25.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Kisah-Kisah Menarik dari Kuliner ‘Akulturasi’ Tionghoa –Kediri (2)

Harga kue tong dju pia tergolong mahal. Karena proses pembuatan yang lama dan bahan yang sulit didapat. Tiap tahunnya bahan pembuatan kue ini harus dipesan di Surabaya. Sulit mencari di Kediri. Bila ada, harganya pun mahal.

 

 

MUALIFU ROSYIDIN AL FARISI, Kota, JP Radar Kediri

 

Lahir di tengah keluarga pembuat mie, Suk Lian alias Liliana ternyata juga belajar membuat makanan asal Tionghoa lainnya. Terutama yang disajikan saat Imlek. Salah satunya adalah membuat tong dju pia atau yang lebih dikenal dengan kue bulan.

Menurut penerus depot mi legendaris Mie Ayam GSW ini, resep kue ini berasal dari leluhurnya yang asli Tiongkok. Yang bermigrasi ke Indonesia sejak 1900-an. Kue ini dibuat untuk perayaan dan persembahan para dewa dalam tradisi orang Tiongkok atau Tionghoa. Perayaan itu terus berulang tiap tahunnya, berasal dari tradisi sejak zaman nenek moyangnya.

Bermula dari sesajian pada persembahan dan penghormatan pada dewa di musim gugur. Yang biasanya merupakan masa panen yang dianggap penting dalam kebudayaan Tionghoa yang berbasis pertanian. Terkenalnya, perayaan tersebut dikenal dengan festival musim gugur.

Tidak banyak orang yang bisa membuat menjadikan kue ini termasuk langka di banyak daerah, termasuk di Kediri. Membuat kue ini tergolong sulit. Juga memakan waktu yang lama. Hanya beberapa orang saja yang masih bisa hingga saat ini.

Liliana tidak tahu dengan pasti kapan mendapat resep turun-temurun di silsilah keluarganya ini. Yang diingatnya hanya dia diajari oleh ayahnya, Khee Swie. Dan sejak kakeknya dulu sudah banyak yang pesan. Terutama kelenteng di sekitar Kediri.

Baca Juga :  Alun-Alun, Tempat Bertemu Pemimpin dan Rakyat

 “Dulu hanya kakek dan papa (Khee, Red) yang bisa,” ucapnya.

Kue kreasi Liliana tersebut dikemas bertumpuk hingga menyerupai kerucut. Ukurannya hampir selebar piring di bagian paling bawah. Bertumpuk ke atas dengan ukuran semakin mengecil. Tumpukannya bisa sampai lima susun.

Dulu, era kakeknya, kue itu bernama yek liong hong. Dalam bahasa Hokkian, yek berarti bulan, liong artinya naga, sedangkan hong adalah burung merak. Dapat dilihat pada kemasan kuenya yang bergambar naga yang berkelok indah berpadu dengan burung merak berkelir merah. Liliana kurang tahu pasti mengapa kuenya diberi nama demikian.         

Kue tersebut dulunya memiliki varian isi berupa manisan buah-buahan. Seperti buah beligo, jeruk, dan lainnya. Lalu dicampur dengan minyak babi. Setelah itu, dibungkus dengan adonan tepung beras dengan campuran lain seperti gula.

Selain manisan buah, ada yang tidak menggunakan minyak babi yaitu isi kacang tanah, keju, dan rempah-rempah yang dicampur menjadi satu. Istilah rempah-rempah tersebut dikenal Liliana dengan bahasa Hokkiannya Ngoyong. “Jadi tidak semuanya pakai minyak (babi),” tambah Liliana.

Wanita 65 tahun tersebut mengikuti perkembangan zaman dengan membuat beberapa varian isi yang lebih disukai kaum muda saat ini. Isi kue seperti nanas dan cokelat menjadi rasa baru dalam mengikuti tren saat ini.

“Varian seperti yang baru-baru itu buat anak-anak yang gak doyan rasa kue aslinya, jadi doyan,” papar Liliana.

Dulu banyak orang keturunan Tionghoa yang pesan. Lebih dari 200 kilogram tiap tahunnya dibuat bersama Khee. Namun pesanan tersebut terus turun hingga terakhir Liliana membuatnya sendiri hanya sekitar 50 kilogram.

Baca Juga :  Cookies Nastar D’Star

Terakhir Liliana mematok dengan harga Rp 250 ribu per kilonya. Satu kilo kue itu bertumpuk lima buah. Lalu dibungkus plastik bergambar naga dan merak merah yang menjadi cap andalannya.

Tidak hanya itu, terkadang Liliana banyak menerima pesanan Tong Dju Pia bertumpuk tujuh dan tiga. Hitungan harga berpatok pada berat kue yang dipesan. “Biasanya kalo hanya tumpuk tiga itu setengah kilo, berarti harganya Rp 125 ribu,” terangnya.

Harga kue ini memang mahal. Lantaran proses pembuatan yang lama dan bahan yang sulit mendapatkan. Tiap tahunnya, Liliana harus memesan di Surabaya. Bahan-bahan tong dju pia di Kediri tergolong susah dicari sekaligus mahal.

Dalam Tradisi Tionghoa, bulan-bulan khusus untuk memberi ucapan terima kasih untuk para dewa juga membuat kue lain. Jika pada bulan delapan ada festival musim gugur dengan tong dju pia-nya, di tanggal lima bulan kelima pada penanggalan Tiongkok ada Festival Peh Cun alias perayaan dayung perahu atau perahu naga. Juga, pada 22 Desember dalam penanggalan masehi, ada Festival Ronde.

Peh Cun merupakan simbol rasa syukur dalam tradisi Tionghoa. Dengan diwarnai perlombaan dayung perahu naga dan makan kue dari beras ketan yang dibungkus menyerupai layar perahu.11

Yang terakhir ada kue bernama ronde. Kue tersebut merupakan simbol persatuan untuk berkumpul bagi seluruh anggota keluarga. Dengan kegiatan utama yang dilakukan membuat dan menikmati tangyuan alias wedang ronde. Hidangan berbentuk bola-bola dari beras ketan tersebut dihidangkan dengan kuah sup manis dan hangat. “Tepat pada hari ibu, kami (kaum Tionghoa, Red) ada Festival Ronde,” pungkas Liliana.

 

- Advertisement -

Harga kue tong dju pia tergolong mahal. Karena proses pembuatan yang lama dan bahan yang sulit didapat. Tiap tahunnya bahan pembuatan kue ini harus dipesan di Surabaya. Sulit mencari di Kediri. Bila ada, harganya pun mahal.

 

 

MUALIFU ROSYIDIN AL FARISI, Kota, JP Radar Kediri

 

Lahir di tengah keluarga pembuat mie, Suk Lian alias Liliana ternyata juga belajar membuat makanan asal Tionghoa lainnya. Terutama yang disajikan saat Imlek. Salah satunya adalah membuat tong dju pia atau yang lebih dikenal dengan kue bulan.

Menurut penerus depot mi legendaris Mie Ayam GSW ini, resep kue ini berasal dari leluhurnya yang asli Tiongkok. Yang bermigrasi ke Indonesia sejak 1900-an. Kue ini dibuat untuk perayaan dan persembahan para dewa dalam tradisi orang Tiongkok atau Tionghoa. Perayaan itu terus berulang tiap tahunnya, berasal dari tradisi sejak zaman nenek moyangnya.

Bermula dari sesajian pada persembahan dan penghormatan pada dewa di musim gugur. Yang biasanya merupakan masa panen yang dianggap penting dalam kebudayaan Tionghoa yang berbasis pertanian. Terkenalnya, perayaan tersebut dikenal dengan festival musim gugur.

Tidak banyak orang yang bisa membuat menjadikan kue ini termasuk langka di banyak daerah, termasuk di Kediri. Membuat kue ini tergolong sulit. Juga memakan waktu yang lama. Hanya beberapa orang saja yang masih bisa hingga saat ini.

Liliana tidak tahu dengan pasti kapan mendapat resep turun-temurun di silsilah keluarganya ini. Yang diingatnya hanya dia diajari oleh ayahnya, Khee Swie. Dan sejak kakeknya dulu sudah banyak yang pesan. Terutama kelenteng di sekitar Kediri.

Baca Juga :  Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (13)

 “Dulu hanya kakek dan papa (Khee, Red) yang bisa,” ucapnya.

Kue kreasi Liliana tersebut dikemas bertumpuk hingga menyerupai kerucut. Ukurannya hampir selebar piring di bagian paling bawah. Bertumpuk ke atas dengan ukuran semakin mengecil. Tumpukannya bisa sampai lima susun.

Dulu, era kakeknya, kue itu bernama yek liong hong. Dalam bahasa Hokkian, yek berarti bulan, liong artinya naga, sedangkan hong adalah burung merak. Dapat dilihat pada kemasan kuenya yang bergambar naga yang berkelok indah berpadu dengan burung merak berkelir merah. Liliana kurang tahu pasti mengapa kuenya diberi nama demikian.         

Kue tersebut dulunya memiliki varian isi berupa manisan buah-buahan. Seperti buah beligo, jeruk, dan lainnya. Lalu dicampur dengan minyak babi. Setelah itu, dibungkus dengan adonan tepung beras dengan campuran lain seperti gula.

Selain manisan buah, ada yang tidak menggunakan minyak babi yaitu isi kacang tanah, keju, dan rempah-rempah yang dicampur menjadi satu. Istilah rempah-rempah tersebut dikenal Liliana dengan bahasa Hokkiannya Ngoyong. “Jadi tidak semuanya pakai minyak (babi),” tambah Liliana.

Wanita 65 tahun tersebut mengikuti perkembangan zaman dengan membuat beberapa varian isi yang lebih disukai kaum muda saat ini. Isi kue seperti nanas dan cokelat menjadi rasa baru dalam mengikuti tren saat ini.

“Varian seperti yang baru-baru itu buat anak-anak yang gak doyan rasa kue aslinya, jadi doyan,” papar Liliana.

Dulu banyak orang keturunan Tionghoa yang pesan. Lebih dari 200 kilogram tiap tahunnya dibuat bersama Khee. Namun pesanan tersebut terus turun hingga terakhir Liliana membuatnya sendiri hanya sekitar 50 kilogram.

Baca Juga :  Berpulangnya Ir Sunyata, Sosok Berintegritas Tinggi yang Rendah Hati

Terakhir Liliana mematok dengan harga Rp 250 ribu per kilonya. Satu kilo kue itu bertumpuk lima buah. Lalu dibungkus plastik bergambar naga dan merak merah yang menjadi cap andalannya.

Tidak hanya itu, terkadang Liliana banyak menerima pesanan Tong Dju Pia bertumpuk tujuh dan tiga. Hitungan harga berpatok pada berat kue yang dipesan. “Biasanya kalo hanya tumpuk tiga itu setengah kilo, berarti harganya Rp 125 ribu,” terangnya.

Harga kue ini memang mahal. Lantaran proses pembuatan yang lama dan bahan yang sulit mendapatkan. Tiap tahunnya, Liliana harus memesan di Surabaya. Bahan-bahan tong dju pia di Kediri tergolong susah dicari sekaligus mahal.

Dalam Tradisi Tionghoa, bulan-bulan khusus untuk memberi ucapan terima kasih untuk para dewa juga membuat kue lain. Jika pada bulan delapan ada festival musim gugur dengan tong dju pia-nya, di tanggal lima bulan kelima pada penanggalan Tiongkok ada Festival Peh Cun alias perayaan dayung perahu atau perahu naga. Juga, pada 22 Desember dalam penanggalan masehi, ada Festival Ronde.

Peh Cun merupakan simbol rasa syukur dalam tradisi Tionghoa. Dengan diwarnai perlombaan dayung perahu naga dan makan kue dari beras ketan yang dibungkus menyerupai layar perahu.11

Yang terakhir ada kue bernama ronde. Kue tersebut merupakan simbol persatuan untuk berkumpul bagi seluruh anggota keluarga. Dengan kegiatan utama yang dilakukan membuat dan menikmati tangyuan alias wedang ronde. Hidangan berbentuk bola-bola dari beras ketan tersebut dihidangkan dengan kuah sup manis dan hangat. “Tepat pada hari ibu, kami (kaum Tionghoa, Red) ada Festival Ronde,” pungkas Liliana.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/