22.9 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Anang Akhirnya Punya Akta Kelahiran

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Serangkaian proses dilalui Anang Soetomo untuk mendapakan kejelasan identitasnya. Tidak menunggu lama, selang tiga hari kontrol kedua, remaja yang mengalami sexual ambiguity itu melakukan pengurusan akta kelahiran. Itu akan dipergunakan untuk persyaratan persidangan nantinya. 

Anang mengaku lega pascakontrol keduanya itu menunjukkan hasil yang bagus. Dia pun segara melakukan pengurusan dokumen lainnya untuk persyaratan persidangan. Salah satunya akta kelahiran. “Saya belum punya akta sejak dulu,” tutur pemuda 21 tahun ini. 

Di umur menuju dewasa, Anang belum mengantongi dokumen kelahirannya. Untuk menempuh pendidikan sampai jenjang SMP, dia menggunakan surat keterangan dari desa. 

Penyebabnya, Tutik, ibunya mencemaskan biaya mahal pengurusannya. Selain itu, keterbatasan pengetahuan pembuatan akta kelahiran dan jangkauan jarak menuju kantor pengurusan menjadi kendala. “Tidak punya sepeda motor juga,” terangnya. 

Baca Juga :  Ficky Supit, Petenis Meja Nasional Asal Kediri

Remaja asal Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, Semen itu pun memang mengalami keterbatan akomodasi. Rumah di lereng Gunung Wilis itu diakuinya jauh dari kantor dinas kependudukan dan pencatatan sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Kediri. 

- Advertisement -

Untuk diketahui, Anang Soetomo mengalami kelainan bawaan yang menyebabkan dirinya salah penentuan jenis kelamin saat dilahirkan 1999 lalu. Sebelumnya, dia sudah pernah menjalani operasi di RSUD Dr Soetomo Surabaya pada kurun waktu 2015-2016. Namun, kejelasan identitasnya harus terhenti selama empat tahun. 

Saat ini sudah mulai persiapan dokumen persidangan untuk bisa mengganti nama Anang Soetomo dan memiliki identitas legal sesuai nama itu.

Tutik mengatakan, selama ini anaknya itu belum mengantongi dokumen legal. Lantaran dia tidak memahami persyaratan dan prosedur pengurusannya. “Nggih wedi bayar mahal,” kata perempuan 56 tahun ini.

Baca Juga :  Kita Bisa Jadi Superhero

Tutik mengaku gembira dengan pengurusan tersebut. Sebab, hal itu bisa membantu persyaratan pengurusan identitasnya menjadi laki-laki. “Sampun lega. Saget ngurus surat-surat,” ucapnya. (c2/baz)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Serangkaian proses dilalui Anang Soetomo untuk mendapakan kejelasan identitasnya. Tidak menunggu lama, selang tiga hari kontrol kedua, remaja yang mengalami sexual ambiguity itu melakukan pengurusan akta kelahiran. Itu akan dipergunakan untuk persyaratan persidangan nantinya. 

Anang mengaku lega pascakontrol keduanya itu menunjukkan hasil yang bagus. Dia pun segara melakukan pengurusan dokumen lainnya untuk persyaratan persidangan. Salah satunya akta kelahiran. “Saya belum punya akta sejak dulu,” tutur pemuda 21 tahun ini. 

Di umur menuju dewasa, Anang belum mengantongi dokumen kelahirannya. Untuk menempuh pendidikan sampai jenjang SMP, dia menggunakan surat keterangan dari desa. 

Penyebabnya, Tutik, ibunya mencemaskan biaya mahal pengurusannya. Selain itu, keterbatasan pengetahuan pembuatan akta kelahiran dan jangkauan jarak menuju kantor pengurusan menjadi kendala. “Tidak punya sepeda motor juga,” terangnya. 

Baca Juga :  Kampung Lukis Desa Dawung, Penyaluran Kegelisahan Para Seniman

Remaja asal Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, Semen itu pun memang mengalami keterbatan akomodasi. Rumah di lereng Gunung Wilis itu diakuinya jauh dari kantor dinas kependudukan dan pencatatan sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Kediri. 

Untuk diketahui, Anang Soetomo mengalami kelainan bawaan yang menyebabkan dirinya salah penentuan jenis kelamin saat dilahirkan 1999 lalu. Sebelumnya, dia sudah pernah menjalani operasi di RSUD Dr Soetomo Surabaya pada kurun waktu 2015-2016. Namun, kejelasan identitasnya harus terhenti selama empat tahun. 

Saat ini sudah mulai persiapan dokumen persidangan untuk bisa mengganti nama Anang Soetomo dan memiliki identitas legal sesuai nama itu.

Tutik mengatakan, selama ini anaknya itu belum mengantongi dokumen legal. Lantaran dia tidak memahami persyaratan dan prosedur pengurusannya. “Nggih wedi bayar mahal,” kata perempuan 56 tahun ini.

Baca Juga :  Hormati Tarawih, Sembahyang di Pura dan Gereja Maju Sejam

Tutik mengaku gembira dengan pengurusan tersebut. Sebab, hal itu bisa membantu persyaratan pengurusan identitasnya menjadi laki-laki. “Sampun lega. Saget ngurus surat-surat,” ucapnya. (c2/baz)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/