27.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (6)

Kampung Kauman kini tak hanya terkenal sebagai permukiman orang kaum saja. Tempat ini juga dikenal pusatnya penjual jamu, rujak manis, dan es puter.

 

Sejarah keberadaan pembuat dan penjual jamu gendong di Kampung Kauman itu tertulis rapi di banner ukuran 2 x 1,5 meter. Terpasang di tembok rumah warga yang berada di dekat musala di Kauman Gang III, tepatnya di RT 04 RW 02. Hurufnya besar, membuat semua orang yang melintas bisa membacanya.

Dari banner itu diketahui bahwa jamu asli Kampung Kauman pertama kali diproduksi oleh pasangan suami istri Mungit dan Murti. Tahunnya, terpampang 1925.

Pasutri Mungit-Murti adalah warga asli Kampung Kauman. Sayang, mereka tak memiliki keturunan. Ketika meninggal akhirnya tak ada yang melanjutkan usaha tersebut.

“Baru pada tahun 1950-an, teman Mbah Mungit bernama Truno asal Solo datang ke Kauman. Dari dialah (Truno, Red) pembuatan jamu di Kauman bertahan sampai sekarang,” ucap Titik Sih Wiyati, ketua RT 04 / RW 02. 

Truno berhasil mengembangkan jamu buatannya. Kemudian dia mewariskan kepada anak-anaknya. Bahkan, Truno akhirnya mengajak tetangganya dari Solo datang ke Kauman.

Baca Juga :  Lukman Jaya, Perajin Aksesoris Berbahan Kayu Laut asal Pare

Salah satu penjual jamu asli Solo yang masih bertahan adalah Suharni. Perempuan 63 tahun itu merupakan generasi kedua yang masih produktif membuat dan menjual jamu. Dia bahkan masih kuat mendorong rombong jamunya berkeliling ke wilayah Kota Kediri.

Jamu yang dijualnya beraneka macam. Mulai cabe puyang, kunir asem, beras kencur, sirih, dan sinom. Harganya juga tak mahal. Untuk satu botol jamu berisi 600 mililiter dia jual seharga Rp 7 ribu. Namun dia tetap melayani bila ada yang membeli Rp 3 ribu.

Dulu, menurut Suharni, mayoritas penjual jamu dengan cara digendong. Termasuk ibunya saat itu. Karena itu jamu yang dijual acap disebut jamu gendong.

Kini, penjual di generasi kedua, rata-rata sudah menggunakan rombong. Selain lebih mudah juga jamu yang dibawa lebih banyak.

“Kalau puasa seperti ini jualannya siang sampai sebelum buka puasa,” ujarnya. Menurut Suharni, pedagang jamu yang ada di Kampung Kauman tidak hanya berasal dari Solo. Sebagian berasal dari wilayah eks-Karesidenan Surakarta seperti Sukoharjo. Bahkan ada yang dari Semarang. Semuanya sudah pandai memproduksi jamu.

Salah satu pendatang dari Semarang yang membuat jamu adalah Susilowati. Perempuan 39 tahun ini mulai menggeluti jualan jamu sejak 2003 lalu. Kepada Jawa Pos Radar Kediri wanita ini mengaku terpaksa banting stir setelah hasil menjadi buruh rumah tangga tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Baca Juga :  Kota Kediri Terapkan WFO 25 Persen di SMA/SMK

Dia belajar membuat jamu dari tetangganya yang asli orang Solo. Sekarang dia sudah pandai memproduksi sendiri. Bahkan dalam sehari, ibu tiga anak itu bisa membuat 30 liter jamu.

Agar bisa bertahan dan laku, Susi tidak pernah mematok harga. “Intinya kami tidak pernah menolak uang. Kalau ada anak-anak yang mau beli harga seribu rupiah tetap kami bungkus,” katanya.

Susi mengklaim tidak bisa mematok harga seperti di toko-toko. Untuk harga maksimal yang dia jual, satu botolnya Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu. Jamu sebanyak 30 liter yang dibawa berkeliling selalu habis terjual. Biasanya dia berjualan siang hingga sore hari. Sedangkan memproduksinya pada malam hari.

Menjelang Lebaran seperti ini, yang memproduksi jamu semakin berkurang. Sebab, tetangganya yang juga penjual jamu rata-rata sudah pulang ke Solo. “Sekarang hanya dua orang yang produksi lainnya sudah pulang ke Solo,” ucapnya. (rq/fud/bersambung)

- Advertisement -

Kampung Kauman kini tak hanya terkenal sebagai permukiman orang kaum saja. Tempat ini juga dikenal pusatnya penjual jamu, rujak manis, dan es puter.

 

Sejarah keberadaan pembuat dan penjual jamu gendong di Kampung Kauman itu tertulis rapi di banner ukuran 2 x 1,5 meter. Terpasang di tembok rumah warga yang berada di dekat musala di Kauman Gang III, tepatnya di RT 04 RW 02. Hurufnya besar, membuat semua orang yang melintas bisa membacanya.

Dari banner itu diketahui bahwa jamu asli Kampung Kauman pertama kali diproduksi oleh pasangan suami istri Mungit dan Murti. Tahunnya, terpampang 1925.

Pasutri Mungit-Murti adalah warga asli Kampung Kauman. Sayang, mereka tak memiliki keturunan. Ketika meninggal akhirnya tak ada yang melanjutkan usaha tersebut.

“Baru pada tahun 1950-an, teman Mbah Mungit bernama Truno asal Solo datang ke Kauman. Dari dialah (Truno, Red) pembuatan jamu di Kauman bertahan sampai sekarang,” ucap Titik Sih Wiyati, ketua RT 04 / RW 02. 

Truno berhasil mengembangkan jamu buatannya. Kemudian dia mewariskan kepada anak-anaknya. Bahkan, Truno akhirnya mengajak tetangganya dari Solo datang ke Kauman.

Baca Juga :  Mereka Bicara tentang Cita Rasa Kopi Lokal Kediri (3)

Salah satu penjual jamu asli Solo yang masih bertahan adalah Suharni. Perempuan 63 tahun itu merupakan generasi kedua yang masih produktif membuat dan menjual jamu. Dia bahkan masih kuat mendorong rombong jamunya berkeliling ke wilayah Kota Kediri.

Jamu yang dijualnya beraneka macam. Mulai cabe puyang, kunir asem, beras kencur, sirih, dan sinom. Harganya juga tak mahal. Untuk satu botol jamu berisi 600 mililiter dia jual seharga Rp 7 ribu. Namun dia tetap melayani bila ada yang membeli Rp 3 ribu.

Dulu, menurut Suharni, mayoritas penjual jamu dengan cara digendong. Termasuk ibunya saat itu. Karena itu jamu yang dijual acap disebut jamu gendong.

Kini, penjual di generasi kedua, rata-rata sudah menggunakan rombong. Selain lebih mudah juga jamu yang dibawa lebih banyak.

“Kalau puasa seperti ini jualannya siang sampai sebelum buka puasa,” ujarnya. Menurut Suharni, pedagang jamu yang ada di Kampung Kauman tidak hanya berasal dari Solo. Sebagian berasal dari wilayah eks-Karesidenan Surakarta seperti Sukoharjo. Bahkan ada yang dari Semarang. Semuanya sudah pandai memproduksi jamu.

Salah satu pendatang dari Semarang yang membuat jamu adalah Susilowati. Perempuan 39 tahun ini mulai menggeluti jualan jamu sejak 2003 lalu. Kepada Jawa Pos Radar Kediri wanita ini mengaku terpaksa banting stir setelah hasil menjadi buruh rumah tangga tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Baca Juga :  Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (11/Habis)

Dia belajar membuat jamu dari tetangganya yang asli orang Solo. Sekarang dia sudah pandai memproduksi sendiri. Bahkan dalam sehari, ibu tiga anak itu bisa membuat 30 liter jamu.

Agar bisa bertahan dan laku, Susi tidak pernah mematok harga. “Intinya kami tidak pernah menolak uang. Kalau ada anak-anak yang mau beli harga seribu rupiah tetap kami bungkus,” katanya.

Susi mengklaim tidak bisa mematok harga seperti di toko-toko. Untuk harga maksimal yang dia jual, satu botolnya Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu. Jamu sebanyak 30 liter yang dibawa berkeliling selalu habis terjual. Biasanya dia berjualan siang hingga sore hari. Sedangkan memproduksinya pada malam hari.

Menjelang Lebaran seperti ini, yang memproduksi jamu semakin berkurang. Sebab, tetangganya yang juga penjual jamu rata-rata sudah pulang ke Solo. “Sekarang hanya dua orang yang produksi lainnya sudah pulang ke Solo,” ucapnya. (rq/fud/bersambung)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/