30.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Action dengan Sentuhan Humanis

Duuaaarrrr… dor..dor.. Begitulah suara ledakan bom hingga baku tembak terdengar bersahutan. Kisah aksi teroris yang dilumpuhkan Polri itu difi lmkan lewat 22 Menit.

Terinspirasi dari kisah nyata pada 14 Januari 2016, tepatnya di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Film berjudul 22 Menit dibuat dengan durasi 75 menit. Sutradaranya Eugene Panji dan Myrna Paramita .

Walaupun terinspirasi dari kisah nyata, di dalamnya terdapat unsur cerita fiksi dan drama. Itu terlihat pada setiap karakter manusia yang terlibat dalam ledakan bom Thamrin.

Awal film ini dibuka dengan ledakan pertama yang terjadi di salah satu kafe di Jl MH Thamrin. Bom ini merupakan bunuh diri satu dari lima teroris yang memiliki tugas berbeda. Sontak, penonton dibuat kaget dengan ledakan bom di cerita yang menyeruak tiba-tiba

Mereka lalu diajak merasakan tragedi yang terjadi dua tahun lalu itu dengan alur maju mundur. Adegannya menampilkan berbagai sudut pandang humanistis. Mulai AKBP Ardi diperankan oleh Ario Bayu yang dalam film sedikit diceritakan kegelisahan keluarganya. Itu karena sebagai anggota Polri harus bertugas menumpas teroris.

Baca Juga :  Wasimin, Tukang Becak di Guyangan yang Rumahnya Terbakar

Diceritakan pula sosok Hasan yang sedang mencari pekerjaan dan melewati lokasi pengeboman. Film 22 Menit yang bergenre action drama ini pada intinya berkisah tentang aksi polisi anti teror dalam mensterilkan kawasan ledakan Jl MH Thamrin agar kembali kondusif.

Selama proses itu, kepolisian dapat membuktikan dalam waktu 22 menit mampu melakukannya dengan membagi tugas dan kewenangan masing-masing divisi. Kesan drama pada film ini terlihat dari performa totalitas aktor dan aktrisnya. Bahkan Ario Bayu harus rela menjalani latihan fisik selama satu bulan.

Cerita Keluarga hingga Kisah Cinta

Film 22 Menit ini juga memiliki fokus cerita yang berpindah-pindah. Mulai dari potret keluarga kecil aparat kepolisian, cerita tentang kesibukan perempuan era milineal, hingga tentang angkatan kerja yang sedang berusaha mencari pekerjaan.

Ada pula adegan polisi harus menghadapi emosi perempuan yang tidak ingin ditilang. Kemudian, kisah cinta anggota Polri muda yang masih simpang siur mengenai pernikahannya.

Baca Juga :  --- ‘Minke’ ---

Menariknya lagi, kita sebagai penonton yang bukan anggota dari aparat kepolisian mengetahui tingkat kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari sigap saat terjadi tragedi bom berlangsung, mengatur strategi dalam waktu cepat, kecekatan dalam melakukan baku tembak dengan teroris hingga kerja sama antar aparat dalam mensterilkan kawasan Jl MH Thamrin pasca ledakan bom teroris.

“Film ini menambah pengetahuan pada anak-anak akan kinerja Polri hingga tindakan teroris yang keji. Jangan takut. Harus dilawan,” terang Aiptu Srimulyono, anggota Polres Kediri Kota, yang turut menyaksikan film ini.

Hal serupa diungkapkan Wiranto, salah satu pemuda Kota Kediri. “Sebagai pemuda harus menonton film ini. Bahwa semua butuh perjuangan. Bahkan mensterilkan lokasi pascabom teroris terjadi,” terang ketua OSIS SMAN 8 Kediri ini pada Jawa Pos Radar Kediri.

- Advertisement -

Duuaaarrrr… dor..dor.. Begitulah suara ledakan bom hingga baku tembak terdengar bersahutan. Kisah aksi teroris yang dilumpuhkan Polri itu difi lmkan lewat 22 Menit.

Terinspirasi dari kisah nyata pada 14 Januari 2016, tepatnya di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Film berjudul 22 Menit dibuat dengan durasi 75 menit. Sutradaranya Eugene Panji dan Myrna Paramita .

Walaupun terinspirasi dari kisah nyata, di dalamnya terdapat unsur cerita fiksi dan drama. Itu terlihat pada setiap karakter manusia yang terlibat dalam ledakan bom Thamrin.

Awal film ini dibuka dengan ledakan pertama yang terjadi di salah satu kafe di Jl MH Thamrin. Bom ini merupakan bunuh diri satu dari lima teroris yang memiliki tugas berbeda. Sontak, penonton dibuat kaget dengan ledakan bom di cerita yang menyeruak tiba-tiba

Mereka lalu diajak merasakan tragedi yang terjadi dua tahun lalu itu dengan alur maju mundur. Adegannya menampilkan berbagai sudut pandang humanistis. Mulai AKBP Ardi diperankan oleh Ario Bayu yang dalam film sedikit diceritakan kegelisahan keluarganya. Itu karena sebagai anggota Polri harus bertugas menumpas teroris.

Baca Juga :  Polisi Amankan Satu Komputer dan Plinter

Diceritakan pula sosok Hasan yang sedang mencari pekerjaan dan melewati lokasi pengeboman. Film 22 Menit yang bergenre action drama ini pada intinya berkisah tentang aksi polisi anti teror dalam mensterilkan kawasan ledakan Jl MH Thamrin agar kembali kondusif.

Selama proses itu, kepolisian dapat membuktikan dalam waktu 22 menit mampu melakukannya dengan membagi tugas dan kewenangan masing-masing divisi. Kesan drama pada film ini terlihat dari performa totalitas aktor dan aktrisnya. Bahkan Ario Bayu harus rela menjalani latihan fisik selama satu bulan.

Cerita Keluarga hingga Kisah Cinta

Film 22 Menit ini juga memiliki fokus cerita yang berpindah-pindah. Mulai dari potret keluarga kecil aparat kepolisian, cerita tentang kesibukan perempuan era milineal, hingga tentang angkatan kerja yang sedang berusaha mencari pekerjaan.

Ada pula adegan polisi harus menghadapi emosi perempuan yang tidak ingin ditilang. Kemudian, kisah cinta anggota Polri muda yang masih simpang siur mengenai pernikahannya.

Baca Juga :  Kampanye Virtual, Kandidat Bikin Video Dadakan

Menariknya lagi, kita sebagai penonton yang bukan anggota dari aparat kepolisian mengetahui tingkat kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari sigap saat terjadi tragedi bom berlangsung, mengatur strategi dalam waktu cepat, kecekatan dalam melakukan baku tembak dengan teroris hingga kerja sama antar aparat dalam mensterilkan kawasan Jl MH Thamrin pasca ledakan bom teroris.

“Film ini menambah pengetahuan pada anak-anak akan kinerja Polri hingga tindakan teroris yang keji. Jangan takut. Harus dilawan,” terang Aiptu Srimulyono, anggota Polres Kediri Kota, yang turut menyaksikan film ini.

Hal serupa diungkapkan Wiranto, salah satu pemuda Kota Kediri. “Sebagai pemuda harus menonton film ini. Bahwa semua butuh perjuangan. Bahkan mensterilkan lokasi pascabom teroris terjadi,” terang ketua OSIS SMAN 8 Kediri ini pada Jawa Pos Radar Kediri.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/