23.7 C
Kediri
Wednesday, August 17, 2022

Yusuf Tri Prasetyo, Guru Honorer SD yang Jadi Pelatih Angkat Berat

- Advertisement -

Menjadi pelatih angkat berat bukan cita-citanya. Apalagi mengabdi sebagai guru SD, tak tebersit di pikirannya. Namun kini dua profesi itu jadi pekerjaanya. Mencetak bibit atlet angkat berat hingga menyumbang gelar juara umum di Porprov Jatim VI.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri

 

Suasana SD Negeri Ngadirejo 3 siang itu tampak riuh. Puluhan siswa sekolah dasar di Jalan PK Bangsa, Kota Kediri tersebut berbondong keluar halaman. Beberapa bercanda. Ada juga yang berpamitan dengan gurunya.

- Advertisement -

Salah satu guru itu adalah Yusuf Tri Prasetyo Adi yang selama ini juga dikenal sebagai pelatih angkat berat di Kota Tahu. Terakhir, pria yang karib disapa Yusuf ini mengharumkan nama kotanya. Ia mengantarkan atlet cabor angkat berat menjadi jawara di ajang Porprov Jatim 2019.

Yusuf menggeluti angkat berat 15 tahun lalu. Saat itu usianya 16 tahun. Dia masih kelas 1 STM. Saat remaja Yusuf termasuk anak yang nakal. Bahkan ketika SMP, karena terpengaruh pergaulan, ia sempat mengonsumsi narkoba dan menjadi perokok berat.

“Karena lingkungan dan pergaulan bebas. Bahkan dulu sempat dikeluarkan dari sekolah,” akunya sembari mengenang masa lalu yang kelam itu.

Sejak kecil Yusuf tak tinggal bersama orang tuanya. Ayah dan ibunya merantau ke luar kota. Yusuf pun tinggal bersama budenya di Kota Kediri. Di tengah kenakalannya, ternyata takdir berkata lain. Yusuf meninggalkan kehidupan yang tak ada arah.

Baca Juga :  Direkrut Persik, Arthur Irawan Baru Bisa Dimainkan Desember

Itu sejak Eko Agus Koko, tetangganya, yang pelatih angkat besi Kota Kediri mengajaknya latihan olahraga yang membutuhkan nyali dan kekuatan tersebut. “Pikiran saya terbuka setelah diberi motivasi Mas Koko,” kenangnya.

Karena jauh dari orang tua, Yusuf mendapat motivasi dari Koko agar bisa membanggakan orang tuanya. “Gak mau to jadi orang sukses. Masak kayak gini terus,” ucap Yusuf menirukan kata-kata Koko yang hingga kini selalu diingatnya.

Dari ajakan menjadi atlet angkat besi itulah Yusuf rutin mengikuti latihan. Setiap sore selalu menunggu Koko pulang kerja dari satu perusahaan di Kota Kediri. Namun, jadi atlet angkat besi tak semulus yang dibayangkannya.

Sejumlah kejuaraan diikuti Yusuf. Salah satunya pada 2005 ajang kejuaraan nasional (kejurnas) di Semarang. Dari kejuaraan itulah Yusuf dilirik provinsi. Beberapa tahun berikutnya, ia mengikuti seleksi untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2011. Namun saat itu tidak bisa masuk 5 besar.

Kegagalan tersebut karena cara latihan yang kurang maksimal. Sebab angkat besi sangat membutuhkan dukungan materi. Biayanya tidak murah. Meski demikian kegagalan dijadikannya sebagai motivasi. “Setelah gagal terus saya pulang dan melatih. Itu terakhir jadi atlet. Sebenarnya nggak rela, tapi memang rezekinya menjadi pelatih,” paparnya.

Baca Juga :  Harus Mampu Peralat Teknologi Informasi

Seperti halnya Koko yang prihatin kondisi angkat besi di Kota Kediri. Yusuf pun demikian, sehingga pada 2012 angkat besi Kota Kediri mulai turun ke Kejurprov, puncaknya pada 2015 di Banyuwangi. Dari cabor angkat besi Kota Kediri berhasil menyumbang 11 emas, 19 perak dan 19 perunggu. Itu dari total 32 emas, 37 perak, 45 perunggu yang diperoleh Kota Kediri.

Termasuk hasil maksimal porprov tahun ini di Bojonegoro. Di samping angkat besi yang mendapat 15 emas, angkat berat pun ikut menyumbang 6 medali emas dan menjadi juara umum di cabor ini. Dari 22 atlet angkat berat dan angkat besi yang dibawa, semuanya dapat medali.

Dari kerja kerasnya selama ini, Yusuf telah memiliki usaha laundry di rumahnya. Dari usaha tersebut ia memiliki karyawan dari sekitar kediamannya.

Termasuk menjadi guru olahraga, meski berstatus honorer, Yusuf tetap bersyukur. Terlebih menjadi guru merupakan pengabdiannya. Sembari mencari bibit atlet sejak sekolah dasar. “Minimal mereka mengenal dahulu dan kalau minat kita ajak. Karena mencari bibit atlet angkat besi dan angkat berat itu sulit,” akunya.

- Advertisement -

Menjadi pelatih angkat berat bukan cita-citanya. Apalagi mengabdi sebagai guru SD, tak tebersit di pikirannya. Namun kini dua profesi itu jadi pekerjaanya. Mencetak bibit atlet angkat berat hingga menyumbang gelar juara umum di Porprov Jatim VI.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri

 

Suasana SD Negeri Ngadirejo 3 siang itu tampak riuh. Puluhan siswa sekolah dasar di Jalan PK Bangsa, Kota Kediri tersebut berbondong keluar halaman. Beberapa bercanda. Ada juga yang berpamitan dengan gurunya.

Salah satu guru itu adalah Yusuf Tri Prasetyo Adi yang selama ini juga dikenal sebagai pelatih angkat berat di Kota Tahu. Terakhir, pria yang karib disapa Yusuf ini mengharumkan nama kotanya. Ia mengantarkan atlet cabor angkat berat menjadi jawara di ajang Porprov Jatim 2019.

Yusuf menggeluti angkat berat 15 tahun lalu. Saat itu usianya 16 tahun. Dia masih kelas 1 STM. Saat remaja Yusuf termasuk anak yang nakal. Bahkan ketika SMP, karena terpengaruh pergaulan, ia sempat mengonsumsi narkoba dan menjadi perokok berat.

“Karena lingkungan dan pergaulan bebas. Bahkan dulu sempat dikeluarkan dari sekolah,” akunya sembari mengenang masa lalu yang kelam itu.

Sejak kecil Yusuf tak tinggal bersama orang tuanya. Ayah dan ibunya merantau ke luar kota. Yusuf pun tinggal bersama budenya di Kota Kediri. Di tengah kenakalannya, ternyata takdir berkata lain. Yusuf meninggalkan kehidupan yang tak ada arah.

Baca Juga :  Pedagang Pecel Jalan Dhoho usai Viral: Benarkah Sebungkus Rp 45 Ribu?

Itu sejak Eko Agus Koko, tetangganya, yang pelatih angkat besi Kota Kediri mengajaknya latihan olahraga yang membutuhkan nyali dan kekuatan tersebut. “Pikiran saya terbuka setelah diberi motivasi Mas Koko,” kenangnya.

Karena jauh dari orang tua, Yusuf mendapat motivasi dari Koko agar bisa membanggakan orang tuanya. “Gak mau to jadi orang sukses. Masak kayak gini terus,” ucap Yusuf menirukan kata-kata Koko yang hingga kini selalu diingatnya.

Dari ajakan menjadi atlet angkat besi itulah Yusuf rutin mengikuti latihan. Setiap sore selalu menunggu Koko pulang kerja dari satu perusahaan di Kota Kediri. Namun, jadi atlet angkat besi tak semulus yang dibayangkannya.

Sejumlah kejuaraan diikuti Yusuf. Salah satunya pada 2005 ajang kejuaraan nasional (kejurnas) di Semarang. Dari kejuaraan itulah Yusuf dilirik provinsi. Beberapa tahun berikutnya, ia mengikuti seleksi untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2011. Namun saat itu tidak bisa masuk 5 besar.

Kegagalan tersebut karena cara latihan yang kurang maksimal. Sebab angkat besi sangat membutuhkan dukungan materi. Biayanya tidak murah. Meski demikian kegagalan dijadikannya sebagai motivasi. “Setelah gagal terus saya pulang dan melatih. Itu terakhir jadi atlet. Sebenarnya nggak rela, tapi memang rezekinya menjadi pelatih,” paparnya.

Baca Juga :  Pelatih Persik Kediri Javier Roca Beberkan Alasan Pertahankan Mereka

Seperti halnya Koko yang prihatin kondisi angkat besi di Kota Kediri. Yusuf pun demikian, sehingga pada 2012 angkat besi Kota Kediri mulai turun ke Kejurprov, puncaknya pada 2015 di Banyuwangi. Dari cabor angkat besi Kota Kediri berhasil menyumbang 11 emas, 19 perak dan 19 perunggu. Itu dari total 32 emas, 37 perak, 45 perunggu yang diperoleh Kota Kediri.

Termasuk hasil maksimal porprov tahun ini di Bojonegoro. Di samping angkat besi yang mendapat 15 emas, angkat berat pun ikut menyumbang 6 medali emas dan menjadi juara umum di cabor ini. Dari 22 atlet angkat berat dan angkat besi yang dibawa, semuanya dapat medali.

Dari kerja kerasnya selama ini, Yusuf telah memiliki usaha laundry di rumahnya. Dari usaha tersebut ia memiliki karyawan dari sekitar kediamannya.

Termasuk menjadi guru olahraga, meski berstatus honorer, Yusuf tetap bersyukur. Terlebih menjadi guru merupakan pengabdiannya. Sembari mencari bibit atlet sejak sekolah dasar. “Minimal mereka mengenal dahulu dan kalau minat kita ajak. Karena mencari bibit atlet angkat besi dan angkat berat itu sulit,” akunya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/