31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Bisnis Keping CD Sumadi Kaset Bertahan di Era Revolusi Industri 4.0

Di tengah maraknya bisnis industri musik di media online, Toko Sumadi Kaset di Kota Kediri masih setia dengan kaset pita dan VCD. Padahal kini tidak banyak lagi yang menjalani bisnis tersebut. Bagaimana usahanya mampu bertahan.

 

SURYO DEWO RAHMADIANTO

 

Lantunan lagu dangdut itu terdengar menggebrak dari jalan raya. Perhatian sejumlah pengendara sempat tertuju ke arah sumber suara. Ya, di pinggir Jalan Kapten Tendean, Kota Kediri, tepatnya sekitar 100 meter utara perempatan Bence, tampak kios yang memutar lagu tersebut.

Tak hanya dangdut, irama musik rock, pop, hingga campursari pun sering diperdengarkan. Tak heran kios itu memang menjual kaset. Di etalasenya tampak terpampang kaset-kaset lawas dan baru. Semua tertata dengan rapi di toko.

Nama toko sesuai dengan pemiliknya, Toko Sumadi Kaset. Awalnya toko itu buka di Jalan Pattimura, Kota Kediri. Saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri, Sumadi tampak bersemangat. Pria asal Purwoasri ini mengaku, bisnisnya di era sekarang tidak mudah. “Apalagi kini ada youtube dan internet, orang-orang semakin mudah mendengarkan lagu,” ujarnya.

Baca Juga :  Diduga Korsleting Mobil, Garasi Rumah Terbakar

Toko legendaris yang pernah berjaya di tahun 1980 hingga 1990-an itu dipertahankan Sumadi hingga sekarang. “Sebab tidak ada modal, jadi tetap bertahan (jualan kaset, Red),” imbuhnya.

Di kiosnya terdapat empat karyawan. Mereka terlihat merapikan kaset dan melayani pembeli. “Dulu ada 12 orang, sekarang tinggal empat,” terang Sumadi. Selain karyawannya, Suprihaji, 25, anak Sumadi, pun turut bekerja di sana.

Ketika disinggung alasan masih jual kaset, Suprihaji punya pendapat berbeda dengan ayahnya. Menurutnya, masih ada pasar kaset untuk dipenuhi. Umur peminatnya sekitar 35 hingga 70 tahun. Bahkan peminatnya hingga luar negeri. “Ada yang pesen itu dari Hongkong,” ungkapnya.

Suprihaji membantu berjualan di salah satu e-commerce. “Saya juga ada di Bukalapak,” ungkap putra sulung Sumadi. Lewat situs online itu, pembelinya dari Balikpapan dan Sumatera. Aji -panggilan Suprihaji- menggunakan nama akun Toko Sumadi Kaset. Banyak koleksinya. Mulai genre dangdut, rock, bahkan ceramah ustad. Ada lebih dari seribu stok barang.

Baca Juga :  Cerita Winarsih, Ibu yang Jadi Korban Perampokan di Surowono

Toko Sumadi Kaset dapat menjual puluhan keping per hari. “Biasanya sekitar 30 hingga 50 keping tiap hari,” tambahnya. Meski tidak selaris dulu, namun kaset di tokonya masih laku.

Aji memiliki strategi dan ide agar dapat bersaing dengan situs online atau youtube. Ia beranggapan perlunya update lagu-lagu yang lagi booming. Sehingga pembeli dapat menikmati lagu-lagu terbaru. Meski begitu, stok lawas tetap tersimpan dengan rapi di rak-rak.

Usaha Aji tidaklah sia-sia. Banyak kolektor yang tertarik. Mereka dari beberapa kota di Jawa. Mulai Malang, Nganjuk, Blitar, bahkan Jakarta. Guna mempertahankan bisnis ini dan memenuhi peminat, Sumadi Kaset membeli grosir 300 hingga 500 kaset per hari. Cara ini juga menjadi langkah untuk mengimbangi youtube. Yang secara tidak langsung menyebabkan banyak penjual kaset pita dan VCD gulung tikar.

Selain youtube, produser rekaman pun secara tidak langsung ikut berpengaruh. “Harapannya produser tidak upload di youtube,” tegasnya.

- Advertisement -

Di tengah maraknya bisnis industri musik di media online, Toko Sumadi Kaset di Kota Kediri masih setia dengan kaset pita dan VCD. Padahal kini tidak banyak lagi yang menjalani bisnis tersebut. Bagaimana usahanya mampu bertahan.

 

SURYO DEWO RAHMADIANTO

 

Lantunan lagu dangdut itu terdengar menggebrak dari jalan raya. Perhatian sejumlah pengendara sempat tertuju ke arah sumber suara. Ya, di pinggir Jalan Kapten Tendean, Kota Kediri, tepatnya sekitar 100 meter utara perempatan Bence, tampak kios yang memutar lagu tersebut.

Tak hanya dangdut, irama musik rock, pop, hingga campursari pun sering diperdengarkan. Tak heran kios itu memang menjual kaset. Di etalasenya tampak terpampang kaset-kaset lawas dan baru. Semua tertata dengan rapi di toko.

Nama toko sesuai dengan pemiliknya, Toko Sumadi Kaset. Awalnya toko itu buka di Jalan Pattimura, Kota Kediri. Saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri, Sumadi tampak bersemangat. Pria asal Purwoasri ini mengaku, bisnisnya di era sekarang tidak mudah. “Apalagi kini ada youtube dan internet, orang-orang semakin mudah mendengarkan lagu,” ujarnya.

Baca Juga :  Berawal dari Wiraswara yang Mengasingkan Diri di Kediri

Toko legendaris yang pernah berjaya di tahun 1980 hingga 1990-an itu dipertahankan Sumadi hingga sekarang. “Sebab tidak ada modal, jadi tetap bertahan (jualan kaset, Red),” imbuhnya.

Di kiosnya terdapat empat karyawan. Mereka terlihat merapikan kaset dan melayani pembeli. “Dulu ada 12 orang, sekarang tinggal empat,” terang Sumadi. Selain karyawannya, Suprihaji, 25, anak Sumadi, pun turut bekerja di sana.

Ketika disinggung alasan masih jual kaset, Suprihaji punya pendapat berbeda dengan ayahnya. Menurutnya, masih ada pasar kaset untuk dipenuhi. Umur peminatnya sekitar 35 hingga 70 tahun. Bahkan peminatnya hingga luar negeri. “Ada yang pesen itu dari Hongkong,” ungkapnya.

Suprihaji membantu berjualan di salah satu e-commerce. “Saya juga ada di Bukalapak,” ungkap putra sulung Sumadi. Lewat situs online itu, pembelinya dari Balikpapan dan Sumatera. Aji -panggilan Suprihaji- menggunakan nama akun Toko Sumadi Kaset. Banyak koleksinya. Mulai genre dangdut, rock, bahkan ceramah ustad. Ada lebih dari seribu stok barang.

Baca Juga :  Minta Keluarga Berlindung, Sulaiman Justru Jadi Korban Tewas

Toko Sumadi Kaset dapat menjual puluhan keping per hari. “Biasanya sekitar 30 hingga 50 keping tiap hari,” tambahnya. Meski tidak selaris dulu, namun kaset di tokonya masih laku.

Aji memiliki strategi dan ide agar dapat bersaing dengan situs online atau youtube. Ia beranggapan perlunya update lagu-lagu yang lagi booming. Sehingga pembeli dapat menikmati lagu-lagu terbaru. Meski begitu, stok lawas tetap tersimpan dengan rapi di rak-rak.

Usaha Aji tidaklah sia-sia. Banyak kolektor yang tertarik. Mereka dari beberapa kota di Jawa. Mulai Malang, Nganjuk, Blitar, bahkan Jakarta. Guna mempertahankan bisnis ini dan memenuhi peminat, Sumadi Kaset membeli grosir 300 hingga 500 kaset per hari. Cara ini juga menjadi langkah untuk mengimbangi youtube. Yang secara tidak langsung menyebabkan banyak penjual kaset pita dan VCD gulung tikar.

Selain youtube, produser rekaman pun secara tidak langsung ikut berpengaruh. “Harapannya produser tidak upload di youtube,” tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/