25.3 C
Kediri
Sunday, August 7, 2022

Narkoba, Merenggut Impian dan Kebebasan Mereka

Awalnya mereka hanya coba-coba, diberi gratisan oleh teman. Lama-lama akhirnya kecanduan. Puncaknya, pudar pula impian dan masa depan mereka.

“Dinginnya angin malam ini…menyapa tubuhku….namun tidak dapat di inginkan panasnya ….hatiku ini….” Suara itu mengalun dari mulut pemuda plontos berkemejaputih. Kedua tangannya memainkan gitar. Dengan petikan senar yang masih terasa kaku. Namun, kekakuan itu tertutupi oleh suaranya yang tergolong merdu.

Bukti bahwa nyanian pemuda ini enak didengar adalah larutnya beberapa teman perempuan yang ada di dekatnya. Mereka ikut bernyanyi lagu tersebut. Juga dengan penghayatan yang dalam.

“Baru Latihan sekitar sebulan ini,” ucap sang pemetik gitar itu, menunjukkan alasan kenapa petikannya masih terasa kaku.

Pemuda itu sebut saja Damian-bukan nama sebenarnya. Usianya baru 17 tahun. Saat itu dia berada di rumah yang menjadi tempat rehabilitasi pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). Fasilitas tersebut milik Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Eklesia. Tempatnya di Lingkungan Cakarwesi, Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Damian adalah salah seorang residen di IPWL Eklesia Kediri. Ia termasuk yang menjalani rawat inap. Untuk menyembuhkan adiksi terhadap narkotika jenis sabu-sabu yang ia rasakan.

Remaja ini berada di tempat itu karena mengikuti vonis pengadilan anak di Kediri. Ia mendapatkan waktu 10 bulan untuk mengikuti rawat inap. Khususnya untuk menghilangkan pengaruh kecanduannya pada serbuk putih jahat itu.

Baca Juga :  1,7 Ha Tanah Bandara Dhoho Kediri Belum Beres

Perkenalannya dengan dunia kriminal itu memang lebih lama dibandingkan ia belajar gitar. Perlu ada kedekatan antara Damian dengan yang memberikan akses ke barang haram tersebut. Kepada koran ini,  Ia mengaku sudah mengenal sabu-sabu sejak satu tahun terakhir. Tidak secara sengaja, namun karena ada “paksaan” dari kenalannya.

Semua berawal saat dirinya mulai mengenal dunia “drag race”. Mulai motor pemberian orang tuanya dipereteli. Lalu ikut menggeber motor dan terlibat kegiatan balapan liar.

“Tapi saya cuma nonton, tidak ikut balapan,” ucapnya sambil matanya menerawang, seakan melihat masa-masa itu.

Dia memang tidak mau menceritakan detailnya. Hanya saja, dia ingat saat itu juga ditawari sabu-sabu secara cuma-cuma. Hanya untuk menghirup, atau mencairkan serbuk yang mengandung metamfetamin itu.

Sekali…dua kali… tiga kali, dan seterusnya. Hingga akhirnya sudah tak terhingga dan Damian pun menjadi pecandu. Hampir setiap kali keluar untuk bermain bersama teman-teman dari luar desanya itu, ia diberi. Sudah seperti “kewajiban” ketika sedang dilanda kesusahan di umurnya yang masih belasan itu.

Baca Juga :  Persedikab Gagal Bawa Pulang Trofi

“Kalau dipikir-pikir, tidak enak. Rasanya di kepala pusing. Enak masak sayur sop di sini, Mas,” ujarnya sembari bergurau.

Puncaknya pada November 2021 lalu, dirinya ditangkap oleh satresnarkoba Polres Kediri Kota. Ia masih ingat, saat itu berada di rumahnya, yang berbeda dari wilayah hukum Polres Kediri Kota. “Katanya dulu saya ditangkap dari pengembangan kasus teman saya juga,” terangnya.

Kasus berlanjut hingga kejaksaan dan pengadilan. Melalui asesmen yang dilakukan, karena tergolong pecandu atau korban dan bukan pengedar, Damian divonis 10 bulan menjalani rehabilitasi.

Meninggalkan kebiasaan nyabu juga tak mudah. Meskipun di tempat rehabilitasi, rasa ingin mencoba selalu muncul. “Selama wajib lapor dulu, juga masih ada rasa pengen coba. Lama kelamaan, memang barang haram itu tidak bagus untuk tubuh saya,” ujarnya.

Efeknya adalah sesuatu yang tidak baik bagi tubuh. Mulai dari tidak doyan makan hingga sering merenung dan marah-marah. Semua pernah ia rasakan ketika kecanduan serbuk putih haram tersebut.

“Sekarang saya pengen sembuh. Pengen antar kakek lagi ke pasar hewan,” ujar remaja ini, mengakhiri cerita.






Reporter: Iqbal Syahroni
- Advertisement -

Awalnya mereka hanya coba-coba, diberi gratisan oleh teman. Lama-lama akhirnya kecanduan. Puncaknya, pudar pula impian dan masa depan mereka.

“Dinginnya angin malam ini…menyapa tubuhku….namun tidak dapat di inginkan panasnya ….hatiku ini….” Suara itu mengalun dari mulut pemuda plontos berkemejaputih. Kedua tangannya memainkan gitar. Dengan petikan senar yang masih terasa kaku. Namun, kekakuan itu tertutupi oleh suaranya yang tergolong merdu.

Bukti bahwa nyanian pemuda ini enak didengar adalah larutnya beberapa teman perempuan yang ada di dekatnya. Mereka ikut bernyanyi lagu tersebut. Juga dengan penghayatan yang dalam.

“Baru Latihan sekitar sebulan ini,” ucap sang pemetik gitar itu, menunjukkan alasan kenapa petikannya masih terasa kaku.

Pemuda itu sebut saja Damian-bukan nama sebenarnya. Usianya baru 17 tahun. Saat itu dia berada di rumah yang menjadi tempat rehabilitasi pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). Fasilitas tersebut milik Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Eklesia. Tempatnya di Lingkungan Cakarwesi, Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Damian adalah salah seorang residen di IPWL Eklesia Kediri. Ia termasuk yang menjalani rawat inap. Untuk menyembuhkan adiksi terhadap narkotika jenis sabu-sabu yang ia rasakan.

Remaja ini berada di tempat itu karena mengikuti vonis pengadilan anak di Kediri. Ia mendapatkan waktu 10 bulan untuk mengikuti rawat inap. Khususnya untuk menghilangkan pengaruh kecanduannya pada serbuk putih jahat itu.

Baca Juga :  Libur Tetap Lembur

Perkenalannya dengan dunia kriminal itu memang lebih lama dibandingkan ia belajar gitar. Perlu ada kedekatan antara Damian dengan yang memberikan akses ke barang haram tersebut. Kepada koran ini,  Ia mengaku sudah mengenal sabu-sabu sejak satu tahun terakhir. Tidak secara sengaja, namun karena ada “paksaan” dari kenalannya.

Semua berawal saat dirinya mulai mengenal dunia “drag race”. Mulai motor pemberian orang tuanya dipereteli. Lalu ikut menggeber motor dan terlibat kegiatan balapan liar.

“Tapi saya cuma nonton, tidak ikut balapan,” ucapnya sambil matanya menerawang, seakan melihat masa-masa itu.

Dia memang tidak mau menceritakan detailnya. Hanya saja, dia ingat saat itu juga ditawari sabu-sabu secara cuma-cuma. Hanya untuk menghirup, atau mencairkan serbuk yang mengandung metamfetamin itu.

Sekali…dua kali… tiga kali, dan seterusnya. Hingga akhirnya sudah tak terhingga dan Damian pun menjadi pecandu. Hampir setiap kali keluar untuk bermain bersama teman-teman dari luar desanya itu, ia diberi. Sudah seperti “kewajiban” ketika sedang dilanda kesusahan di umurnya yang masih belasan itu.

Baca Juga :  Penasihat Hukum Klaim Dika Alami Gangguan Jiwa

“Kalau dipikir-pikir, tidak enak. Rasanya di kepala pusing. Enak masak sayur sop di sini, Mas,” ujarnya sembari bergurau.

Puncaknya pada November 2021 lalu, dirinya ditangkap oleh satresnarkoba Polres Kediri Kota. Ia masih ingat, saat itu berada di rumahnya, yang berbeda dari wilayah hukum Polres Kediri Kota. “Katanya dulu saya ditangkap dari pengembangan kasus teman saya juga,” terangnya.

Kasus berlanjut hingga kejaksaan dan pengadilan. Melalui asesmen yang dilakukan, karena tergolong pecandu atau korban dan bukan pengedar, Damian divonis 10 bulan menjalani rehabilitasi.

Meninggalkan kebiasaan nyabu juga tak mudah. Meskipun di tempat rehabilitasi, rasa ingin mencoba selalu muncul. “Selama wajib lapor dulu, juga masih ada rasa pengen coba. Lama kelamaan, memang barang haram itu tidak bagus untuk tubuh saya,” ujarnya.

Efeknya adalah sesuatu yang tidak baik bagi tubuh. Mulai dari tidak doyan makan hingga sering merenung dan marah-marah. Semua pernah ia rasakan ketika kecanduan serbuk putih haram tersebut.

“Sekarang saya pengen sembuh. Pengen antar kakek lagi ke pasar hewan,” ujar remaja ini, mengakhiri cerita.






Reporter: Iqbal Syahroni

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Mulai Data Tanah Tol Agustus


Artikel Terbaru

/