22.4 C
Kediri
Saturday, August 20, 2022

Prihatin Wabah Korona di Kediri, Donasikan Hasil Jualan Kaus Sekartaji

- Advertisement -

Bisnis kausnya menurun drastis. Selama pandemi Covid-19 nyaris tak ada pesanan. Tapi itu tak membuat Rizal putus asa. Bersama rekan-rekannya dia justru giat menjual kaus. Bedanya, hasil penjualan mereka donasikan.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

Unggahan ini terjadi sebulan silam. Dilakukan oleh sejumlah influencer Instagram di Kediri. Yang diunggah, kaus dengan desain perempuan bermasker. Di bagian belakangnya terdapat sepasang sayap dengan tambahan gambar Monumen Simpang Lima Gumul (SLG).

- Advertisement -

Masker pada desain itu menyimbolkan kondisi dunia saat ini, termasuk Kediri. Yang sedang dilanda wabah penyakit. Dilanda pandemi korona.

Berbagai upaya dilakukan untuk melawan penyakit menular ini. Tak hanya pemerintah tapi juga oleh seluruh elemen masyarakat. Salah satu upaya itu dilakukan Rizal.

Melalui Kediri Bersama dan Peduli, Rizal dan rekan-rekannya merasa prihatin dengan kondisi saat ini. Membuatnya tergerak untuk andil dalam melakukan donasi demi mencegah penularan Covid-19.

“Alhamdulillah dengan dukungan teman-teman influencer Instagram di Kediri, aksi donasi ini berjalan lancar,” ungkap pemuda asal Pagu pemilik nama lengkap Mohamad Aburizal Zaki ini.

Donasi yang dia maksudkan adalah hasil penjualan kaus yang diproduksinya. Rizal tak mengambil laba dari aktivitas itu. Laba yang dihasilkan sepenuhnya digunakan donasi untuk keperluan pencegahan Covid-19.

“Donasi untuk keperluan APD (alat pelindung diri, Red) tenaga medis dan masker yang dibagikan pada masyarakat,” terangnya.

Sumbangan untuk keperluan APD bagi tenaga medis itu mereka rupakan dalam bentuk uang tunai. Dari hasil penjualan kaus ‘kloter’ pertama, total laba yang didapat adalah Rp 19 juta. Diperoleh dari penjualan 512 lembar kaus. “Ada juga yang donatur berupa uang tunai secara langsung,” tambahnya.

Baca Juga :  Mereka yang Menjadi Jawara di Beat School Contest 2020 (7)

Rizal mengaku bahwa pesanan pada tahap pertama itu melebihi ekspektasi. Bahkan setelah pre-order ditutup masih ada yang mengirimkan pesan agar dibuka lagi ‘kloter’ kedua pemesanan.

“Banyak peminat dan banyak yang tidak kebagian di tahap pertama. Akhirnya buka tahap kedua,” ujar Rizal sembari tersenyum saat ditemui penulis di tempat produksi miliknya di Desa Doko, Kecamatan Ngasem.

Dalam satu minggu, telah ada pesanan lebih dari 400 kaus. Padahal ia mengaku bahwa estimasi pesanan di tahap kedua itu adalah 100 buah kaus saja. “Donasi kedua dalam bentuk masker. Kalau dinominalkan Rp 13 juta dan mendapat 3.258 masker untuk dibagikan,” sebut pemuda yang juga pemilik JSP Sablon dan Konveksi tersebut.

Menariknya, Rizal menyebut bahwa pada kaus kloter pertama dan kedua ada perbedaan desain. Untuk kaus yang kedua, Dewi Sekartaji melepas masker. Menurutnya, agar ada ciri khas masing-masing. Di desain kedua, masker pada gambar dilepas dengan filosofi bahwa donasi masker sudah berhasil dibagikan. Dengan harapan pandemi korona ini segera berlalu.

Sebenarnya, desain tersebut disiapkan Rizal untuk peringatan hari jadi Kabupaten Kediri tahun ini. Dengan kutipan kata berbahasa Jawa. Yakni  kata Memayu Hayuning Pribadi, Memayu Hayuning Kulawarga, Memayu Hayuning Sesama, dan Memayu Hayuning Bawana.

Baca Juga :  Alami Sexual Ambiguity, Operasi Anang di RS Kabupaten Kediri Lancar

Hanya saja, karena ada pandemi korona, rangkaian acara hari jadi pun dibatalkan. Sehingga ada inisiatif untuk berdonasi melalui kaus dengan logo tersebut.

Kata Rizal, gambar Dewi Sekartaji merupakan lambang tokoh sejarah putri Kediri. Ditambah sayap yang mengisyaratkan kebaikan. Serta latar belakang monumen SLG yang mengartikan donasi ini fokus untuk Kediri.

“Awalnya sempat bimbang empat hari. Sempat kepikiran kalau pre-order apa ada yang mau beli. Tapi karena dukungan teman-teman akhirnya bisa terlaksana dengan lancar,” ungkapnya.

Meski ia produksi sendiri, namun Rizal mengaku dalam produksinya ini banyak pihak yang membantu. Termasuk ada subsidi dari rekan-rekannya yang menyediakan bahan kaus. Juga sejumlah influencer Instagram di Kediri dan juga 10 karyawannya. “Mereka sangat membantu dalam aksi donasi ini,” sebutnya.

Rizal sangat berterimakasih atas kepercayaannya untuk memberikan donasi melalui kaus hasil jualannya yang sebagai perantara. “Terima kasih kepada teman-teman influencer Kediri. Karena mereka juga yang membuat donatur lebih percaya, dan membantu dalam menyebarkan kebaikan ini,” tambahnya.

Tentu saja, upaya yang ia lakukan ini menjadi contoh semangat pemuda di Kediri untuk saling peduli sesama di tengah pandemi korona ini. Sebagai inspirasi bagi masyarakat untuk saling berbagi dan bersama-sama menekan penyebaran Covid-19 yang sedang melanda.

- Advertisement -

Bisnis kausnya menurun drastis. Selama pandemi Covid-19 nyaris tak ada pesanan. Tapi itu tak membuat Rizal putus asa. Bersama rekan-rekannya dia justru giat menjual kaus. Bedanya, hasil penjualan mereka donasikan.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

Unggahan ini terjadi sebulan silam. Dilakukan oleh sejumlah influencer Instagram di Kediri. Yang diunggah, kaus dengan desain perempuan bermasker. Di bagian belakangnya terdapat sepasang sayap dengan tambahan gambar Monumen Simpang Lima Gumul (SLG).

Masker pada desain itu menyimbolkan kondisi dunia saat ini, termasuk Kediri. Yang sedang dilanda wabah penyakit. Dilanda pandemi korona.

Berbagai upaya dilakukan untuk melawan penyakit menular ini. Tak hanya pemerintah tapi juga oleh seluruh elemen masyarakat. Salah satu upaya itu dilakukan Rizal.

Melalui Kediri Bersama dan Peduli, Rizal dan rekan-rekannya merasa prihatin dengan kondisi saat ini. Membuatnya tergerak untuk andil dalam melakukan donasi demi mencegah penularan Covid-19.

“Alhamdulillah dengan dukungan teman-teman influencer Instagram di Kediri, aksi donasi ini berjalan lancar,” ungkap pemuda asal Pagu pemilik nama lengkap Mohamad Aburizal Zaki ini.

Donasi yang dia maksudkan adalah hasil penjualan kaus yang diproduksinya. Rizal tak mengambil laba dari aktivitas itu. Laba yang dihasilkan sepenuhnya digunakan donasi untuk keperluan pencegahan Covid-19.

“Donasi untuk keperluan APD (alat pelindung diri, Red) tenaga medis dan masker yang dibagikan pada masyarakat,” terangnya.

Sumbangan untuk keperluan APD bagi tenaga medis itu mereka rupakan dalam bentuk uang tunai. Dari hasil penjualan kaus ‘kloter’ pertama, total laba yang didapat adalah Rp 19 juta. Diperoleh dari penjualan 512 lembar kaus. “Ada juga yang donatur berupa uang tunai secara langsung,” tambahnya.

Baca Juga :  Proktor dan Teknisi Tuntaskan Sinkronisasi

Rizal mengaku bahwa pesanan pada tahap pertama itu melebihi ekspektasi. Bahkan setelah pre-order ditutup masih ada yang mengirimkan pesan agar dibuka lagi ‘kloter’ kedua pemesanan.

“Banyak peminat dan banyak yang tidak kebagian di tahap pertama. Akhirnya buka tahap kedua,” ujar Rizal sembari tersenyum saat ditemui penulis di tempat produksi miliknya di Desa Doko, Kecamatan Ngasem.

Dalam satu minggu, telah ada pesanan lebih dari 400 kaus. Padahal ia mengaku bahwa estimasi pesanan di tahap kedua itu adalah 100 buah kaus saja. “Donasi kedua dalam bentuk masker. Kalau dinominalkan Rp 13 juta dan mendapat 3.258 masker untuk dibagikan,” sebut pemuda yang juga pemilik JSP Sablon dan Konveksi tersebut.

Menariknya, Rizal menyebut bahwa pada kaus kloter pertama dan kedua ada perbedaan desain. Untuk kaus yang kedua, Dewi Sekartaji melepas masker. Menurutnya, agar ada ciri khas masing-masing. Di desain kedua, masker pada gambar dilepas dengan filosofi bahwa donasi masker sudah berhasil dibagikan. Dengan harapan pandemi korona ini segera berlalu.

Sebenarnya, desain tersebut disiapkan Rizal untuk peringatan hari jadi Kabupaten Kediri tahun ini. Dengan kutipan kata berbahasa Jawa. Yakni  kata Memayu Hayuning Pribadi, Memayu Hayuning Kulawarga, Memayu Hayuning Sesama, dan Memayu Hayuning Bawana.

Baca Juga :  Inilah PR Sekda Baru Kediri

Hanya saja, karena ada pandemi korona, rangkaian acara hari jadi pun dibatalkan. Sehingga ada inisiatif untuk berdonasi melalui kaus dengan logo tersebut.

Kata Rizal, gambar Dewi Sekartaji merupakan lambang tokoh sejarah putri Kediri. Ditambah sayap yang mengisyaratkan kebaikan. Serta latar belakang monumen SLG yang mengartikan donasi ini fokus untuk Kediri.

“Awalnya sempat bimbang empat hari. Sempat kepikiran kalau pre-order apa ada yang mau beli. Tapi karena dukungan teman-teman akhirnya bisa terlaksana dengan lancar,” ungkapnya.

Meski ia produksi sendiri, namun Rizal mengaku dalam produksinya ini banyak pihak yang membantu. Termasuk ada subsidi dari rekan-rekannya yang menyediakan bahan kaus. Juga sejumlah influencer Instagram di Kediri dan juga 10 karyawannya. “Mereka sangat membantu dalam aksi donasi ini,” sebutnya.

Rizal sangat berterimakasih atas kepercayaannya untuk memberikan donasi melalui kaus hasil jualannya yang sebagai perantara. “Terima kasih kepada teman-teman influencer Kediri. Karena mereka juga yang membuat donatur lebih percaya, dan membantu dalam menyebarkan kebaikan ini,” tambahnya.

Tentu saja, upaya yang ia lakukan ini menjadi contoh semangat pemuda di Kediri untuk saling peduli sesama di tengah pandemi korona ini. Sebagai inspirasi bagi masyarakat untuk saling berbagi dan bersama-sama menekan penyebaran Covid-19 yang sedang melanda.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/