23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Sudah Dewasa Masih Bermain Boneka

Pada awal tahun ini publik sempat heboh dengan artis yang mengadopsi boneka. Bentuknya seperti bayi manusia. Kemudian ada yang menyebutnya boneka arwah ataupun spirit doll. Bagaimana fenomena ini dari pandangan psikologis?

 

Jika dilihat dari perkembangan hidup manusia, memang ada tahapan di mana sesorang bermain dengan boneka. Kebanyakan mereka yang bermain dengan boneka adalah anak-anak.

“Sesuai dengan aspek perkembangan, boneka ini dapat melatih perkembangan bahasa, sosial, emosi dan termasuk imajinasinya,” terang Imadattus Sadah, Psikolog Klinis Kediri.

Kepada wartawan koran ini, Imadattus mengatakan bahwa boneka yang dijuluki sebagai sprit doll sudah lama ada. Untuk mengetahui kondisi seseorang yang membeli boneka ini perlu dilakukan pengecekan latar bekangnya.

Dari memeriksa latar belakang tersebut, menurut Imadattus, nantinya akan diketahui boneka itu dibeli digunakan untuk apa. Boneka ini dapat dibeli hanya sebagai mainan, mengikuti tren yang sedang ada, pembantu terapi, atau dibeli sebagai pengalihan rasa sakit pemiliknya.

Baca Juga :  Tabrakan Motor di Mojoroto karena Pengendara Nyalip Terlalu ke Kanan

“Misal pembeli boneka ini beli secara tujuan seperti apa, hal tersebut tidak menjadi sebuah masalah,” imbuhnya.

Namun jika pembelian boneka digunakan sebagai pengalihan dari sesuatu yang tidak bisa menerima. Salah satunya adalah orang yang tidak terima telah kehilangan anaknya, atau hingga tidak memiliki anak. Dalam realita, orang tersebut harus dapat menerimanya.

Karena tidak bisa menghadapi akhirnya mengalihkannya kepada boneka bayi. Orang-orang tersebut, nantinya dapat menjadi sebuah gangguan. Jika dalam tingkat orang tersebut memperlakukan boneka sebagai mahluk hidup, dan membayangkan sebagai mahluk hidup. Tingkat kesadaran yang perlu pendampingan atau intervensi dari psikolog.

Imadattus menambahkan bahwa peran orang dewasa adalah dapat berfungsi dalam pendidikan, pekerjaan, interaksi sosial, dan kegiatan kesehariannya. “Menjadi wajar jika orang dewasa tersebut menyadari tujuannya bermain spirit doll dia menyadari kebutuhan emosi dan afeksi yang dimilikinya, serta tetap mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui interaksi langsung secara dua arah dalam hubungan yang baik dengan orang lain,” papar Imadattus.

Baca Juga :  Mengenal Lusia Angga Kusuma, Juru Bahasa Isyarat Nganjuk

Apabila dilakukan dengan wajar, secukupnya, dan tidak berlebihan, tambah psikolog perempuan ini, maka mengadopsi spirit doll dapat membuat orang terpenuhi kebutuhan untuk merawat pada tahap dasar, latihan bermain peran tertentu, misalnya peran merawat anak. Selain itu kreativitas dan imajinasi juga dapat terstimulasi. (ara/ndr)

 

- Advertisement -

Pada awal tahun ini publik sempat heboh dengan artis yang mengadopsi boneka. Bentuknya seperti bayi manusia. Kemudian ada yang menyebutnya boneka arwah ataupun spirit doll. Bagaimana fenomena ini dari pandangan psikologis?

 

Jika dilihat dari perkembangan hidup manusia, memang ada tahapan di mana sesorang bermain dengan boneka. Kebanyakan mereka yang bermain dengan boneka adalah anak-anak.

“Sesuai dengan aspek perkembangan, boneka ini dapat melatih perkembangan bahasa, sosial, emosi dan termasuk imajinasinya,” terang Imadattus Sadah, Psikolog Klinis Kediri.

Kepada wartawan koran ini, Imadattus mengatakan bahwa boneka yang dijuluki sebagai sprit doll sudah lama ada. Untuk mengetahui kondisi seseorang yang membeli boneka ini perlu dilakukan pengecekan latar bekangnya.

Dari memeriksa latar belakang tersebut, menurut Imadattus, nantinya akan diketahui boneka itu dibeli digunakan untuk apa. Boneka ini dapat dibeli hanya sebagai mainan, mengikuti tren yang sedang ada, pembantu terapi, atau dibeli sebagai pengalihan rasa sakit pemiliknya.

Baca Juga :  Warga Jugo Bertahun-tahun Hidup dalam Bayang-Bayang Bencana

“Misal pembeli boneka ini beli secara tujuan seperti apa, hal tersebut tidak menjadi sebuah masalah,” imbuhnya.

Namun jika pembelian boneka digunakan sebagai pengalihan dari sesuatu yang tidak bisa menerima. Salah satunya adalah orang yang tidak terima telah kehilangan anaknya, atau hingga tidak memiliki anak. Dalam realita, orang tersebut harus dapat menerimanya.

Karena tidak bisa menghadapi akhirnya mengalihkannya kepada boneka bayi. Orang-orang tersebut, nantinya dapat menjadi sebuah gangguan. Jika dalam tingkat orang tersebut memperlakukan boneka sebagai mahluk hidup, dan membayangkan sebagai mahluk hidup. Tingkat kesadaran yang perlu pendampingan atau intervensi dari psikolog.

Imadattus menambahkan bahwa peran orang dewasa adalah dapat berfungsi dalam pendidikan, pekerjaan, interaksi sosial, dan kegiatan kesehariannya. “Menjadi wajar jika orang dewasa tersebut menyadari tujuannya bermain spirit doll dia menyadari kebutuhan emosi dan afeksi yang dimilikinya, serta tetap mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui interaksi langsung secara dua arah dalam hubungan yang baik dengan orang lain,” papar Imadattus.

Baca Juga :  Suka Duka Edi Basuki Membina Atlet Binaraga Kediri

Apabila dilakukan dengan wajar, secukupnya, dan tidak berlebihan, tambah psikolog perempuan ini, maka mengadopsi spirit doll dapat membuat orang terpenuhi kebutuhan untuk merawat pada tahap dasar, latihan bermain peran tertentu, misalnya peran merawat anak. Selain itu kreativitas dan imajinasi juga dapat terstimulasi. (ara/ndr)

 

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/