23.9 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Suka Duka Wida Ariyanto Mengenalkan Sayuran Hidroponik di Kota Angin

Bermula dari rasa penasaran saat melihat video budidaya sayuran hidroponik di internet, Wida Ariyanto memberanikan diri menekuninya. Dua tahun jatuh bangun, kini dia sukses menggandeng delapan mitra untuk memproduksi sayuran hidroponik.

KAREN WIBI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Duduk bersila di teras rumahnya di Kelurahan Kauman, Nganjuk, Wida Ariyanto terlihat tengah memperbaiki pipa paralon. Dengan cekatan, tangannya menempelkan plester di ujung pipa sekitar pukul 10.00 Senin (26/4) lalu.

Setelah selesai memasang plester di tempat untuk menanam sayuran hidroponik, pria yang akrab disapa Wida ini lantas masuk ke gudang kecil. Di ruangan berukuran 2×2 meter itu, dia memeriksa rockwool atau media tanam. Sejumlah botol air berwarna gelap yang ada di dekatnya juga tak luput dari perhatian pria berusia 30 tahun itu. “Ini (botol, Red) untuk nutrisi tanaman,” ujarnya membuka pembicaraan.

Setiap hari, aktivitas sarjana jurusan manajemen dari salah satu universitas di Kediri memang tak jauh dari tanaman hidroponik. Rutinitas itu digelutinya selama lima tahun terakhir.

Semakin lama menggeluti budidaya sayuran sehat itu, Wida seolah semakin jatuh cinta. “Awalnya tertarik saat melihat video budidaya hidroponik di internet,” kenang pria yang sebelumnya menjalankan usaha rental internet itu.

Baca Juga :  Bersihkan Material Longsor dengan Ekskavator

Tak ada hal baru yang mudah. Meski di video terlihat gampang mempraktikkan budidaya hidroponik, praktiknya sangat sulit. Beberapa kali mencoba, dia gagal.

Praktis, membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk trial and error. Meski harus mencoba berkali-kali, dia tak patah semangat. “Sekali berhasil langsung ketagihan untuk terus menanam sayuran hidroponik,” tuturnya menceritakan usaha yang digeluti sejak 2015 silam itu.

Berhasil melakukan budidaya, bukan berarti dia tidak menghadapi hambatan lainnya. Kali ini, dia harus melakukan berbagai terobosan untuk memasarkan sayuran tanpa pestisida itu. Apalagi, saat itu warga Nganjuk belum begitu mengenal sayuran hidroponik.

Butuh waktu sekitar dua tahun untuk mengenalkan produknya. Termasuk mengenalkan harga sayuran hidroponik yang jauh lebih mahal dari sayuran yang ditanam konvensional.

Berbagai teknik pemasaran sudah dicoba. Misalnya, menjual produk dengan membuka lapak di car free day (CFD) Alun-Alun Nganjuk. Tetapi, hasilnya belum maksimal.

Suatu kali, dia mencoba teknik pemasaran yang unik. Yakni, pada bulan Ramadan Wida sengaja membagikan takjil untuk pengendara yang melintas. “Bukan makanan yang saya bagikan. Ya sayur hidroponik itu,” kenangnya sembari tertawa.

Baca Juga :  Ramadan di Desa Segaran, Wates (3/Habis)

Ketekunannya selama bertahun-tahun pun mulai membuahkan hasil. Sayuran hidroponik produksinya mulai diterima pasar. Belakangan, sejumlah supermarket di Nganjuk, Kediri, dan Surabaya juga memasarkan sayuran budidayanya.

Tahun ini, bisnis sayuran hidroponik yang ditekuninya berkembang dengan pesat. Jika awalnya hanya memproduksi sendiri, dia sudah kewalahan memenuhi pesanan. Total ada delapan mitra yang diajaknya bergabung. “Sekarang saya juga punya lima kebun hidroponik di Nganjuk,” bebernya.

Dari lima kebun yang dimilikinya, 80 persen digunakan untuk menanam selada. Sebab, permintaan sayur jenis ini memang tinggi. Selebihnya, ditanami daun mint, bayam, dan pakcoy.

Bagaimana permintaan sayuran saat pandemi Covid-19 seperti sekarang? Wida bersyukur, saat banyak usaha yang kolaps terdampak korona, permintaan sayurannya justru meningkat. “Sepertinya masyarakat semakin hati-hati memilih makanan. Mencari yang higienis,” urainya.

Dengan peningkatan permintaan itu, dia mengaku belum bisa memenuhi semua pesanan. Pun demikian dia sudah memanen dua kali dalam seminggu. Tiap panenan sedikitnya menghasilkan 50 kilogram selada. “Masih terus berusaha meningkatkan jumlah panenan. Permintaan pasar belum terpenuhi,” imbuhnya.

- Advertisement -

Bermula dari rasa penasaran saat melihat video budidaya sayuran hidroponik di internet, Wida Ariyanto memberanikan diri menekuninya. Dua tahun jatuh bangun, kini dia sukses menggandeng delapan mitra untuk memproduksi sayuran hidroponik.

KAREN WIBI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Duduk bersila di teras rumahnya di Kelurahan Kauman, Nganjuk, Wida Ariyanto terlihat tengah memperbaiki pipa paralon. Dengan cekatan, tangannya menempelkan plester di ujung pipa sekitar pukul 10.00 Senin (26/4) lalu.

Setelah selesai memasang plester di tempat untuk menanam sayuran hidroponik, pria yang akrab disapa Wida ini lantas masuk ke gudang kecil. Di ruangan berukuran 2×2 meter itu, dia memeriksa rockwool atau media tanam. Sejumlah botol air berwarna gelap yang ada di dekatnya juga tak luput dari perhatian pria berusia 30 tahun itu. “Ini (botol, Red) untuk nutrisi tanaman,” ujarnya membuka pembicaraan.

Setiap hari, aktivitas sarjana jurusan manajemen dari salah satu universitas di Kediri memang tak jauh dari tanaman hidroponik. Rutinitas itu digelutinya selama lima tahun terakhir.

Semakin lama menggeluti budidaya sayuran sehat itu, Wida seolah semakin jatuh cinta. “Awalnya tertarik saat melihat video budidaya hidroponik di internet,” kenang pria yang sebelumnya menjalankan usaha rental internet itu.

Baca Juga :  Jangan Biarkan Jabatan Kosong

Tak ada hal baru yang mudah. Meski di video terlihat gampang mempraktikkan budidaya hidroponik, praktiknya sangat sulit. Beberapa kali mencoba, dia gagal.

Praktis, membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk trial and error. Meski harus mencoba berkali-kali, dia tak patah semangat. “Sekali berhasil langsung ketagihan untuk terus menanam sayuran hidroponik,” tuturnya menceritakan usaha yang digeluti sejak 2015 silam itu.

Berhasil melakukan budidaya, bukan berarti dia tidak menghadapi hambatan lainnya. Kali ini, dia harus melakukan berbagai terobosan untuk memasarkan sayuran tanpa pestisida itu. Apalagi, saat itu warga Nganjuk belum begitu mengenal sayuran hidroponik.

Butuh waktu sekitar dua tahun untuk mengenalkan produknya. Termasuk mengenalkan harga sayuran hidroponik yang jauh lebih mahal dari sayuran yang ditanam konvensional.

Berbagai teknik pemasaran sudah dicoba. Misalnya, menjual produk dengan membuka lapak di car free day (CFD) Alun-Alun Nganjuk. Tetapi, hasilnya belum maksimal.

Suatu kali, dia mencoba teknik pemasaran yang unik. Yakni, pada bulan Ramadan Wida sengaja membagikan takjil untuk pengendara yang melintas. “Bukan makanan yang saya bagikan. Ya sayur hidroponik itu,” kenangnya sembari tertawa.

Baca Juga :  Qischil Gandrum, Eks Persik yang Latih SSB Pelita Jabon Putra

Ketekunannya selama bertahun-tahun pun mulai membuahkan hasil. Sayuran hidroponik produksinya mulai diterima pasar. Belakangan, sejumlah supermarket di Nganjuk, Kediri, dan Surabaya juga memasarkan sayuran budidayanya.

Tahun ini, bisnis sayuran hidroponik yang ditekuninya berkembang dengan pesat. Jika awalnya hanya memproduksi sendiri, dia sudah kewalahan memenuhi pesanan. Total ada delapan mitra yang diajaknya bergabung. “Sekarang saya juga punya lima kebun hidroponik di Nganjuk,” bebernya.

Dari lima kebun yang dimilikinya, 80 persen digunakan untuk menanam selada. Sebab, permintaan sayur jenis ini memang tinggi. Selebihnya, ditanami daun mint, bayam, dan pakcoy.

Bagaimana permintaan sayuran saat pandemi Covid-19 seperti sekarang? Wida bersyukur, saat banyak usaha yang kolaps terdampak korona, permintaan sayurannya justru meningkat. “Sepertinya masyarakat semakin hati-hati memilih makanan. Mencari yang higienis,” urainya.

Dengan peningkatan permintaan itu, dia mengaku belum bisa memenuhi semua pesanan. Pun demikian dia sudah memanen dua kali dalam seminggu. Tiap panenan sedikitnya menghasilkan 50 kilogram selada. “Masih terus berusaha meningkatkan jumlah panenan. Permintaan pasar belum terpenuhi,” imbuhnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/