24.2 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Kena Amuk ODGJ saat Menyuntik Vaksin Covid-19

Sri Hartatik adalah salah satu vaksinator di Kota Angin. Selain harus tepat, Hartatik juga harus konsentrasi penuh berjam-jam saat vaksinasi Covid-19. Apalagi, dia juga harus melakukan vaksinasi pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

 

KAREN WIBI. NGANJUK, JP Radar Nganjuk

 

Bruakkkkk…! Terdengar suara pintu sedang dibanting. Suara bantingan pintu tersebut dibarengi dengan caci maki dari seseorang di balik pintu.

“Gak usah suntik. Ngaleh kono,” teriak seorang pria bertubuh tinggi besar. Meski badannya besar, pria tersebut terlihat ketakutan dengan Hartatik. Saat itu, Hartatik bersama tiga vaksinator dari Puskesmas Nganjuk mengunjungi rumah  ODGJ tersebut untuk vaksinasi Covid-19.

Hartatik berusaha keras membujuk dengan kata-kata lembut agar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tersebut mau divaksin.

Meski pintu ditutup dengan kasar, Hartatik tidak menyerah. Dia tetap tersenyum dan berusaha membujuk. “Mas ganteng. Ayo suntik biar tambah ganteng,” bujuknya.

Sayang, ODGJ tetap menolak dengan kata-kata kasar. Penolakan kasar tidak membuat Hartatik sakit hati. Dia hanya menganggap penolakan itu sebagai angin lalu. “Sudah biasa hal seperti ini,” ujar Hartatik.

Sebagai vaksinator, Hartatik mendapat tugas memvaksin ODGJ di Kelurahan Begadung, Payaman, dan  Ganungkidul. Totalnya, ada  124 ODGJ di wilayah Kecamatan Nganjuk yang harus divaksin. Namun sayangnya, tidak banyak dari ODGJ tersebut yang mau untuk divaksin. “Salah satunya karena marah-marah itu tadi,” ujar perempuan asal Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso itu. Namun tidak hanya mendapat penolakan secara kasar seperti ODGJ. Ada banyak alasan yang menjadikan ODGJ tersebut tidak jadi divaksin.

Baca Juga :  Adi Brata, Pecinta Matematika, Peraih Satya Yasa Cundamani

Salah satunya seperti yang terjadi di Kelurahan Ganung Kidul. Alih-alih menolak dengan bersikap keras, ODGJ tersebut malah bersikap sangat santai. Sebelum disuntik, dirinya beralasan untuk pamit ke kamar mandi untuk buang air kecil. Pamitnya sebentar.

Lima sampai 10 menit berlalu. ODGJ yang sedang ditunggu oleh tim vaksinator tidak kunjung kembali. Merasa curiga, salah satu petugas mencoba mengecek orang tersebut di kamar mandi. Ternyata, sedari tadi dirinya bermain air.

Ketika dibujuk oleh vaksinator, ODGJ tersebut menolak. Tidak ingin memaksa cukup keras, tim vaksinator mencoba membujuk lebih lembut lagi. Namun sayang, ODGJ tersebut lebih asyik bermain air. “Akhirnya jadi gagal. Karena kalau dipaksa, mereka bisa marah,” ujar perempuan berusia 51 tahun itu.

Baca Juga :  Kades Harus Mendata Warga dari Zona Merah

Perlu diketahui, tidak banyak ODGJ yang mau datang ke puskesmas atau kantor kelurahan untuk divaksin. Untuk menyiasati hal tersebut, beberapa vaksinator harus mau datang ke rumah ODGJ tersebut. Satu per satu rumah didatangi oleh empat petugas itu didampingi Bhabinkamtibmas dan Babinsa.

Mendapat penolakan seperti yang barusan terjadi sudah sering Hartatik terima. Jika tidak kuat mental, bisa-bisa vaksinator tersebut menjadi marah. Namun untungnya, Hartatik adalah orang yang sabar.

Dia memilih untuk tetap tersenyum.Perempuan yang juga merupakan bidan itu sangat senang jika warga sadar pentingnya vaksin. “Keluarga ODGJ yang mau mengantarkan itu juga luar biasa,” ujarnya.

Tidak hanya mendapat pengalaman yang buruk, Tatik juga mendapat banyak pengalaman yang menyenangkan. Salah satunya adalah saat vaksinasi sedang berlangsung di Kelurahan Ganungkidul.

Pada waktu tersebut, seorang pria ODGJ tampak datang ke ruangan vaksin. Tanpa banyak bicara, pria tersebut minta untuk divaksin. Setelah didata dan dicatat namanya, pria tersebut lantas divaksin. “Padahal ODGJ. Tapi dia sadar pentingnya vaksin,” ujar Hartatik.

- Advertisement -

Sri Hartatik adalah salah satu vaksinator di Kota Angin. Selain harus tepat, Hartatik juga harus konsentrasi penuh berjam-jam saat vaksinasi Covid-19. Apalagi, dia juga harus melakukan vaksinasi pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

 

KAREN WIBI. NGANJUK, JP Radar Nganjuk

 

Bruakkkkk…! Terdengar suara pintu sedang dibanting. Suara bantingan pintu tersebut dibarengi dengan caci maki dari seseorang di balik pintu.

“Gak usah suntik. Ngaleh kono,” teriak seorang pria bertubuh tinggi besar. Meski badannya besar, pria tersebut terlihat ketakutan dengan Hartatik. Saat itu, Hartatik bersama tiga vaksinator dari Puskesmas Nganjuk mengunjungi rumah  ODGJ tersebut untuk vaksinasi Covid-19.

Hartatik berusaha keras membujuk dengan kata-kata lembut agar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tersebut mau divaksin.

Meski pintu ditutup dengan kasar, Hartatik tidak menyerah. Dia tetap tersenyum dan berusaha membujuk. “Mas ganteng. Ayo suntik biar tambah ganteng,” bujuknya.

Sayang, ODGJ tetap menolak dengan kata-kata kasar. Penolakan kasar tidak membuat Hartatik sakit hati. Dia hanya menganggap penolakan itu sebagai angin lalu. “Sudah biasa hal seperti ini,” ujar Hartatik.

Sebagai vaksinator, Hartatik mendapat tugas memvaksin ODGJ di Kelurahan Begadung, Payaman, dan  Ganungkidul. Totalnya, ada  124 ODGJ di wilayah Kecamatan Nganjuk yang harus divaksin. Namun sayangnya, tidak banyak dari ODGJ tersebut yang mau untuk divaksin. “Salah satunya karena marah-marah itu tadi,” ujar perempuan asal Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso itu. Namun tidak hanya mendapat penolakan secara kasar seperti ODGJ. Ada banyak alasan yang menjadikan ODGJ tersebut tidak jadi divaksin.

Baca Juga :  Adi Brata, Pecinta Matematika, Peraih Satya Yasa Cundamani

Salah satunya seperti yang terjadi di Kelurahan Ganung Kidul. Alih-alih menolak dengan bersikap keras, ODGJ tersebut malah bersikap sangat santai. Sebelum disuntik, dirinya beralasan untuk pamit ke kamar mandi untuk buang air kecil. Pamitnya sebentar.

Lima sampai 10 menit berlalu. ODGJ yang sedang ditunggu oleh tim vaksinator tidak kunjung kembali. Merasa curiga, salah satu petugas mencoba mengecek orang tersebut di kamar mandi. Ternyata, sedari tadi dirinya bermain air.

Ketika dibujuk oleh vaksinator, ODGJ tersebut menolak. Tidak ingin memaksa cukup keras, tim vaksinator mencoba membujuk lebih lembut lagi. Namun sayang, ODGJ tersebut lebih asyik bermain air. “Akhirnya jadi gagal. Karena kalau dipaksa, mereka bisa marah,” ujar perempuan berusia 51 tahun itu.

Baca Juga :  Semangat Berbagi demi Rida Allah

Perlu diketahui, tidak banyak ODGJ yang mau datang ke puskesmas atau kantor kelurahan untuk divaksin. Untuk menyiasati hal tersebut, beberapa vaksinator harus mau datang ke rumah ODGJ tersebut. Satu per satu rumah didatangi oleh empat petugas itu didampingi Bhabinkamtibmas dan Babinsa.

Mendapat penolakan seperti yang barusan terjadi sudah sering Hartatik terima. Jika tidak kuat mental, bisa-bisa vaksinator tersebut menjadi marah. Namun untungnya, Hartatik adalah orang yang sabar.

Dia memilih untuk tetap tersenyum.Perempuan yang juga merupakan bidan itu sangat senang jika warga sadar pentingnya vaksin. “Keluarga ODGJ yang mau mengantarkan itu juga luar biasa,” ujarnya.

Tidak hanya mendapat pengalaman yang buruk, Tatik juga mendapat banyak pengalaman yang menyenangkan. Salah satunya adalah saat vaksinasi sedang berlangsung di Kelurahan Ganungkidul.

Pada waktu tersebut, seorang pria ODGJ tampak datang ke ruangan vaksin. Tanpa banyak bicara, pria tersebut minta untuk divaksin. Setelah didata dan dicatat namanya, pria tersebut lantas divaksin. “Padahal ODGJ. Tapi dia sadar pentingnya vaksin,” ujar Hartatik.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/