22.4 C
Kediri
Saturday, August 20, 2022

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (9)

- Advertisement -

Selain sebagai sarana irigasi, keberadaan Kali Serinjing juga dinilai menjadi alat mitigasi aliran lahar Gunung Kelud. Menjaga daerah Kabupaten Kediri bagian utara yang dikenal sebagai daerah kaya peninggalan purbakala.

 

Pusat Pemerintahan Kerajaan Kediri atau Panjalu selama ini dikenal di daerah tengah Kabupaten Kediri. Yang dekat dengan Dahanapura atau Kediri Kota. Namun demikian wilayah timur dan utara Kabupaten Kediri juga merupakan kawasan penting kala itu. Cukup banyak peninggalan purbakala yang ditemukan di sana. Rata-rata dalam kondisi terpendam. Namun, di sisi utara Kali Serinjing benda purbakala yang terpendam tak sedalam di sisi selatan aliran sungai.

Di daerah Kecamatan Kepung dan Puncu misalnya, banyak ditemukan situs yang masih terpendam. Itu ada di selatan Kali Serinjing. Seperti Candi/Petirtaan Kepung yang ada di Jatimulyo, Candi Nglarangan di Desa Krenceng, juga Candi Dorok di Desa Manggis, Puncu. Hanya Candi Dorok-lah yang hingga kini masih bisa dilihat wujudnya. Sebab setelah dilakukan ekskavasi, candi yang ada di pekarangan warga itu tidak diurug kembali seperti dua candi lain yang pernah ditemukan.

Itu hanya sebagian situs yang ditemukan. Diperkirakan masih banyak peninggalan yang hingga kini belum diketahui. Seperti penemuan bukti-bukti peradaban kuno di daerah Bogorpradah dan Sukabumi, Desa Siman. Di luar dua kecamatan ini cukup banyak candi-candi lain yang juga terpendam. Semuanya ada di selatan Kali Serinjing.

- Advertisement -

Dari candi-candi tersebut yang paling terkenal adalah Situs Tondowongso di Desa Gayam dan Situs Adan-Adan. Keduanya ada di Kecamatan Gurah dan diidentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Kediri. “Rata-rata candi di Kediri terpendam lebih dari tiga meter dari permukaan tanah,” kata Tim Peneliti Puslit Arkenas Sukawati Susetyo.

Baca Juga :  Duka Keluarga M. Ridwan, Korban Kecelakaan Maut di Gurah

Dari candi-candi yang terpendam tersebut kebanyakan kondisinya sudah tidak utuh lagi. Hanya bagian kaki candi saja yang tersisa. Hal ini berbeda dengan candi yang ada di utara aliran Kali Serinjing. Seperti Candi Surowono dan Tegowangi. Meski terbilang baru dibangun pada era Kerajaan Majapahit, yang jelas kondisi dua candi ini bisa dikatakan cukup bagus. Tak ada bagian yang terpendam di dalam tanah.

Candi Surowono sebenarnya bernama Wisnubhawanapura, diperkirakan dibangun pada abad 14 untuk memuliakan Bhre Wengker. Seorang raja dari Kerajaan Wengker yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit kala itu. Sementara Candi Tegowangi dalam Pararaton, candi ini dijelaskan sebagai tempat Pendharmaan Bhre Matahun. Sedangkan dalam kitab Negarakertagama disebutkan bahwa Bhre Matahun meninggal tahun 1388 M. Maka diperkirakan candi ini dibuat pada tahun 1400 Masehi dimasa Majapahit.

Sebelumnya, Novi Bahrul Munib seorang penggiat budaya menyampaikan, hal yang menarik dari Kali Serinjing adalah tak seperti sungai pada umumnya di Kabupaten Kediri. Jika selama ini hulu semua sungai yang ada di timur Brantas adalah Gunung Kelud, tidak untuk Sungai Serinjing. Selama ini sungai yang menjadi sumber irigasi utama itu dikenal berasal dari sudetan Sungai Konto.

Baca Juga :  Hendak Dahului, Pemuda Asal Pesantren Terserempet Truk

“Jadi sungai ini benar-benar sudetan. Kalau kita lihat rupa bumi, Sungai Serinjing ini memutus sungai-sungai corah (sungai alami) yang berasal dari Gunung Kelud,” kata Novi Bahrul Munib.

Ia menyebut bahwa biasanya karakter sungai itu dari daerah atas ke bawah dan menyebar. Namun untuk Serinjing, jika dilihat dari atas, karakternya adalah memotong sungai-sungai yang secara normal dari atas Gunung Kelud. Untuk itu, lanjutnya, pembuatan Kali Serinjing selain sebagai sarana irigasi utama zaman dahulu, juga disinyalir sebagai pemutus aliran lahar jika Gunung Kelud meletus. Aliran lahar yang dimaksud tidak hanya membawa air, namun juga material Gunung Kelud berupa batu dan pasir yang bisa menimbun apa pun yang dilaluinya.

Kemungkinan besar proyek pembuatan sudetan tersebut juga untuk mengamankan wilayah-wilayah yang ada di utara Kali Serinjing. Sebagai contoh adalah di wilayah Pare dan sekitarnya. “Seperti Candi Tegowangi dan Candi Surowono yang tidak terpendam layaknya Candi Kepung dan Candi Dorok yang ada di selatan Serinjing,” tegasnya.

Candi Kepung sampai butuh ekskavasi sedalam 8 meter untuk mencapai dasarnya. Jadi sangat dalam sekali timbunan material Gunung Kelud kala itu. Juga banyak peninggalan lain yang ada di selatan Sungai Serinjing yang hilang dan terpendam. “Bisa jadi Serinjing ini dimanfaatkan sebagai pengaman,” tambahnya.

Memang dua candi yang dijelaskan tersebut tidak sepenuhnya bisa menjadi patokan. Namun yang jelas dua candi ini menjadi bukti pentingnya wilayah utara Kabupaten Kediri kala itu.

- Advertisement -

Selain sebagai sarana irigasi, keberadaan Kali Serinjing juga dinilai menjadi alat mitigasi aliran lahar Gunung Kelud. Menjaga daerah Kabupaten Kediri bagian utara yang dikenal sebagai daerah kaya peninggalan purbakala.

 

Pusat Pemerintahan Kerajaan Kediri atau Panjalu selama ini dikenal di daerah tengah Kabupaten Kediri. Yang dekat dengan Dahanapura atau Kediri Kota. Namun demikian wilayah timur dan utara Kabupaten Kediri juga merupakan kawasan penting kala itu. Cukup banyak peninggalan purbakala yang ditemukan di sana. Rata-rata dalam kondisi terpendam. Namun, di sisi utara Kali Serinjing benda purbakala yang terpendam tak sedalam di sisi selatan aliran sungai.

Di daerah Kecamatan Kepung dan Puncu misalnya, banyak ditemukan situs yang masih terpendam. Itu ada di selatan Kali Serinjing. Seperti Candi/Petirtaan Kepung yang ada di Jatimulyo, Candi Nglarangan di Desa Krenceng, juga Candi Dorok di Desa Manggis, Puncu. Hanya Candi Dorok-lah yang hingga kini masih bisa dilihat wujudnya. Sebab setelah dilakukan ekskavasi, candi yang ada di pekarangan warga itu tidak diurug kembali seperti dua candi lain yang pernah ditemukan.

Itu hanya sebagian situs yang ditemukan. Diperkirakan masih banyak peninggalan yang hingga kini belum diketahui. Seperti penemuan bukti-bukti peradaban kuno di daerah Bogorpradah dan Sukabumi, Desa Siman. Di luar dua kecamatan ini cukup banyak candi-candi lain yang juga terpendam. Semuanya ada di selatan Kali Serinjing.

Dari candi-candi tersebut yang paling terkenal adalah Situs Tondowongso di Desa Gayam dan Situs Adan-Adan. Keduanya ada di Kecamatan Gurah dan diidentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Kediri. “Rata-rata candi di Kediri terpendam lebih dari tiga meter dari permukaan tanah,” kata Tim Peneliti Puslit Arkenas Sukawati Susetyo.

Baca Juga :  Derita Arsyifa Balqis Nabiha, Bayi yang Terlahir Tanpa Bola Mata

Dari candi-candi yang terpendam tersebut kebanyakan kondisinya sudah tidak utuh lagi. Hanya bagian kaki candi saja yang tersisa. Hal ini berbeda dengan candi yang ada di utara aliran Kali Serinjing. Seperti Candi Surowono dan Tegowangi. Meski terbilang baru dibangun pada era Kerajaan Majapahit, yang jelas kondisi dua candi ini bisa dikatakan cukup bagus. Tak ada bagian yang terpendam di dalam tanah.

Candi Surowono sebenarnya bernama Wisnubhawanapura, diperkirakan dibangun pada abad 14 untuk memuliakan Bhre Wengker. Seorang raja dari Kerajaan Wengker yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit kala itu. Sementara Candi Tegowangi dalam Pararaton, candi ini dijelaskan sebagai tempat Pendharmaan Bhre Matahun. Sedangkan dalam kitab Negarakertagama disebutkan bahwa Bhre Matahun meninggal tahun 1388 M. Maka diperkirakan candi ini dibuat pada tahun 1400 Masehi dimasa Majapahit.

Sebelumnya, Novi Bahrul Munib seorang penggiat budaya menyampaikan, hal yang menarik dari Kali Serinjing adalah tak seperti sungai pada umumnya di Kabupaten Kediri. Jika selama ini hulu semua sungai yang ada di timur Brantas adalah Gunung Kelud, tidak untuk Sungai Serinjing. Selama ini sungai yang menjadi sumber irigasi utama itu dikenal berasal dari sudetan Sungai Konto.

Baca Juga :  Elegan, Terangi Ruangan dengan Lampu Kayu

“Jadi sungai ini benar-benar sudetan. Kalau kita lihat rupa bumi, Sungai Serinjing ini memutus sungai-sungai corah (sungai alami) yang berasal dari Gunung Kelud,” kata Novi Bahrul Munib.

Ia menyebut bahwa biasanya karakter sungai itu dari daerah atas ke bawah dan menyebar. Namun untuk Serinjing, jika dilihat dari atas, karakternya adalah memotong sungai-sungai yang secara normal dari atas Gunung Kelud. Untuk itu, lanjutnya, pembuatan Kali Serinjing selain sebagai sarana irigasi utama zaman dahulu, juga disinyalir sebagai pemutus aliran lahar jika Gunung Kelud meletus. Aliran lahar yang dimaksud tidak hanya membawa air, namun juga material Gunung Kelud berupa batu dan pasir yang bisa menimbun apa pun yang dilaluinya.

Kemungkinan besar proyek pembuatan sudetan tersebut juga untuk mengamankan wilayah-wilayah yang ada di utara Kali Serinjing. Sebagai contoh adalah di wilayah Pare dan sekitarnya. “Seperti Candi Tegowangi dan Candi Surowono yang tidak terpendam layaknya Candi Kepung dan Candi Dorok yang ada di selatan Serinjing,” tegasnya.

Candi Kepung sampai butuh ekskavasi sedalam 8 meter untuk mencapai dasarnya. Jadi sangat dalam sekali timbunan material Gunung Kelud kala itu. Juga banyak peninggalan lain yang ada di selatan Sungai Serinjing yang hilang dan terpendam. “Bisa jadi Serinjing ini dimanfaatkan sebagai pengaman,” tambahnya.

Memang dua candi yang dijelaskan tersebut tidak sepenuhnya bisa menjadi patokan. Namun yang jelas dua candi ini menjadi bukti pentingnya wilayah utara Kabupaten Kediri kala itu.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/