26.8 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Gereja Sidorejo, Antara Orisinalitas dan Modernisasi

- Advertisement -

Ciri khas bangunan benua biru tergambar ketika menatap Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sidorejo di Desa Sidorejo, Kecamatan Pare. Terdapat landmark kincir angin khas negeri Belanda bersanding dengan kemegahan Gereja.

 

WAHYU ARI YULIANTO, JP Radar Kediri

 

Seperti di Eropa. Itulah kesan pertama ketika melewati jalan utama Desa Sidorejo. Apalagi saat berada di salah satu perempatan, tegak berdiri kincir anginbertuliskan I am Sidorejo. Bangunan yang masih satu kompleks dengan Gereja Sidorejo.

- Advertisement -

Kompleks bangunan terdiri dari gereja, kapanditan atau rumah pendeta, dan klinik kesehatan. Bangunan gereja menghadap ke selatan. Tempat ibadah yang dibangun pada zaman kolonial tersebut dibangun pada 26 Juli 1933. Angka tersebut tertulis di bagian depan gereja.

Bangunan tempat ibadah umat Kristen tersebut lebih tua dibanding dengan Desa Sidorejo itu sendiri. Desa Sidorejo baru berdiri pada 11 November 1936 dari yang semula bernama Kampung Parerejo Gerojogan.

Tempat ibadah untuk 4.628 warga Kristen di Desa Sidorejo itu masih tetap mempertahankan gaya bangunan seperti saat pertama kali dibangun. Sesaat sebelum memasuki pelataran gereja, akan disambut dengan pagar kembar nan kokoh yang dibangun bersamaan dengan gereja.

Di Pelataran Gereja terdapat papan nama bertuliskan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sidorejo. Dengan taman dan kolam kecil dengan ornamen tanaman dengan bentuk salib.

Baca Juga :  Bukan Urusan Bilal

Sesampainya di pelataran, sebelum memasuki bagian dalam gereja, pandangan akan langsung tertuju ke 12 pilar tinggi besar yang menopang bagian depan bangunan. Pilar yang masih asli seperti saat pertama dibangun. Terdapat beberapa kerusakan kecil akibat termakan usia.

Keaslian bangunan juga meliputi lantai dengan motif kotak-kotak, kombinasi merah dan krem di bagian luar. Ciri lain yang menandakan bangunan khas Belanda adalah hadirnya dua pintu tinggi dan lebar di kiri dan kanan. Begitupun dengan hadirnya delapan jendela dengan bukaan lebar yang terbagi masing-masing di sisi kanan dan kiri bangunan gereja.

Ketika sudah berada di dalam gereja, nampak barisan bangku panjang tertata rapi tempat jemaat beribadah. Lantai kotak-kotak warna merah kombinasi abu-abu tetap menghiasi dalam bangunan. Saat ini terdapat hiasan pohon Natal di pojok kiri, di sebelah mimbar pendeta memimpin peribadatan.

Renovasi yang relatif besar dilaksanakan ketika mengganti atap menjadi genting. Yang dimulai pada tanggal 2 Juli 1998 hingga 15 November 1998 dan diresmikan Pendeta Drijandi L. Sigilipoe, STh selaku sekretaris umum pelayan harian majelis agung (PHMA). Sesuai dengan prasasti yang berada di dekat pintu masuk kanan. Selain itu juga dilakukan perawatan rutin. “Perawatan hanya untuk pengecatan. Semua masih tetap asli seperti dulu,” ujar Rudi. Penambahan kecil dilakukan dengan memberikan pagar stainless steel di pagar depan dan pegangan tangga menuju teras gereja.

Baca Juga :  Suka dan Duka Sopir Kereta Kelinci di Kota Angin

Modernisasi bangunan gereja terdapat pada penambahan keramik di bagian depan. Serta di samping bangunan dipasang keramik separo tinggi gereja. Ada juga penambahan kanopi di sisi timur dan barat bangunan utama. “Kanopi ini baru ditambahkan. Karena semakin besarnya jemaat gereja,” ungkap Rudi. Meskipun terdapat perbaikan dan sentuhan modernitas tetap tidak menghilangkan kesan klasik dan ciri khas Belanda.

Tidak hanya bangunan gereja yang bergaya klasik. Bangunan kapanditan atau rumah dinas pendeta juga nampak gaya negeri kincir angin. Pintu tinggi besar serta jendela dengan bukaan lebar menjadi buktinya. “Bangunan ini masih asli seperti dulu,” terang Pendeta Dwi Cahyono.

Bangunan kapanditan dibangun di seberang jalan sebelah barat gereja. Berhadapan dengan klinik yang masih satu kompleks dengan bangunan tempat ibadah umat Kristen tersebut. (bersambung/dea)

 

- Advertisement -

Ciri khas bangunan benua biru tergambar ketika menatap Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sidorejo di Desa Sidorejo, Kecamatan Pare. Terdapat landmark kincir angin khas negeri Belanda bersanding dengan kemegahan Gereja.

 

WAHYU ARI YULIANTO, JP Radar Kediri

 

Seperti di Eropa. Itulah kesan pertama ketika melewati jalan utama Desa Sidorejo. Apalagi saat berada di salah satu perempatan, tegak berdiri kincir anginbertuliskan I am Sidorejo. Bangunan yang masih satu kompleks dengan Gereja Sidorejo.

Kompleks bangunan terdiri dari gereja, kapanditan atau rumah pendeta, dan klinik kesehatan. Bangunan gereja menghadap ke selatan. Tempat ibadah yang dibangun pada zaman kolonial tersebut dibangun pada 26 Juli 1933. Angka tersebut tertulis di bagian depan gereja.

Bangunan tempat ibadah umat Kristen tersebut lebih tua dibanding dengan Desa Sidorejo itu sendiri. Desa Sidorejo baru berdiri pada 11 November 1936 dari yang semula bernama Kampung Parerejo Gerojogan.

Tempat ibadah untuk 4.628 warga Kristen di Desa Sidorejo itu masih tetap mempertahankan gaya bangunan seperti saat pertama kali dibangun. Sesaat sebelum memasuki pelataran gereja, akan disambut dengan pagar kembar nan kokoh yang dibangun bersamaan dengan gereja.

Di Pelataran Gereja terdapat papan nama bertuliskan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sidorejo. Dengan taman dan kolam kecil dengan ornamen tanaman dengan bentuk salib.

Baca Juga :  Painem, Korban Rumah Ambruk Diterjang Angin Kencang di Sukomoro

Sesampainya di pelataran, sebelum memasuki bagian dalam gereja, pandangan akan langsung tertuju ke 12 pilar tinggi besar yang menopang bagian depan bangunan. Pilar yang masih asli seperti saat pertama dibangun. Terdapat beberapa kerusakan kecil akibat termakan usia.

Keaslian bangunan juga meliputi lantai dengan motif kotak-kotak, kombinasi merah dan krem di bagian luar. Ciri lain yang menandakan bangunan khas Belanda adalah hadirnya dua pintu tinggi dan lebar di kiri dan kanan. Begitupun dengan hadirnya delapan jendela dengan bukaan lebar yang terbagi masing-masing di sisi kanan dan kiri bangunan gereja.

Ketika sudah berada di dalam gereja, nampak barisan bangku panjang tertata rapi tempat jemaat beribadah. Lantai kotak-kotak warna merah kombinasi abu-abu tetap menghiasi dalam bangunan. Saat ini terdapat hiasan pohon Natal di pojok kiri, di sebelah mimbar pendeta memimpin peribadatan.

Renovasi yang relatif besar dilaksanakan ketika mengganti atap menjadi genting. Yang dimulai pada tanggal 2 Juli 1998 hingga 15 November 1998 dan diresmikan Pendeta Drijandi L. Sigilipoe, STh selaku sekretaris umum pelayan harian majelis agung (PHMA). Sesuai dengan prasasti yang berada di dekat pintu masuk kanan. Selain itu juga dilakukan perawatan rutin. “Perawatan hanya untuk pengecatan. Semua masih tetap asli seperti dulu,” ujar Rudi. Penambahan kecil dilakukan dengan memberikan pagar stainless steel di pagar depan dan pegangan tangga menuju teras gereja.

Baca Juga :  Kisah Dua Korban Laka Maut Kras

Modernisasi bangunan gereja terdapat pada penambahan keramik di bagian depan. Serta di samping bangunan dipasang keramik separo tinggi gereja. Ada juga penambahan kanopi di sisi timur dan barat bangunan utama. “Kanopi ini baru ditambahkan. Karena semakin besarnya jemaat gereja,” ungkap Rudi. Meskipun terdapat perbaikan dan sentuhan modernitas tetap tidak menghilangkan kesan klasik dan ciri khas Belanda.

Tidak hanya bangunan gereja yang bergaya klasik. Bangunan kapanditan atau rumah dinas pendeta juga nampak gaya negeri kincir angin. Pintu tinggi besar serta jendela dengan bukaan lebar menjadi buktinya. “Bangunan ini masih asli seperti dulu,” terang Pendeta Dwi Cahyono.

Bangunan kapanditan dibangun di seberang jalan sebelah barat gereja. Berhadapan dengan klinik yang masih satu kompleks dengan bangunan tempat ibadah umat Kristen tersebut. (bersambung/dea)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/