23.3 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Pantang Menyerah Raih Prestasi

Peringatan Sumpah Pemuda hari ini (28/10) membangkitkan semangat anak-anak muda Kediri. Mereka memaknainya dengan berkiprah di bidang masing-masing.

 

Punya keterbatasan di lengan kanannya tidak membuat Nanda Mei Sholihah terpuruk. Gadis yang terlahir dengan lengan kanan hanya sebatas siku tersebut tetap menjalani kehidupannya dengan penuh semangat. Bahkan prestasi terus ditorehkannya di usianya 18 tahun kini.

Sepak terjang pemudi asal Kelurahan Dandangan, Kota Kediri tersebut memang membanggakan. Selama dua tahun terakhir, medali-medali emas kompetisi tingkat internasional berhasil diraihnya. Mulai 8th ASEAN Para Games di Singapura 2015 lalu hingga yang terbaru 9th ASEAN Para Games di Kuala Lumpur, Malaysia tahun ini.

Tidak tanggung-tanggung, tiga medali emas berhasil disabetnya dalam cabang lari kompetisi tingkat Asia Tenggara tersebut. “Pastinya perlu usaha untuk meraihnya,” terang Nanda –begitu sapaan akrabnya– kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Nanda tidak merasa berbeda dengan teman-temannya. Kondisi fisik yang disandangnya sejak lahir dianggap sebagai hal yang tidak perlu disesali. Makanya selama ini gadis berambut lurus ini tidak merasa frustasi dengan keterbatasannya. “Selama ini saya merasa biasa saja karena memang apapun bisa saya lakukan sama seperti rekan-rekan yang lain,” tambah siswi kelas XII SMAN 7 Kediri tersebut.

Nanda mengakui, rasa penerimaan terhadap diri sendiri itu tak terlepas dari pola asuh orang tuanya. Pasangan Suprianto dan Rini Suwarni selalu mengajak Nanda bersosialisasi dengan siapapun. Entah itu tetangga maupun teman-teman di sekolah barunya.

Baca Juga :  Dibom Belanda, Lurah Surodarmo Tak Terluka

Makanya dia bisa diterima di lingkungannya dan tidak dipandang sebelah mata. Meski terkadang pernah ada sedikit rasa minder menyelimuti ketika sulung dari dua bersaudara ini memasuki lingkungan baru yang terlalu banyak orang.

“Kadang kalau dilihatin terus jadinya risi juga dan tidak nyaman,” tandasnya kepada wartawan koran ini.

Meski demikian rasa tersebut tidak selalu menghinggapinya. Pasalnya, teman-temannya menerimanya apa adanya. Begitu pula lingkungan sekolah sejak SD hingga SMA ini tidak ada yang mendiskriminasinya meski dirinya pernah ditolak ketika akan bersekolah di salah satu taman kanak-kanak (TK).

“Pernah sekali ditolak ketika mendaftar TK dan disuruh daftar ke SLB. Tapi ketika saya masuk sekolah lain dan diterima, saya diperlakukan baik sama seperti teman-teman lainnya,” beber gadis yang gemar berfoto tersebut.

Terkait cabang olahraga lari, Nanda mengaku, tidak pernah terpikir untuk menggelutinya. Awal mula dirinya ikut lari karena dipinang oleh salah satu pembina atlet national paralympic committee (NPC) Kota Kediri saat kelas V SD. Saat itu dirinya ditawari untuk ikut lomba-lomba lari. “Sejak saat itu saya menjadi intensif melatih kemampuan lari,” tambah gadis kelahiran 17 Mei tersebut.

Baca Juga :  Mereka yang Menjadi Jawara di Beat School Contest 2020 (6)

Berbagai usaha dilakukannya. Mulai dari menjaga pola makan hingga intensif berlatih baik secara mandiri maupun di pusat pelatihan nasional. Bahkan pernah pada 2015, Nanda menjalani kehidupannya secara mandiri selama 10 bulan di Solo. “Full latihan persiapan ke kompetisi di Singapura,” kenangnya.

Saking kerasnya berlatih, tidak jarang kaki Nanda sakit. Meski demikian gadis dengan tinggi 160 cm tersebut tidak pantang menyerah dan terus berlatih di bawah arahan pelatihnya. “Sebenarnya saya juga tidak terlalu ditarget untuk dapat medali tetapi saya ingin melakukan yang terbaik,” tandasnya.

Usahanya pun berbuah manis. Tiga medali emas untuk kategori lari jarak 100 meter, 200 meter, dan 400 meter berhasil disabetnya. “Itu medali emas internasional pertama saya. Sangat senang sekali bisa ikut membanggakan Indonesia khususnya kedua orang tua saya,” urainya.

Meski orang lain menganggapnya cukup menginspirasi di tengah keterbatasannya, Nanda merasa dirinya bukan siapa-siapa. Makanya ketika dia diminta memotivasi teman-teman yang mungkin lebih sempurna tetapi tidak bersemangat, Nanda tidak tahu harus mengatakan apa.

“Saya maupun teman-teman semua sama-sama masih memperbaiki diri. Yang bisa saya sampaikan adalah lakukan yang terbaik dimanapun dan bagaimanapun kondisi kita,” pungkasnya.

- Advertisement -

Peringatan Sumpah Pemuda hari ini (28/10) membangkitkan semangat anak-anak muda Kediri. Mereka memaknainya dengan berkiprah di bidang masing-masing.

 

Punya keterbatasan di lengan kanannya tidak membuat Nanda Mei Sholihah terpuruk. Gadis yang terlahir dengan lengan kanan hanya sebatas siku tersebut tetap menjalani kehidupannya dengan penuh semangat. Bahkan prestasi terus ditorehkannya di usianya 18 tahun kini.

Sepak terjang pemudi asal Kelurahan Dandangan, Kota Kediri tersebut memang membanggakan. Selama dua tahun terakhir, medali-medali emas kompetisi tingkat internasional berhasil diraihnya. Mulai 8th ASEAN Para Games di Singapura 2015 lalu hingga yang terbaru 9th ASEAN Para Games di Kuala Lumpur, Malaysia tahun ini.

Tidak tanggung-tanggung, tiga medali emas berhasil disabetnya dalam cabang lari kompetisi tingkat Asia Tenggara tersebut. “Pastinya perlu usaha untuk meraihnya,” terang Nanda –begitu sapaan akrabnya– kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Nanda tidak merasa berbeda dengan teman-temannya. Kondisi fisik yang disandangnya sejak lahir dianggap sebagai hal yang tidak perlu disesali. Makanya selama ini gadis berambut lurus ini tidak merasa frustasi dengan keterbatasannya. “Selama ini saya merasa biasa saja karena memang apapun bisa saya lakukan sama seperti rekan-rekan yang lain,” tambah siswi kelas XII SMAN 7 Kediri tersebut.

Nanda mengakui, rasa penerimaan terhadap diri sendiri itu tak terlepas dari pola asuh orang tuanya. Pasangan Suprianto dan Rini Suwarni selalu mengajak Nanda bersosialisasi dengan siapapun. Entah itu tetangga maupun teman-teman di sekolah barunya.

Baca Juga :  Melihat Galungan di Desa Kebonrejo, Kepung

Makanya dia bisa diterima di lingkungannya dan tidak dipandang sebelah mata. Meski terkadang pernah ada sedikit rasa minder menyelimuti ketika sulung dari dua bersaudara ini memasuki lingkungan baru yang terlalu banyak orang.

“Kadang kalau dilihatin terus jadinya risi juga dan tidak nyaman,” tandasnya kepada wartawan koran ini.

Meski demikian rasa tersebut tidak selalu menghinggapinya. Pasalnya, teman-temannya menerimanya apa adanya. Begitu pula lingkungan sekolah sejak SD hingga SMA ini tidak ada yang mendiskriminasinya meski dirinya pernah ditolak ketika akan bersekolah di salah satu taman kanak-kanak (TK).

“Pernah sekali ditolak ketika mendaftar TK dan disuruh daftar ke SLB. Tapi ketika saya masuk sekolah lain dan diterima, saya diperlakukan baik sama seperti teman-teman lainnya,” beber gadis yang gemar berfoto tersebut.

Terkait cabang olahraga lari, Nanda mengaku, tidak pernah terpikir untuk menggelutinya. Awal mula dirinya ikut lari karena dipinang oleh salah satu pembina atlet national paralympic committee (NPC) Kota Kediri saat kelas V SD. Saat itu dirinya ditawari untuk ikut lomba-lomba lari. “Sejak saat itu saya menjadi intensif melatih kemampuan lari,” tambah gadis kelahiran 17 Mei tersebut.

Baca Juga :  Dibom Belanda, Lurah Surodarmo Tak Terluka

Berbagai usaha dilakukannya. Mulai dari menjaga pola makan hingga intensif berlatih baik secara mandiri maupun di pusat pelatihan nasional. Bahkan pernah pada 2015, Nanda menjalani kehidupannya secara mandiri selama 10 bulan di Solo. “Full latihan persiapan ke kompetisi di Singapura,” kenangnya.

Saking kerasnya berlatih, tidak jarang kaki Nanda sakit. Meski demikian gadis dengan tinggi 160 cm tersebut tidak pantang menyerah dan terus berlatih di bawah arahan pelatihnya. “Sebenarnya saya juga tidak terlalu ditarget untuk dapat medali tetapi saya ingin melakukan yang terbaik,” tandasnya.

Usahanya pun berbuah manis. Tiga medali emas untuk kategori lari jarak 100 meter, 200 meter, dan 400 meter berhasil disabetnya. “Itu medali emas internasional pertama saya. Sangat senang sekali bisa ikut membanggakan Indonesia khususnya kedua orang tua saya,” urainya.

Meski orang lain menganggapnya cukup menginspirasi di tengah keterbatasannya, Nanda merasa dirinya bukan siapa-siapa. Makanya ketika dia diminta memotivasi teman-teman yang mungkin lebih sempurna tetapi tidak bersemangat, Nanda tidak tahu harus mengatakan apa.

“Saya maupun teman-teman semua sama-sama masih memperbaiki diri. Yang bisa saya sampaikan adalah lakukan yang terbaik dimanapun dan bagaimanapun kondisi kita,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/