23.9 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Traktir Teman Makan Daging Babi Guling

Assalamualaikum wr. Wb., kami ingin menanyakan tentang seorang muslim yang mentraktir temannya non-muslim makan sate dan daging babi guling. Terima kasih.

(Suseno, 085725873xxx)

 

Wa’aalaikumussalam wr wb.

Penanya yang kami hormati, mentraktir menurut pengertian umum  adalah memberikan sesuatu tanpa imbalan. Dalam ajaran Islam dikenal dengan sebutan shodaqoh atau sedekah. Memang, Islam mengajarkan untuk menyisihkan sebagian harta yang dimiliki, salah satunya melalui sedekah. Tujuannya untuk menyucikan harta, membantu sesama, serta bekal pahala di akherat kelak.

Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai macam cara. Misalnya dengan memberi pertolongan baik dengan harta maupun tenaga, menafkahi keluarga, menyingkirkan batu dari jalan, dan masih banyak lagi. Bahkan, menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain juga termasuk sedekah.

Dalam bersedekah, umat Islam dianjurkan untuk tidak menyakiti perasaan orang yang diberi sedekah. Serta lebih baik menyembunyikan amalan sedekahnya tersebut. Hal ini untuk menghindari sifat riya yang dapat menghapus pahala sedekah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 264, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah.”

Sementara itu di tengah masyarakat yang majemuk, orang tentu tidak dapat terhindar dari bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang. Termasuk pula bergaul dengan yang berbeda latar belakang agama. Dalam kondisi seperti ini Islam mengajarkan untuk membangun hubungan yang harmonis di antara sesama. Namun demikian apakah anjuran seperti itu juga mencakup kebolehan bersedekah kepada mereka yang non-muslim? Ada sebuah hadits menyebutkan “Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar RA, ia berkata: “pada masa Rasulullah SAW, Ibuku datang kepadaku sementara ia masih musyrik. Aku lalu meminta fatwa kepada Rasulullah SAW: ‘Ibuku datang kepadaku dan ia menginginkan suatu pemberian. Apakah Aku boleh memberinya?’ Rasulullah SAW pun menjawab: ‘Ya, berilah ibumu’. (Muttafaqun ‘Alaih).
Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa diperbolehkan bersedekah kepada orang non-muslim dan tetap berpahala. Hanya saja, sesuai dengan pertanyaan penanya, barang yang disedekahkan (traktirannya) adalah berupa daging babi, maka di sini yang dibahas beralih kepada barang yang disedekahkan.

Baca Juga :  Kisah Siti Asmonah, setelah Atap Rumahnya Lepas Tersapu Puting Beliung

Dalam Islam,  bersedekah juga harus dari hasil yang halal sesuai firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 267, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya.”

Sedangkan babi merupakan barang najis yang tidak boleh dikonsumsi. Dalam Surat al-Maidah:3  disebutkan “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.”.  

Baca Juga :  ‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Sejarah Besar Kota Kediri (13)

Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan tentang akibat dari mengonsumsi barang najis seperti khamar dan lainnya. Antara lain dalam hadisnya:“Dari Abdurrahman bin Abdullah Al Ghafiqi dan Abu Thu’mah mantan budak mereka, keduanya mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah SAW bersabda: ” dilaknat (akibat) khamar sepuluh pihak; dzatnya, yang memerasnya, yang minta diperaskan, penjualnya, yang minta dibelikan, yang membawanya, yang minta dibawakannya, yang memakan hasil penjualannya, peminumnya, dan yang menuangkannya (pelayannya), “ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Beberapa ulama menafsirkan sural Al-Maidah ayat 3 itu, bahwa keharaman babi  tidak hanya dagingnya saja. Seluruh bagian dari tubuh babi yang diolah baik dalam bentuk makanan maupun produk lainnya diharamkan untuk dikonsumsi dan dipergunakan. Yang dapat difahami bahwa intifa’ (mengambil manfaat) secara umum terhadap babi ini menjadi haram termasuk mensedekahkan dagingnya. Wallahu a’lam bish shawab. (Dr Hj Nurul Hanani, MHI/ Dosen IAIN Kediri)

- Advertisement -

Assalamualaikum wr. Wb., kami ingin menanyakan tentang seorang muslim yang mentraktir temannya non-muslim makan sate dan daging babi guling. Terima kasih.

(Suseno, 085725873xxx)

 

Wa’aalaikumussalam wr wb.

Penanya yang kami hormati, mentraktir menurut pengertian umum  adalah memberikan sesuatu tanpa imbalan. Dalam ajaran Islam dikenal dengan sebutan shodaqoh atau sedekah. Memang, Islam mengajarkan untuk menyisihkan sebagian harta yang dimiliki, salah satunya melalui sedekah. Tujuannya untuk menyucikan harta, membantu sesama, serta bekal pahala di akherat kelak.

Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai macam cara. Misalnya dengan memberi pertolongan baik dengan harta maupun tenaga, menafkahi keluarga, menyingkirkan batu dari jalan, dan masih banyak lagi. Bahkan, menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain juga termasuk sedekah.

Dalam bersedekah, umat Islam dianjurkan untuk tidak menyakiti perasaan orang yang diberi sedekah. Serta lebih baik menyembunyikan amalan sedekahnya tersebut. Hal ini untuk menghindari sifat riya yang dapat menghapus pahala sedekah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 264, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah.”

Sementara itu di tengah masyarakat yang majemuk, orang tentu tidak dapat terhindar dari bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang. Termasuk pula bergaul dengan yang berbeda latar belakang agama. Dalam kondisi seperti ini Islam mengajarkan untuk membangun hubungan yang harmonis di antara sesama. Namun demikian apakah anjuran seperti itu juga mencakup kebolehan bersedekah kepada mereka yang non-muslim? Ada sebuah hadits menyebutkan “Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar RA, ia berkata: “pada masa Rasulullah SAW, Ibuku datang kepadaku sementara ia masih musyrik. Aku lalu meminta fatwa kepada Rasulullah SAW: ‘Ibuku datang kepadaku dan ia menginginkan suatu pemberian. Apakah Aku boleh memberinya?’ Rasulullah SAW pun menjawab: ‘Ya, berilah ibumu’. (Muttafaqun ‘Alaih).
Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa diperbolehkan bersedekah kepada orang non-muslim dan tetap berpahala. Hanya saja, sesuai dengan pertanyaan penanya, barang yang disedekahkan (traktirannya) adalah berupa daging babi, maka di sini yang dibahas beralih kepada barang yang disedekahkan.

Baca Juga :  Berangkat Salat Jumat tanpa Khawatir Terpeleset

Dalam Islam,  bersedekah juga harus dari hasil yang halal sesuai firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 267, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya.”

Sedangkan babi merupakan barang najis yang tidak boleh dikonsumsi. Dalam Surat al-Maidah:3  disebutkan “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.”.  

Baca Juga :  Makan Khalawak Oles Sale selama di Makkah

Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan tentang akibat dari mengonsumsi barang najis seperti khamar dan lainnya. Antara lain dalam hadisnya:“Dari Abdurrahman bin Abdullah Al Ghafiqi dan Abu Thu’mah mantan budak mereka, keduanya mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah SAW bersabda: ” dilaknat (akibat) khamar sepuluh pihak; dzatnya, yang memerasnya, yang minta diperaskan, penjualnya, yang minta dibelikan, yang membawanya, yang minta dibawakannya, yang memakan hasil penjualannya, peminumnya, dan yang menuangkannya (pelayannya), “ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Beberapa ulama menafsirkan sural Al-Maidah ayat 3 itu, bahwa keharaman babi  tidak hanya dagingnya saja. Seluruh bagian dari tubuh babi yang diolah baik dalam bentuk makanan maupun produk lainnya diharamkan untuk dikonsumsi dan dipergunakan. Yang dapat difahami bahwa intifa’ (mengambil manfaat) secara umum terhadap babi ini menjadi haram termasuk mensedekahkan dagingnya. Wallahu a’lam bish shawab. (Dr Hj Nurul Hanani, MHI/ Dosen IAIN Kediri)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/