26.9 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Sumber Air Tak Pernah Kering sejak Pemindahan

Pemindahan makam Mbah Mursyad terjadi sejak 1918. Menariknya, belum sekalipun sumber air di lokasi makam mengalami kekeringan. Meskipun, saat terjadi kemarau panjang.

Bila dihitung, pemindahan makam Mbah Mursyad dari wilayah yang masuk Kelurahan Mrican di Kota Kediri ke Dusun Setonolandean, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol sudah terjadi selama 104 tahun. Dihitung dari waktu pemindahan yang berlangsung pada 1918.

Dalam waktu yang selama itu, ada fenomena menarik yang terjadi pada kondisi kompleks makam tersebut. Lokasi kompleks makam Mbah Mursyad merupakan lahan yang subur. Airnya melimpah. Hal itu tak terlepas dari keberadaan beberapa sumber air di sekitar makam.

“Total ada lima sumber air,” terang Ketua Pengurus Makam Edi Prasetyo.

Menurut Edi, sumber-sumber air tersebut terus dijaga dan dirawat. Airnya untuk mencukupi berbagai kebutuhan di kompleks makam Mbah Mursyad. Termasuk untuk kebutuhan masjid, kamar mandi yang sering digunakan untuk peziarah, dan kebutuhan lainnya.

Baca Juga :  Kisah Achyar, Saksi Hidup Tragedi G30 S PKI di Desa Kanigoro, Kras

Masih berdasar keterangan sang ketua pengurus makam, lahan tempat Mbah Mursyad disemayamkan tersebut awalnya bukan lahan pekuburan. Melainkan tanah kosong milik warga. Untuk kepentingan pemindahan makam, kakek Edi-Karyosono-membeli tanah tersebut.

Saat dibeli, di tanah tersebut sudah ada sumber-sumber air tersebut. Yang menarik, tidak pernah sumber air tersebut keruh. Meskipun berlangsung aktivitas pembangunan makam.

Saat pemindahan, aktivitas pembangunan membutuhkan penggalian. Baik untuk membangun dudukan makam dan rumah joglo untuk pelindung.

Lelaki yang saat ini tinggal di Desa/Kecamatan Banyakan itu mengatakan bahwa semenjak pengurusan tempat tersebut dijadikan tempat wisata religi, penjagaan sumber air juga ditingkatkan. Karena hal tersebut juga merupakan “peninggalan”. Yang diyakini membuat tanah di sekitar menjadi subur.

“Salah satu sumber air sudah kami daftarkan ke balai konservasi air. Saat dilakukan pengecekan mutu dan kualitas air tersebut lebih bagus dari air minum kemasan,” ujar Edi.

Baca Juga :  Zakiyatus Shawa, Mahasiswi UINSA yang Meninggal Tersengat Listrik

Sumber tersebut berada di dekat pancuran untuk mengambil air wudu. Hingga saat ini, air tersebut juga masih diambil oleh orang-orang sekitar. Bahkan beberapa warga juga meyakini sumber air yang terus mengalir itu memiliki manfaat bisa ‘menyembuhkan’.

“Biasanya pas malam ganjil, peziarah banyak yang mengambil air dengan botol. Kami memastikan bahwa sumber tidak akan rusak,” papar Edi.

Empat sumber air lainnya letaknya tidak berjauhan. Kondisinya juga serupa, terus mengalirkan air meskipun di musim kemarau. Airnya dimanfaatkan untuk mandi para peziarah dan wudu di pendapa di sebelah utara.

Pengelolaan dan penjagaan sumber air itu dianggap sebagai penjagaan terhadap aset di makam Mbah Mursyad. Sehingga menjadi suatu hal yang dianggap sakral bagi para peziarah. Sama seperti tanah, dan juga benda di sekitar kompleks makam.(fud/bersambung)

 

- Advertisement -

Pemindahan makam Mbah Mursyad terjadi sejak 1918. Menariknya, belum sekalipun sumber air di lokasi makam mengalami kekeringan. Meskipun, saat terjadi kemarau panjang.

Bila dihitung, pemindahan makam Mbah Mursyad dari wilayah yang masuk Kelurahan Mrican di Kota Kediri ke Dusun Setonolandean, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol sudah terjadi selama 104 tahun. Dihitung dari waktu pemindahan yang berlangsung pada 1918.

Dalam waktu yang selama itu, ada fenomena menarik yang terjadi pada kondisi kompleks makam tersebut. Lokasi kompleks makam Mbah Mursyad merupakan lahan yang subur. Airnya melimpah. Hal itu tak terlepas dari keberadaan beberapa sumber air di sekitar makam.

“Total ada lima sumber air,” terang Ketua Pengurus Makam Edi Prasetyo.

Menurut Edi, sumber-sumber air tersebut terus dijaga dan dirawat. Airnya untuk mencukupi berbagai kebutuhan di kompleks makam Mbah Mursyad. Termasuk untuk kebutuhan masjid, kamar mandi yang sering digunakan untuk peziarah, dan kebutuhan lainnya.

Baca Juga :  Riyanto Tersangka Pembunuhan di Wates Terjerat Tiga Pasal

Masih berdasar keterangan sang ketua pengurus makam, lahan tempat Mbah Mursyad disemayamkan tersebut awalnya bukan lahan pekuburan. Melainkan tanah kosong milik warga. Untuk kepentingan pemindahan makam, kakek Edi-Karyosono-membeli tanah tersebut.

Saat dibeli, di tanah tersebut sudah ada sumber-sumber air tersebut. Yang menarik, tidak pernah sumber air tersebut keruh. Meskipun berlangsung aktivitas pembangunan makam.

Saat pemindahan, aktivitas pembangunan membutuhkan penggalian. Baik untuk membangun dudukan makam dan rumah joglo untuk pelindung.

Lelaki yang saat ini tinggal di Desa/Kecamatan Banyakan itu mengatakan bahwa semenjak pengurusan tempat tersebut dijadikan tempat wisata religi, penjagaan sumber air juga ditingkatkan. Karena hal tersebut juga merupakan “peninggalan”. Yang diyakini membuat tanah di sekitar menjadi subur.

“Salah satu sumber air sudah kami daftarkan ke balai konservasi air. Saat dilakukan pengecekan mutu dan kualitas air tersebut lebih bagus dari air minum kemasan,” ujar Edi.

Baca Juga :  Pemain Persik Kediri Mulai Mengkode Hengkang

Sumber tersebut berada di dekat pancuran untuk mengambil air wudu. Hingga saat ini, air tersebut juga masih diambil oleh orang-orang sekitar. Bahkan beberapa warga juga meyakini sumber air yang terus mengalir itu memiliki manfaat bisa ‘menyembuhkan’.

“Biasanya pas malam ganjil, peziarah banyak yang mengambil air dengan botol. Kami memastikan bahwa sumber tidak akan rusak,” papar Edi.

Empat sumber air lainnya letaknya tidak berjauhan. Kondisinya juga serupa, terus mengalirkan air meskipun di musim kemarau. Airnya dimanfaatkan untuk mandi para peziarah dan wudu di pendapa di sebelah utara.

Pengelolaan dan penjagaan sumber air itu dianggap sebagai penjagaan terhadap aset di makam Mbah Mursyad. Sehingga menjadi suatu hal yang dianggap sakral bagi para peziarah. Sama seperti tanah, dan juga benda di sekitar kompleks makam.(fud/bersambung)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/