31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Ahmad Yusuf Afandi, Siswa MI Thoriqul Huda Tenggelam di Brantas

Keluarga Juwariyah, warga Dusun Sonopinggir, Desa Juwet, Kecamatan Ngronggot diselimuti kesedihan. Karena kemarin, Ahmad Yusuf Afandi,  putra bungsu pasangan suami istri Alm Dimhari dan Juwariyah dikabarkan tenggelam di Sungai Brantas.

Satu per satu tetangga berkunjung ke rumah Juwariyah di Dusun Sonopinggir. Dari siang hingga sore, tamu datang silih berganti. Semua menunjukkan kesedihan. Apalagi yang dikunjungi. Sesekali terdengar suara Juwariyah sesenggukan menangis. Juwariyah tak kuasa menahan rasa sedihnya. Kabar hanyutnya Yusuf, putra bungsunyadi Sungai Brantas sangat menyayat hati.

Saking terpukulnya, tak semua tamu bisa disambut oleh perempuan kelahiran 1973 tersebut. Saudara dan anak kandungnya yang menggantikan Juwariyah menemui tamu. Binti Muadamas, 27, anak pertama Juwariyah berusaha tegar menemui tamu. Dengan tegar, Binti berusaha menyalami setiap tamu yang datang memberikan dukungan untuk tetap tabah dan berdoa agar ada keajaiban yang menyelamatkan Yusuf. “Mohon doanya. Semoga adik segera ditemukan dalam kondisi selamat,” ujar Binti dengan suara yang bergetar. Sebagai anak sulung, dia berusaha tegar.

Yusuf merupakan bungsu dari empat bersaudara. Usia mereka terpaut cukup jauh. Si bungsu kemarin masih berusia 9 tahun. Bulan September depan usianya baru genap 10 tahun. Dia juga baru saja naik kelas V di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Thoriqul Huda.

Baca Juga :  Kisah Yumrotun dan Suyati yang Rumahnya Tergerus Aliran Sungai Kuncir

Di mata keluarga, Yusuf merupakan anak yang riang dan penurut. Terutama dalam urusan agama. Baik secara teori maupun praktik, dia dikenal sebagai anak yang sholeh. Nilai agamanya di sekolah pun bagus.

“Kata guru-gurunya nilai agamanya bagus,” ungkap Binti.

Yusuf sangat rajin beribadah termasuk mengaji. Bahkan, hampir tak pernah dia bolos. Setiap waktu mengaji, dia selalu sudah ada di rumah. Karena pukul 14.00 WIB adalah jadwalnya mengaji. Bahkan, tak jarang dia sampai menginap di pondok dekat rumahnya.

Binti menuturkan bahwa adiknya tersebut tengah memasuki masa libur sekolah. Oleh karena itu, dia banyak memanfaatkan waktu yang ada untuk bermain dengan teman-temannya.

Tidak ada yang janggal sebenarnya kemarin. Semua berjalan seperti biasanya. Setelah sarapan, Yusuf pamit kepada Juwariyah untuk bermain dengan teman-teman sekolahnya. Lalu, sekitar pukul 09.00 WIB, dia sempat kembali ke rumah. Meminta uang untuk membeli jajan. Namun, tanpa diketahui ternyata dia bermain di Sungai Brantas bersama empat temannya.Hal itu sejatinya jarang dilakukan Yusuf.

Baca Juga :  Puluhan Hektare Hutan Dilalap Api

Sekitar pukul 10.00 WIB, keluarga Juwariyah mendengar kabar ada anak hanyut di sungai. Awalnya, Binti dan ibunya tidak menduga jika anak yang hanyut itu adalah Yusuf. Setelah tahu, Juwariyah langsung syok.

Dia  langsung menangis. “Sebenarnya adik saya itu bisa berenang. Karena beberapa kali dia saya ajak berenang di kolam renang,” ujarnya.

Namun, karena Sungai Brantas berbeda dengan kolam renang, Yusuf tetap hanyut. Arus sungai yang deras membuat dia tenggelam.

Saat ini, Juwariyah dan keluarga hanya berharap mukjizat. Tim Search and Rescue (SAR) gabungan diharapkan bisa menemukan Yusuf dalam kondisi selamat. “Tolong dibantu ya. Kami minta tolong selamatkan adik saya,” pintanya.

Sementara itu, tim SAR gabungan dari BPBD Nganjuk dan relawan telah melakukan penyisiran di aliran sungai. Pencarian dengan perahu pun telah dilakukan. Sayang, kemarin sore Yusuf belum bisa ditemukan. Rencananya, pagi ini tim akan kembali turun ke sungai untuk mencari Yusuf. “Kami akan kerahkan kekuatan penuh untuk menemukan korban,” sambung Kalaksa BPBD Nganjuk Abdul Wakid.






Reporter: Andhika Attar Anindita
- Advertisement -

Keluarga Juwariyah, warga Dusun Sonopinggir, Desa Juwet, Kecamatan Ngronggot diselimuti kesedihan. Karena kemarin, Ahmad Yusuf Afandi,  putra bungsu pasangan suami istri Alm Dimhari dan Juwariyah dikabarkan tenggelam di Sungai Brantas.

Satu per satu tetangga berkunjung ke rumah Juwariyah di Dusun Sonopinggir. Dari siang hingga sore, tamu datang silih berganti. Semua menunjukkan kesedihan. Apalagi yang dikunjungi. Sesekali terdengar suara Juwariyah sesenggukan menangis. Juwariyah tak kuasa menahan rasa sedihnya. Kabar hanyutnya Yusuf, putra bungsunyadi Sungai Brantas sangat menyayat hati.

Saking terpukulnya, tak semua tamu bisa disambut oleh perempuan kelahiran 1973 tersebut. Saudara dan anak kandungnya yang menggantikan Juwariyah menemui tamu. Binti Muadamas, 27, anak pertama Juwariyah berusaha tegar menemui tamu. Dengan tegar, Binti berusaha menyalami setiap tamu yang datang memberikan dukungan untuk tetap tabah dan berdoa agar ada keajaiban yang menyelamatkan Yusuf. “Mohon doanya. Semoga adik segera ditemukan dalam kondisi selamat,” ujar Binti dengan suara yang bergetar. Sebagai anak sulung, dia berusaha tegar.

Yusuf merupakan bungsu dari empat bersaudara. Usia mereka terpaut cukup jauh. Si bungsu kemarin masih berusia 9 tahun. Bulan September depan usianya baru genap 10 tahun. Dia juga baru saja naik kelas V di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Thoriqul Huda.

Baca Juga :  Maraknya Toko Modern di Kota Kediri, Ini Datanya

Di mata keluarga, Yusuf merupakan anak yang riang dan penurut. Terutama dalam urusan agama. Baik secara teori maupun praktik, dia dikenal sebagai anak yang sholeh. Nilai agamanya di sekolah pun bagus.

“Kata guru-gurunya nilai agamanya bagus,” ungkap Binti.

Yusuf sangat rajin beribadah termasuk mengaji. Bahkan, hampir tak pernah dia bolos. Setiap waktu mengaji, dia selalu sudah ada di rumah. Karena pukul 14.00 WIB adalah jadwalnya mengaji. Bahkan, tak jarang dia sampai menginap di pondok dekat rumahnya.

Binti menuturkan bahwa adiknya tersebut tengah memasuki masa libur sekolah. Oleh karena itu, dia banyak memanfaatkan waktu yang ada untuk bermain dengan teman-temannya.

Tidak ada yang janggal sebenarnya kemarin. Semua berjalan seperti biasanya. Setelah sarapan, Yusuf pamit kepada Juwariyah untuk bermain dengan teman-teman sekolahnya. Lalu, sekitar pukul 09.00 WIB, dia sempat kembali ke rumah. Meminta uang untuk membeli jajan. Namun, tanpa diketahui ternyata dia bermain di Sungai Brantas bersama empat temannya.Hal itu sejatinya jarang dilakukan Yusuf.

Baca Juga :  AKBP Lilik Dewi Indarwati: Yakin Ucapan adalah Doa

Sekitar pukul 10.00 WIB, keluarga Juwariyah mendengar kabar ada anak hanyut di sungai. Awalnya, Binti dan ibunya tidak menduga jika anak yang hanyut itu adalah Yusuf. Setelah tahu, Juwariyah langsung syok.

Dia  langsung menangis. “Sebenarnya adik saya itu bisa berenang. Karena beberapa kali dia saya ajak berenang di kolam renang,” ujarnya.

Namun, karena Sungai Brantas berbeda dengan kolam renang, Yusuf tetap hanyut. Arus sungai yang deras membuat dia tenggelam.

Saat ini, Juwariyah dan keluarga hanya berharap mukjizat. Tim Search and Rescue (SAR) gabungan diharapkan bisa menemukan Yusuf dalam kondisi selamat. “Tolong dibantu ya. Kami minta tolong selamatkan adik saya,” pintanya.

Sementara itu, tim SAR gabungan dari BPBD Nganjuk dan relawan telah melakukan penyisiran di aliran sungai. Pencarian dengan perahu pun telah dilakukan. Sayang, kemarin sore Yusuf belum bisa ditemukan. Rencananya, pagi ini tim akan kembali turun ke sungai untuk mencari Yusuf. “Kami akan kerahkan kekuatan penuh untuk menemukan korban,” sambung Kalaksa BPBD Nganjuk Abdul Wakid.






Reporter: Andhika Attar Anindita

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/