23.6 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Kisah Slamet yang Berjuang Melawan Gangguan Saraf

- Advertisement -

Kehidupan Slamet berantakan setelah mengidap gangguan penyakit saraf. Tak hanya kehilangan harta benda, istri dan anak semata wayangnya pun meninggalkannya. Kini dia berjuang supaya sembuh dan bisa bekerja lagi.

REKIAN, TANJUNGANOM, JP Radar Nganjuk 

Dua lapis kasur kapuk tanpa ranjang menjadi tempat Slamet sehari-hari merebahkan badan. Pria 47 tahun asal Dusun Ketangi, Desa Kampungbaru, Kecamatan Tanjunganom ini sudah belasan tahun menghabiskan waktunya di atas kasur yang sudah lusuh itu.

Setiap hari dia hanya ditemani radio mungil berwarna hitam kombinasi merah yang diletakkan tepat di samping bantal. Radio itu menyender ke tembok ruang tengah rumahnya. “Cuma ini yang bisa dikerjakan (mendengar radio, Red),” katanya dalam bahasa Jawa ketika ditemui wartawan koran ini, Senin (25/1).

- Advertisement -

Selain kasur, di ruang tengah rumah hanya berisi meja, kursi, dan galon air minum. Khas rumah zaman dulu, empat tiang penyangga di tengah ruangan masih tampak kokoh. Bekas tetasan air, menandakan tepat di tengah ruang itu kerap bocor saat hujan lebat.

“Kalau di tempat tidur saya ini aman,” ucapnya. Sejak sakit, laki-laki yang badannya masih cukup berotot ini terpaksa menghentikan aktivitasnya ke sawah. Buruh tani ini mengidap kelainan saraf di leher bagian belakang. Itu sekitar 12 tahun silam.

Waktu itu, Slamet mengangkat jerami untuk pakan ternak. Karena beban terlalu berat, dia salah meletakkan jerami hingga sarafnya terganggu. “Awalnya kecetit (saraf yang terjepit, Red),” ucapnya.

Baca Juga :  Tristan Cahyo Rizqi Ramadhan, Atlet Sepatu Roda Potensial dari Kediri

Karena kejadian seperti itu dianggap lumrah, Slamet membawanya ke tukang urut. Namun, tak kunjung sembuh. Bapak satu anak ini lantas membawanya ke rumah sakit. Hasilnya nihil. Saraf yang mengganggu di lehernya tak sembuh.

Sejak itu, dia putus asa. Bahwa penyakitnya sudah tidak bisa diobati. Saat kumat, kepalanya terus bergerak tidak bisa dihentikan. Bahkan, Slamet juga kesulitan tidur. Sakitnya kerap kambuh waktu malam. Ini membuatnya tidak bisa tidur.

Karena kondisi ekonomi kian terpuruk, Slamet yang tidak lagi bisa bekerja harus kehilangan istrinya, Siti, serta buah hatinya. “Saya sudah cerai, anak saya satu-satunya ikut ibunya (di Prambon, Red),” ucap Slamet. Ujian yang dialami Slamet terus berdatangan.

Setelah ditinggal istri dan anaknya, Gangguan sarafnya tidak kunjung mereda. Sejak lima tahun terakhir, gangguan sarafnya semakin menjadi. Bukan saja bagian kepala, sekarang sudah menjalar ke bagian punggungnya.

Anak keempat dari lima bersaudara itu berusaha melawan gerak tubuhnya. Giginya seperti orang yang geram. Kepalanya terus bergerak. Dia lantas membaringkan badannya lalu mengangkat kakinya sambil memegang ujung jempol.

Saat kambuh, kakinya sering keram. Lebih parah lagi, sekujur tubuhnya kerap mengalami kejang-kejang. “Waktu kambuh tidak sakit,” akunya. Hanya saja dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.

Untuk menghentikan itu, Slamet terpaksa mengonsumsi obat tidur agar bisa rileks. Dia baru bisa tidur kalau sudah minum obat. Beruntung pihak desa serta tetangganya memliki rasa kepedulian yang tinggi. Slamet yang tidak bisa menafkahi dirinya sendiri sekarang dibantu desa dan tetangganya.

Baca Juga :  Ringkus Pelajar Pencuri Besi Pagar Tol

Desa telah memasukkannya ke dalam data warga tidak mampu sehingga kerap mendapat bantuan beras. “Saya hanya masak nasi,” ujarnya. Sedangkan lauk pauknya dari uluran tangan tetangganya. Warga di sekitar tempat tinggalnya bergantian membantu. Apalagi Slamet kini hidup sendiri di rumah berukuran sekitar 4 x 6 meter bercat putih.

Sebenarnya, Slamet masih memiliki kakak dan adik. Hanya saja, mereka kini tinggal berjauhan. Ada yang menetap di Magetan, Kediri, hingga Malang. Karena sudah berumah tangga mereka jarang pulang. Dia mengaku, masih ada saudaranya yang kirim uang untuk memenuhi kebutuhannya.

Merasa sudah merepotkan banyak orang, Slamet kini bertekad untuk sembuh. Kalau ada rumah sakit atau dokter yang bisa menyembuhkan penyakitnya, dia bersedia untuk berobat. Kepada koran ini, pria ini mengaku ingin kembali bekerja agar bisa menghidupi dirinya sendiri.

Meski kerap kejang-kejang, Slamet masih bisa berjalan. Bahkan untuk memasak nasi dan menuangkan air minum dia lakukan secara mandiri. Karena di rumahnya tidak ada toilet, setiap buang air besar ke rumah tetangganya. Yuliana, 32, tetangganya, prithatin dengan kondisi Slamet.

Tidak hanya dikenal sebagai baik, Slamet juga adalah tipe orang pekerja keras. Sayang sakitnya sampai kini belum terobati. Pihak desa hanya bisa membantu perawatannya lewat bidan desa. Jika sakitnya kambuh dan parah, ia diberi obat tidur agar bisa tenang. “Sejak lima tahun terakhir sakitnya semakin parah,” ujar ibu dua anak itu.

- Advertisement -

Kehidupan Slamet berantakan setelah mengidap gangguan penyakit saraf. Tak hanya kehilangan harta benda, istri dan anak semata wayangnya pun meninggalkannya. Kini dia berjuang supaya sembuh dan bisa bekerja lagi.

REKIAN, TANJUNGANOM, JP Radar Nganjuk 

Dua lapis kasur kapuk tanpa ranjang menjadi tempat Slamet sehari-hari merebahkan badan. Pria 47 tahun asal Dusun Ketangi, Desa Kampungbaru, Kecamatan Tanjunganom ini sudah belasan tahun menghabiskan waktunya di atas kasur yang sudah lusuh itu.

Setiap hari dia hanya ditemani radio mungil berwarna hitam kombinasi merah yang diletakkan tepat di samping bantal. Radio itu menyender ke tembok ruang tengah rumahnya. “Cuma ini yang bisa dikerjakan (mendengar radio, Red),” katanya dalam bahasa Jawa ketika ditemui wartawan koran ini, Senin (25/1).

Selain kasur, di ruang tengah rumah hanya berisi meja, kursi, dan galon air minum. Khas rumah zaman dulu, empat tiang penyangga di tengah ruangan masih tampak kokoh. Bekas tetasan air, menandakan tepat di tengah ruang itu kerap bocor saat hujan lebat.

“Kalau di tempat tidur saya ini aman,” ucapnya. Sejak sakit, laki-laki yang badannya masih cukup berotot ini terpaksa menghentikan aktivitasnya ke sawah. Buruh tani ini mengidap kelainan saraf di leher bagian belakang. Itu sekitar 12 tahun silam.

Waktu itu, Slamet mengangkat jerami untuk pakan ternak. Karena beban terlalu berat, dia salah meletakkan jerami hingga sarafnya terganggu. “Awalnya kecetit (saraf yang terjepit, Red),” ucapnya.

Baca Juga :  Hari Ini Ali Mahfud Jadi Ketua KONI di Pendapa Nganjuk

Karena kejadian seperti itu dianggap lumrah, Slamet membawanya ke tukang urut. Namun, tak kunjung sembuh. Bapak satu anak ini lantas membawanya ke rumah sakit. Hasilnya nihil. Saraf yang mengganggu di lehernya tak sembuh.

Sejak itu, dia putus asa. Bahwa penyakitnya sudah tidak bisa diobati. Saat kumat, kepalanya terus bergerak tidak bisa dihentikan. Bahkan, Slamet juga kesulitan tidur. Sakitnya kerap kambuh waktu malam. Ini membuatnya tidak bisa tidur.

Karena kondisi ekonomi kian terpuruk, Slamet yang tidak lagi bisa bekerja harus kehilangan istrinya, Siti, serta buah hatinya. “Saya sudah cerai, anak saya satu-satunya ikut ibunya (di Prambon, Red),” ucap Slamet. Ujian yang dialami Slamet terus berdatangan.

Setelah ditinggal istri dan anaknya, Gangguan sarafnya tidak kunjung mereda. Sejak lima tahun terakhir, gangguan sarafnya semakin menjadi. Bukan saja bagian kepala, sekarang sudah menjalar ke bagian punggungnya.

Anak keempat dari lima bersaudara itu berusaha melawan gerak tubuhnya. Giginya seperti orang yang geram. Kepalanya terus bergerak. Dia lantas membaringkan badannya lalu mengangkat kakinya sambil memegang ujung jempol.

Saat kambuh, kakinya sering keram. Lebih parah lagi, sekujur tubuhnya kerap mengalami kejang-kejang. “Waktu kambuh tidak sakit,” akunya. Hanya saja dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.

Untuk menghentikan itu, Slamet terpaksa mengonsumsi obat tidur agar bisa rileks. Dia baru bisa tidur kalau sudah minum obat. Beruntung pihak desa serta tetangganya memliki rasa kepedulian yang tinggi. Slamet yang tidak bisa menafkahi dirinya sendiri sekarang dibantu desa dan tetangganya.

Baca Juga :  Ringkus Pelajar Pencuri Besi Pagar Tol

Desa telah memasukkannya ke dalam data warga tidak mampu sehingga kerap mendapat bantuan beras. “Saya hanya masak nasi,” ujarnya. Sedangkan lauk pauknya dari uluran tangan tetangganya. Warga di sekitar tempat tinggalnya bergantian membantu. Apalagi Slamet kini hidup sendiri di rumah berukuran sekitar 4 x 6 meter bercat putih.

Sebenarnya, Slamet masih memiliki kakak dan adik. Hanya saja, mereka kini tinggal berjauhan. Ada yang menetap di Magetan, Kediri, hingga Malang. Karena sudah berumah tangga mereka jarang pulang. Dia mengaku, masih ada saudaranya yang kirim uang untuk memenuhi kebutuhannya.

Merasa sudah merepotkan banyak orang, Slamet kini bertekad untuk sembuh. Kalau ada rumah sakit atau dokter yang bisa menyembuhkan penyakitnya, dia bersedia untuk berobat. Kepada koran ini, pria ini mengaku ingin kembali bekerja agar bisa menghidupi dirinya sendiri.

Meski kerap kejang-kejang, Slamet masih bisa berjalan. Bahkan untuk memasak nasi dan menuangkan air minum dia lakukan secara mandiri. Karena di rumahnya tidak ada toilet, setiap buang air besar ke rumah tetangganya. Yuliana, 32, tetangganya, prithatin dengan kondisi Slamet.

Tidak hanya dikenal sebagai baik, Slamet juga adalah tipe orang pekerja keras. Sayang sakitnya sampai kini belum terobati. Pihak desa hanya bisa membantu perawatannya lewat bidan desa. Jika sakitnya kambuh dan parah, ia diberi obat tidur agar bisa tenang. “Sejak lima tahun terakhir sakitnya semakin parah,” ujar ibu dua anak itu.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/