secara sukarela mengatur lalu lintas di sini ya karena peduli. Saya warga sini (Branggahan, Red), masa ya pengen ada kejadian gak enak gini,” terangnya.

Tak hanya komentar negatif yang dia terima, sehari-hari dia juga sering mendapati sikap pengguna jalan yang tak patut. Ada yang sudah diberhentikan meskipun sudah tahu kereta mau lewat. Alasannya kereta masih jauh atau tengah terburu-buru. Sering pula motor berkenalpot brong atau trail yang justru tancap gas ketika tahu ada kereta hendak melintas.

Baca Juga :  PT KAI Ingatkan Warga Jangan Sembarangan Melintasi Rel

Karena itu, pria yang empat tahun jadi relawan penjaga perlintasan itu akan lebih senang bila pemerintah memasang palang pintu. “Malah bagus itu. Wong ini itu jalan vital. Ada jembatan besar. Perbatasan Kediri-Tulungagung. Mau melintas, paling dekat, ya di jembatan Alun-Alun. Kalau bisa ya, diberi palang pintu perlintasan kereta api otomatis,” papar Oky.

Justru, selama ini dia banyak nambel-nya daripada untung. Seperti harus menguruk perlintasan agar rel besinya tidak mengganggu kendaraan. Satu minggu sekali harus diisi pasir dan disirami air yang ia ambil dari rumah.

Sejurus kemudian, lambaian tangan Oky dan Hendra, sang adik yang juga ikut jadi relawan, mengisyaratkan bahwa kendaraan dari arah barat harus berhenti dahulu. Truk bermuatan padi dari arah Ngadiluwih hendak lewat. Sopir truk pun mengulurkan tangan memberikan uang kertas sembari berterimakasih kepada keduanya. “Nggih, atos-atos lur (hati-hati di jalan, pak, terima kasih, Red),” ujar keduanya.(fud)

 

- Advertisement -

Mereka kerja suka rela. Menyisihkan waktu untuk membantu pengguna jalan. Toh, masih banyak yang memandang miring.

 

“Rame mas dalane, ayo ndang mlaku (ramai jalannya, ayo segera berjalan, red),” teriak seorang lelaki ber-vest warna oranye ke arah pengendara yang berjalan pelan atau bahkan berhenti.

Pagi menjelang siang itu, pengendara yang melintas di perlintasan kereta api Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih tergolong ramai. Namun, mereka memilih berjalan lambat atau berhenti untuk melihat bekas kecelakaan kereta api dengan mobil mini bus Isuzu Elf yang terjadi pagi harinya. Kondisi itulah yang membuat Oky Haritama, sang pemuda berompi itu berteriak meminta pengendara tak berhenti lama-lama.

Oky sehari-hari adalah relawan penjaga perlintasan kereta api itu. Bekerja berkelompok, dengan rekannya yang juga asal Desa Branggahan. Bergiliran mulai pukul 05.00 hingga 23.00. Saat itu giliran dia jaga. Hingga pukul 17.00.

Menurut pemuda 29 tahun itu, saat kecelakaan kelompoknya tak berjaga. Sebab masih pukul 04.30. Namun, bila ada orang yang jaga itu bukan dari kelompoknya. Sebab, mereka adalah relawan. Hanya bertugas secara sukarela. Tidak bisa 24 jam memantau lokasi.

Baca Juga :  Ikut Lomba Balap Burung

“Kalau malam kami pulang. Kan masing-masing punya kerjaan dan kehidupan di rumah,” dalihnya.

Yang membuat hati Oky kesal, adalah komentar-komentar yang berseliweran di dunia maya. Komentar itu membuatnya mengelus dada. Beberapa komentar mendiskreditkan para relawan itu. Mulai yang menyebut sudah dibayar tapi tak kerja, atau bisanya Cuma awe-awe saja.

“yang ini perlu diluruskan. Kami ini relawan, tidak dibayar sama sekali. Di kasih ya silakan, tidak juga tak apa-apa,” tegasnya.

Beberapa kali dia menuliskan kata di kolom komentar di salah satu grup Facebook. Entah dibaca atau tidak, yang penting dia berusaha meluruskan pandangan warganet.

“Kalau misal kami gak jaga pun gak masalah. Wong yang jaga juga kerja di sawah. Saya juga biasanya pagi atau pulang dari sini nanti, ke sawah. Saya secara sukarela mengatur lalu lintas di sini ya karena peduli. Saya warga sini (Branggahan, Red), masa ya pengen ada kejadian gak enak gini,” terangnya.

Tak hanya komentar negatif yang dia terima, sehari-hari dia juga sering mendapati sikap pengguna jalan yang tak patut. Ada yang sudah diberhentikan meskipun sudah tahu kereta mau lewat. Alasannya kereta masih jauh atau tengah terburu-buru. Sering pula motor berkenalpot brong atau trail yang justru tancap gas ketika tahu ada kereta hendak melintas.

Baca Juga :  Anyaman Bahan Kipas asal Ngetos Tembus Lamongan

Karena itu, pria yang empat tahun jadi relawan penjaga perlintasan itu akan lebih senang bila pemerintah memasang palang pintu. “Malah bagus itu. Wong ini itu jalan vital. Ada jembatan besar. Perbatasan Kediri-Tulungagung. Mau melintas, paling dekat, ya di jembatan Alun-Alun. Kalau bisa ya, diberi palang pintu perlintasan kereta api otomatis,” papar Oky.

Justru, selama ini dia banyak nambel-nya daripada untung. Seperti harus menguruk perlintasan agar rel besinya tidak mengganggu kendaraan. Satu minggu sekali harus diisi pasir dan disirami air yang ia ambil dari rumah.

Sejurus kemudian, lambaian tangan Oky dan Hendra, sang adik yang juga ikut jadi relawan, mengisyaratkan bahwa kendaraan dari arah barat harus berhenti dahulu. Truk bermuatan padi dari arah Ngadiluwih hendak lewat. Sopir truk pun mengulurkan tangan memberikan uang kertas sembari berterimakasih kepada keduanya. “Nggih, atos-atos lur (hati-hati di jalan, pak, terima kasih, Red),” ujar keduanya.(fud)

 

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/