31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Perupa Kenamaan Dyan Anggraini, dan Cerita Tiap Instalasi Seninya

Peringatan Satu Abad Taman Siswa Juli nanti jadi momen bagi Dyan Anggraini untuk pulang ke “Rumah Besar”. Di tempatnya mengenyam pendidikan mulai  bangku TK hingga SMA itu, maestro lukis tersebut menggelar pameran untuk memperlihatkan Taman Siswa dari “matanya”.

Neng, Ning, Nung, Nang, adalah judul yang dipilih Dyan Anggraini dalam pameran tunggal yang digelar di Taman Siswa Kota Kediri sejak Rabu (22/6) hingga Rabu (3/7) mendatang. Perempuan kelahiran 2 Februari 1957 lalu itu sengaja memilih judul itu setelah mengambil wejangan hidup Ki Hajar Dewantara, yang tak lain Pendiri Taman Siswa.

Yakni, untuk mencapai “Nang” atau menang, orang harus melewati tiga tahap sebelumnya. Mulai “Neng” atau meneng (diam), “Ning” atau wening (bening), dan Nung atau hanung (legawa). “Saya ingin menyampaikan itu (falsafah Neng, Ning, Nung, Nang, Red) dalam pameran kali ini,” tutur perempuan asli Kelurahan Balowerti, Kota Kediri itu.

Taman Siswa bagi Dyan bukan sekadar tempatnya sekolah. Melainkan sudah menjadi “Rumah Besar”. Peringatan satu abad Taman Siswa baginya juga bukan hanya ukuran angka tahun. Melainkan, jadi refleksi capaian dan tantangan.

Sesanti Neng, Ning, Nung, Nang, peninggalan Ki Hajar Dewantara itu, dijadikan judul pameran sekaligus agar masyarakat bisa belajar cara memecahkan masalah. “Semua dari Neng, Ning, Nung, Nang itu saling berhubungan,” beber alumnus Taman Siswa 1978 silam itu.

Baca Juga :  Rumah Jahe ‘Raksasa’, Nuansa Natal Khas Grand Surya Hotel Kediri

Dia mencontohkan, meneng atau diam bisa diartikan saat kita menghadapi masalah tidak boleh dihindari. Melainkan harus dipikir dengan matang dalam diam. Atau tetap tenang dalam berpikir.

Dalam kondisi diam, pikiran akan menjadi jernih atau bersih alias wening. Sehingga, bisa menemukan ketenteraman hati. Setelah itu akan meningkat menjadi hanung atau legawa. Bisa menerima kritik dan saran.

“Setelah melalui rangkaian proses Neng, Ning, Nung, pada akhirnya kita akan mencapai kemenangan. Menaklukkan diri sendiri sehingga bisa berkarya dengan maksimal,” beber ibu tiga anak itu.

Sesuai judul yang diambil, pameran tunggal living maestro berisi belasan lukisan dan berbagai instalasi seni itu seolah menggambarkan perjuangan Dyan di dunia yang digelutinya sekarang. Misalnya, keberadaan surat tugas saat ia

bekerja di Taman Budaya, Jogjakarta. Hingga gambar terbaru berjudul “Di Tanganmu” yang baru dibuat pada Februari 2022.

“Setiap hari pasti menggambar. Melukis, apa saja yang bisa saya curahkan dari kegundahan hati saya ke dalam kanvas, kertas, apa saja,” papar perempuan berambut sebahu itu.

Baca Juga :  ‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Sejarah Besar Kota Kediri (12)

Baginya, seni adalah salah satu media untuk pencurahan hati. Sekaligus sebuah pengingat, dan bentuk perlawanan. Apabila dibungkam melalui verbal dan tulisan, dia masih bisa melakukan melalui rupa.

Di usianya yang mencapai 100 tahun 3 Juli nanti, Dyan tak ingin cahaya di Rumah Besarnya itu padam. Karenanya, dia berusaha terus menjaga nyalanya lewat seni. Memberi tahu semua orang jika mereka memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengubah diri hingga ke lingkungan.

“Saya masih memegang teguh hal yang terus diajarkan sejak saya masih belajar di Taman Indria, atau setingkat TK di sini. Yaitu, mencerdaskan bangsa bisa melalui dengan mempertahankan budaya bangsa itu sendiri,” tuturnya kalem.

Lukisan-lukisan yang dipasang di ruang kelas TKJ 10 Taman Dewasa, di Kompleks Taman Siswa itu terpasang rapi. Di sana Dyan juga memajang dua tokoh yang sangat berpengaruh di hidupnya.

Ada pula gambar yang menurutnya bisa menggambarkan tokoh tersebut.

Yakni, Ki Hajar Dewantara dengan gambar “Among” dan gambar ayahnya, Rais Rayan, yang secara tidak langsung membuatnya jatuh cinta pada seni rupa.






Reporter: Iqbal Syahroni
- Advertisement -

Peringatan Satu Abad Taman Siswa Juli nanti jadi momen bagi Dyan Anggraini untuk pulang ke “Rumah Besar”. Di tempatnya mengenyam pendidikan mulai  bangku TK hingga SMA itu, maestro lukis tersebut menggelar pameran untuk memperlihatkan Taman Siswa dari “matanya”.

Neng, Ning, Nung, Nang, adalah judul yang dipilih Dyan Anggraini dalam pameran tunggal yang digelar di Taman Siswa Kota Kediri sejak Rabu (22/6) hingga Rabu (3/7) mendatang. Perempuan kelahiran 2 Februari 1957 lalu itu sengaja memilih judul itu setelah mengambil wejangan hidup Ki Hajar Dewantara, yang tak lain Pendiri Taman Siswa.

Yakni, untuk mencapai “Nang” atau menang, orang harus melewati tiga tahap sebelumnya. Mulai “Neng” atau meneng (diam), “Ning” atau wening (bening), dan Nung atau hanung (legawa). “Saya ingin menyampaikan itu (falsafah Neng, Ning, Nung, Nang, Red) dalam pameran kali ini,” tutur perempuan asli Kelurahan Balowerti, Kota Kediri itu.

Taman Siswa bagi Dyan bukan sekadar tempatnya sekolah. Melainkan sudah menjadi “Rumah Besar”. Peringatan satu abad Taman Siswa baginya juga bukan hanya ukuran angka tahun. Melainkan, jadi refleksi capaian dan tantangan.

Sesanti Neng, Ning, Nung, Nang, peninggalan Ki Hajar Dewantara itu, dijadikan judul pameran sekaligus agar masyarakat bisa belajar cara memecahkan masalah. “Semua dari Neng, Ning, Nung, Nang itu saling berhubungan,” beber alumnus Taman Siswa 1978 silam itu.

Baca Juga :  Selalu Siaga 24 Jam

Dia mencontohkan, meneng atau diam bisa diartikan saat kita menghadapi masalah tidak boleh dihindari. Melainkan harus dipikir dengan matang dalam diam. Atau tetap tenang dalam berpikir.

Dalam kondisi diam, pikiran akan menjadi jernih atau bersih alias wening. Sehingga, bisa menemukan ketenteraman hati. Setelah itu akan meningkat menjadi hanung atau legawa. Bisa menerima kritik dan saran.

“Setelah melalui rangkaian proses Neng, Ning, Nung, pada akhirnya kita akan mencapai kemenangan. Menaklukkan diri sendiri sehingga bisa berkarya dengan maksimal,” beber ibu tiga anak itu.

Sesuai judul yang diambil, pameran tunggal living maestro berisi belasan lukisan dan berbagai instalasi seni itu seolah menggambarkan perjuangan Dyan di dunia yang digelutinya sekarang. Misalnya, keberadaan surat tugas saat ia

bekerja di Taman Budaya, Jogjakarta. Hingga gambar terbaru berjudul “Di Tanganmu” yang baru dibuat pada Februari 2022.

“Setiap hari pasti menggambar. Melukis, apa saja yang bisa saya curahkan dari kegundahan hati saya ke dalam kanvas, kertas, apa saja,” papar perempuan berambut sebahu itu.

Baca Juga :  Kebakaran di SPBU Turus, Ini Penyebabnya

Baginya, seni adalah salah satu media untuk pencurahan hati. Sekaligus sebuah pengingat, dan bentuk perlawanan. Apabila dibungkam melalui verbal dan tulisan, dia masih bisa melakukan melalui rupa.

Di usianya yang mencapai 100 tahun 3 Juli nanti, Dyan tak ingin cahaya di Rumah Besarnya itu padam. Karenanya, dia berusaha terus menjaga nyalanya lewat seni. Memberi tahu semua orang jika mereka memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengubah diri hingga ke lingkungan.

“Saya masih memegang teguh hal yang terus diajarkan sejak saya masih belajar di Taman Indria, atau setingkat TK di sini. Yaitu, mencerdaskan bangsa bisa melalui dengan mempertahankan budaya bangsa itu sendiri,” tuturnya kalem.

Lukisan-lukisan yang dipasang di ruang kelas TKJ 10 Taman Dewasa, di Kompleks Taman Siswa itu terpasang rapi. Di sana Dyan juga memajang dua tokoh yang sangat berpengaruh di hidupnya.

Ada pula gambar yang menurutnya bisa menggambarkan tokoh tersebut.

Yakni, Ki Hajar Dewantara dengan gambar “Among” dan gambar ayahnya, Rais Rayan, yang secara tidak langsung membuatnya jatuh cinta pada seni rupa.






Reporter: Iqbal Syahroni

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/