22.7 C
Kediri
Monday, August 8, 2022

Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (4)

Tak hanya segar rasa buahnya, sirsak  mampu mengangkat perekonomian Desa Pehkulon, Sampai-sampai, pemerintah desa setempat butuh menanam 10 ribu pohon lagi. Semuanya demi kebutuhan bahan baku UMKM.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

 

Kades Pehkulon, Papar, Nurhadi, tertarik pada sirsak  karena buah itu memiliki banyak manfaat. Selain untuk konsumsi, juga bagus bagi kesehatan. Membuatnya bersemangat melakukan budi daya.

“Semua buah itu memiliki manfaat. Namun sirsak  manfaatnya lebih banyak. Dikonsumsi langsung enak, diolah dulu juga enak dan tidak menghilangkan manfaatnya,” ungkap Nurhadi.

Selain itu, sirsak  bukan buah musiman. Bisa tumbuh dan berbuah kapan saja. Sehingga, bila dijadikan bahan baku minuman, ketersediaannya tak membuat repot. Karena itu sangat pas untuk bahan olahan bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desanya.

Apalagi saat ini desanya telah menanam 10 ribu bibit sirsak . Nantinya, pohon-pohon itu untuk memenuhi kebutuhan UMKM olahan sirsak  yang terus dikembangkan di desanya.

Desa Pehkulon adalah salah satu desa pemenang dalam Anugerah Desa 2018. Mereka menang di kategori pemberdayaan UMKM. Terkait hal itu, Nurhadi mengaku tak menyangka. Pasalnya dua desa nominator lainnya dianggapnya  bagus dalam pemberdayaan UMKM.

Baca Juga :  Heboh Tukang Becak Tewas Tergeletak di Jalan Kawi, Mojoroto, Kediri

Sirsak  di Desa Pehkulon ini mulai dikembangkan masal pada awal 2015. Saat itu mereka mendapat pembagian bibit dari kecamatan sebanyak 300 batang. Dibagikan ke warga untuk ditanam di pekarangan atau lahan kosong yang ada. “Bulan selanjutnya kami dapat bantuan bibit sirsak  lagi sebanyak 700 bibit dari Pak Sutrisno, ketua Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan (TP3, Red),” ujar ayah dua anak ini.

Pada pertengahan 2017, Nurhadi mulai menggerakan ibu-ibu rumah tangga untuk mengolah mamin yang berasal dari sirsak . Dengan mengikutkan mereka pada pelatihan yang juga dibantu oleh pihak kecamatan.

Tak butuh waktu lama, usai pelatihan, beberapa ibu-ibu rumah tangga Desa Pehkulon sudah langsung praktik. Saat itulah produk UMKM dari olahan sirsak  Desa Pehkulon mulai muncul. Dalam setahun muncul lima UMKM yang memproduksi makanan berbahan dasar sirsak . Sari buah, dodol, sirup, brownis, wingko, hingga krupuk gambir rasa sirsak  pun ada. Perkembangan UMKM olahan sirsak  sangat positif. Menu baru terus bermunculan.

Baca Juga :  Tipu Pemandu Lagu, Buser Palsu Asal Kepung Dituntut DuaTahun

Tidak hanya pelaku UMKM yang mulai berkembang, karang taruna desa juga digerakan untuk mengelola lahan kosong yang ditanami buah sirsak . Dan itu dibawah koordinasi kepala dusun masing-masing.

Nurhadi berharap agar langkah yang sudah ditempuh bersama ini mampu berkembang pesat dan saling memberikan manfaat. Mulai dari budi daya tanaman, pemberdayaan UMKM, sentra wisata, hingga edukasi bagi siapa saja yang mengunjungi Desa Pehkulon.

Sementara itu Sri Andayani, istri Nurhadi mengakui bila saat in sedang ada pengembangan olahan daun sirsak nya untuk minuman serbuk. “Kami ibu-ibu sudah mengikuti pelatihan. Tinggal realisasi saja untuk produksi,” jelasnya.

Ia mengakui bila saat ini untuk mendukung UMKM sudah proses pembangunan rumah produksi setelah pembangunan kantor Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Untuk pemasaran produk olahan sirsak  sampai saat ini sudah merambah melalui online, melalui facebook, hingga pengiriman ke luar daerah. (fud)

- Advertisement -

Tak hanya segar rasa buahnya, sirsak  mampu mengangkat perekonomian Desa Pehkulon, Sampai-sampai, pemerintah desa setempat butuh menanam 10 ribu pohon lagi. Semuanya demi kebutuhan bahan baku UMKM.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

 

Kades Pehkulon, Papar, Nurhadi, tertarik pada sirsak  karena buah itu memiliki banyak manfaat. Selain untuk konsumsi, juga bagus bagi kesehatan. Membuatnya bersemangat melakukan budi daya.

“Semua buah itu memiliki manfaat. Namun sirsak  manfaatnya lebih banyak. Dikonsumsi langsung enak, diolah dulu juga enak dan tidak menghilangkan manfaatnya,” ungkap Nurhadi.

Selain itu, sirsak  bukan buah musiman. Bisa tumbuh dan berbuah kapan saja. Sehingga, bila dijadikan bahan baku minuman, ketersediaannya tak membuat repot. Karena itu sangat pas untuk bahan olahan bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desanya.

Apalagi saat ini desanya telah menanam 10 ribu bibit sirsak . Nantinya, pohon-pohon itu untuk memenuhi kebutuhan UMKM olahan sirsak  yang terus dikembangkan di desanya.

Desa Pehkulon adalah salah satu desa pemenang dalam Anugerah Desa 2018. Mereka menang di kategori pemberdayaan UMKM. Terkait hal itu, Nurhadi mengaku tak menyangka. Pasalnya dua desa nominator lainnya dianggapnya  bagus dalam pemberdayaan UMKM.

Baca Juga :  SMK Al Huda Kota Kediri Ikuti Program Rebranding Revitalisasi SMK

Sirsak  di Desa Pehkulon ini mulai dikembangkan masal pada awal 2015. Saat itu mereka mendapat pembagian bibit dari kecamatan sebanyak 300 batang. Dibagikan ke warga untuk ditanam di pekarangan atau lahan kosong yang ada. “Bulan selanjutnya kami dapat bantuan bibit sirsak  lagi sebanyak 700 bibit dari Pak Sutrisno, ketua Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan (TP3, Red),” ujar ayah dua anak ini.

Pada pertengahan 2017, Nurhadi mulai menggerakan ibu-ibu rumah tangga untuk mengolah mamin yang berasal dari sirsak . Dengan mengikutkan mereka pada pelatihan yang juga dibantu oleh pihak kecamatan.

Tak butuh waktu lama, usai pelatihan, beberapa ibu-ibu rumah tangga Desa Pehkulon sudah langsung praktik. Saat itulah produk UMKM dari olahan sirsak  Desa Pehkulon mulai muncul. Dalam setahun muncul lima UMKM yang memproduksi makanan berbahan dasar sirsak . Sari buah, dodol, sirup, brownis, wingko, hingga krupuk gambir rasa sirsak  pun ada. Perkembangan UMKM olahan sirsak  sangat positif. Menu baru terus bermunculan.

Baca Juga :  Heboh Tukang Becak Tewas Tergeletak di Jalan Kawi, Mojoroto, Kediri

Tidak hanya pelaku UMKM yang mulai berkembang, karang taruna desa juga digerakan untuk mengelola lahan kosong yang ditanami buah sirsak . Dan itu dibawah koordinasi kepala dusun masing-masing.

Nurhadi berharap agar langkah yang sudah ditempuh bersama ini mampu berkembang pesat dan saling memberikan manfaat. Mulai dari budi daya tanaman, pemberdayaan UMKM, sentra wisata, hingga edukasi bagi siapa saja yang mengunjungi Desa Pehkulon.

Sementara itu Sri Andayani, istri Nurhadi mengakui bila saat in sedang ada pengembangan olahan daun sirsak nya untuk minuman serbuk. “Kami ibu-ibu sudah mengikuti pelatihan. Tinggal realisasi saja untuk produksi,” jelasnya.

Ia mengakui bila saat ini untuk mendukung UMKM sudah proses pembangunan rumah produksi setelah pembangunan kantor Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Untuk pemasaran produk olahan sirsak  sampai saat ini sudah merambah melalui online, melalui facebook, hingga pengiriman ke luar daerah. (fud)

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Mulai Data Tanah Tol Agustus


Artikel Terbaru

/