31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Heri Purnomo, Tujuh Tahun Jadi Penambal Jalan Sukarela

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Namun, bagi Heri Purnomo sepanjang waktu itu tetap dia gunakan untuk menolong sesama. Menambal jalan berlubang dengan biaya sendiri.

Jalan beraspal yang membelah sawah itu berada di Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan. Ketika pukul 09.00 itu, suasananya ramai. Kendaraan terus berlalu-lalang di jalanan yang menghubungkan antara Plemahan dan wilayah Kecamatan Pare itu. Derunya sangat terasa di telinga orang yang berada di tepi jalan. Termasuk di satu kios sederhana yang terpasang banner bertuliskan Heri Purnomo, nama sang pemilik kios.

“Sebentar saya ambil selang pompa Mbak,” ucap Heri kepada seorang pengendara motor yang berhenti di kiosnya.

Cekatan dia menarik selang warna kuning yang tersambung dengan kompresor.  Ujung selang itu dia tancapkan ke mulut ban sepeda motor.  Tak butuh waktu lama ban yang semula gembos itu kembali terisi angin.

Beberapa saat kemudian datang seorang lelaki bersepeda motor. Membawa tabung gas melon. Berniat menukar dengan yang masih terisi.

“Masih habis ini tabungnya (elpiji 3 kg, Red),” ucap Heri menghadang keinginan si pengendara turun dari kendaraan. Raut wajah orang tersebut sedikit berkerut tanda kecewa. Sebelum akhirnya berlalu dari kios tersebut.

Sehari-hari Hari berada di kiosnya. Selain sebagai tempat jasa tambal ban dan pengisian angin,  kios tersebut juga menjadi toko kecil. Yang menjajakan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga :  Info Haji Kediri: Terwujud setelah Menunggu Sembilan Tahun

Pria 50 tahun ini memang tak beda dengan para pemilik toko atau penambal ban lain. Yang membedakan, adalah aktivitasnya yang selalu menambal jalanan berlubang dengan biaya sendiri. Aktivitas yang telah dilakukan sejak 2015 silam.

“Ya nambalnya hanya bisa Sabtu dan Minggu saja. Karena sehari-hari seperti ini, menjaga toko dan tambal ban,” ucapnya.

Aksinya sebagai sukarelawan penambal jalan berlubang sudah banyak diketahui masyarakat. Bahkan, pengguna media sosial sering memberi tanda jalan yang rusak. Berharap ditambal oleh Heri.

Heri benar-benar serius dalam menjalankan aktivitas sosialnya itu. Setiap kali akhir pekan dia sudah berangkat sejak subuh. Biasanya, bila tidak ada kejadian yang khusus, tambal-menambal jalan berlubang itu dia akhir sekitar pukul 7.00. Karena setelah itu giliran dia membuka jasa tambal ban dan toko kebutuhan sehari-harinya.

Dalam melakukan aktivitasnya Heri ditemani sepeda motor beroda tiga yang bernopol AG 2841 CV. Semua perlengkapan dia tempatkan di bak terbuka yang ada di bagian belakang. Terutama aspal dan tabung elpiji melon untuk memanaskan.

Meskipun melakukan kegiatan yang membantu orang lain, tak jarang dia mendapat perlakuan kurang menyenangkan. Misal, ada pengendara yang tetap menyerempetnya. Meskipun sudah dia beri tanda peringatan. Toh, sikap seperti itu tak mengurangi  kebahagiaannya telah membantu orang lain agar tidak celaka karena lubang jalan telah tertutup.

Baca Juga :  Danbrigif Mekanis 16/ WY bagi Inspirasi

Sebenarnya, kegiatan mengaspal jalan itu sudah dia lakukan sejak 2010. Ketika dia masih menjadi Kaur Pembangunan di Desa Langenharjo. Namun, saat itu, penambalan dilakukan dengan bahan sederhana. Hanya menutup lubang dengan pasir saja, tanpa dilapisi aspal.

Dia memang kesulitan membeli aspal. Karena harganya tidak murah. Satu tong, paling murah, seharga Rp 1,3 juta.

Akhirnya, dia bisa memperoleh aspal secara gratis. Yaitu dari sisa-sisa pengaspalan jalan. “Daripada jadi sampah mending saya gunakan menambal,” ucapnya.

Lama-kelamaan, banyak yang simpati dengan aktivitasnya itu. Terlebih saat kegiatannya itu viral di medsos pada 2017. Banyak yang memberi bantuan. Akhirnya, uang yang terkumpul bisa dia belikan aspal dengan kualitas lebih bagus.

Namun, dia tak melulu menunggu datangnya bantuan. Heri masih rela mencari uang. Caranya pun patut mendapat apresiasi. Setiap Minggu dia datang ke Car Free Day (CFD) di Monumen Simpang Lima Gumul (SLG). Berpakaian ala robot atau kostum unik lain, dia mengamen. Berharap pengunjung menyisihkan sebagian uangnya. Sayang, aktivitas mengamennya itu terhenti sejak pandemi Covid-19 menerjang tanah air.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Namun, bagi Heri Purnomo sepanjang waktu itu tetap dia gunakan untuk menolong sesama. Menambal jalan berlubang dengan biaya sendiri.

Jalan beraspal yang membelah sawah itu berada di Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan. Ketika pukul 09.00 itu, suasananya ramai. Kendaraan terus berlalu-lalang di jalanan yang menghubungkan antara Plemahan dan wilayah Kecamatan Pare itu. Derunya sangat terasa di telinga orang yang berada di tepi jalan. Termasuk di satu kios sederhana yang terpasang banner bertuliskan Heri Purnomo, nama sang pemilik kios.

“Sebentar saya ambil selang pompa Mbak,” ucap Heri kepada seorang pengendara motor yang berhenti di kiosnya.

Cekatan dia menarik selang warna kuning yang tersambung dengan kompresor.  Ujung selang itu dia tancapkan ke mulut ban sepeda motor.  Tak butuh waktu lama ban yang semula gembos itu kembali terisi angin.

Beberapa saat kemudian datang seorang lelaki bersepeda motor. Membawa tabung gas melon. Berniat menukar dengan yang masih terisi.

“Masih habis ini tabungnya (elpiji 3 kg, Red),” ucap Heri menghadang keinginan si pengendara turun dari kendaraan. Raut wajah orang tersebut sedikit berkerut tanda kecewa. Sebelum akhirnya berlalu dari kios tersebut.

Sehari-hari Hari berada di kiosnya. Selain sebagai tempat jasa tambal ban dan pengisian angin,  kios tersebut juga menjadi toko kecil. Yang menjajakan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga :  Mashuri, Pelatih Tapak Suci yang Lahirkan Banyak Atlet Berbakat

Pria 50 tahun ini memang tak beda dengan para pemilik toko atau penambal ban lain. Yang membedakan, adalah aktivitasnya yang selalu menambal jalanan berlubang dengan biaya sendiri. Aktivitas yang telah dilakukan sejak 2015 silam.

“Ya nambalnya hanya bisa Sabtu dan Minggu saja. Karena sehari-hari seperti ini, menjaga toko dan tambal ban,” ucapnya.

Aksinya sebagai sukarelawan penambal jalan berlubang sudah banyak diketahui masyarakat. Bahkan, pengguna media sosial sering memberi tanda jalan yang rusak. Berharap ditambal oleh Heri.

Heri benar-benar serius dalam menjalankan aktivitas sosialnya itu. Setiap kali akhir pekan dia sudah berangkat sejak subuh. Biasanya, bila tidak ada kejadian yang khusus, tambal-menambal jalan berlubang itu dia akhir sekitar pukul 7.00. Karena setelah itu giliran dia membuka jasa tambal ban dan toko kebutuhan sehari-harinya.

Dalam melakukan aktivitasnya Heri ditemani sepeda motor beroda tiga yang bernopol AG 2841 CV. Semua perlengkapan dia tempatkan di bak terbuka yang ada di bagian belakang. Terutama aspal dan tabung elpiji melon untuk memanaskan.

Meskipun melakukan kegiatan yang membantu orang lain, tak jarang dia mendapat perlakuan kurang menyenangkan. Misal, ada pengendara yang tetap menyerempetnya. Meskipun sudah dia beri tanda peringatan. Toh, sikap seperti itu tak mengurangi  kebahagiaannya telah membantu orang lain agar tidak celaka karena lubang jalan telah tertutup.

Baca Juga :  Kisah Erwin, Mengembara hingga ‘Terdampar’ di Kantin Satpol PP

Sebenarnya, kegiatan mengaspal jalan itu sudah dia lakukan sejak 2010. Ketika dia masih menjadi Kaur Pembangunan di Desa Langenharjo. Namun, saat itu, penambalan dilakukan dengan bahan sederhana. Hanya menutup lubang dengan pasir saja, tanpa dilapisi aspal.

Dia memang kesulitan membeli aspal. Karena harganya tidak murah. Satu tong, paling murah, seharga Rp 1,3 juta.

Akhirnya, dia bisa memperoleh aspal secara gratis. Yaitu dari sisa-sisa pengaspalan jalan. “Daripada jadi sampah mending saya gunakan menambal,” ucapnya.

Lama-kelamaan, banyak yang simpati dengan aktivitasnya itu. Terlebih saat kegiatannya itu viral di medsos pada 2017. Banyak yang memberi bantuan. Akhirnya, uang yang terkumpul bisa dia belikan aspal dengan kualitas lebih bagus.

Namun, dia tak melulu menunggu datangnya bantuan. Heri masih rela mencari uang. Caranya pun patut mendapat apresiasi. Setiap Minggu dia datang ke Car Free Day (CFD) di Monumen Simpang Lima Gumul (SLG). Berpakaian ala robot atau kostum unik lain, dia mengamen. Berharap pengunjung menyisihkan sebagian uangnya. Sayang, aktivitas mengamennya itu terhenti sejak pandemi Covid-19 menerjang tanah air.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/