23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Menelusuri Jejak Satwa Lindung yang Habitatnya Bakal Jadi Bandara (6)

Ular menjadi reptil dengan populasi terbanyak yang hidup di hutan lereng Wilis. Habitatnya di perbukitan yang kini telah rata. Salah satu yang khas adalah ular sanca kembang.

 

Bagi penduduk di tiga kecamatan yang ada di lereng Wilis-Banyakan, Grogol, dan Tarokan-sudah tak asing dengan hewan melata yang satu ini. Terutama yang tinggal di pinggir hutan. Tubuhnya yang besar dan panjang membuatnya mudah dikenali. Belum lagi kulitnya yang bermotif dengan warna yang bermacam-macam.

Dalam taksonominya, spesies hewan ini disebut dengan malayophyton reticulus. Biasa juga disebut sebagai ular sanca batik. Sedangkan bagi penduduk di sekitar hutan Lereng Wilis, menyebutnya dengan ular sanca kembang.

Bagi para penduduk ini, mereka sangat hapal dengan ular ini karena sering ‘berinteraksi’. Tak jarang ular-ular tersebut masuk ke permukiman. Mereka memakan ternak warga. Ulah sang ular yang seperti itu diperkirakan karena mereka kehabisan makanan di habitatnya.

Baca Juga :  Aris Setiawan, dari Pemanjat Tebing ke Spesialis Rope Acces

Seperti Soyibah misalnya, dia tak bisa melupakan peristiwa yang terjadi pada 2018 silam. Warga Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan ini masih terbayang ketika rumanya dimasuki ular piton. Yang bikin dia juga takut, panjang ular tersebut mencapai lima meter!

“Saya langsung menghubungi nomor darurat BPBD (badan penanggulangan bencana daerah, Red) waktu itu,” kenang wanita 49 tahun ini.

Wajar bila Soyibah meminta bantuan. Dia tentu tak mampu mengusir hewan itu dari rumahnya.

Saat itu dia hendak buang air kecil. Kamar mandi rumahnya ada di bagian belakang. Ketika berjalan dia mendengar bunyi mendesis di dapur yang dalam keadaan gelap. Ketika lampu dinyalakan betapa kagetnya dia karena ada ular besar tak jauh dari tempatnya berdiri.

Untuk menangkap dan membawa ular berwarna cokelat itu relatif lama. Hampir 25 menit. Setelah itu dibawa oleh anggota BPBD.

Baca Juga :  Tes Wawancara Seleksi Terbuka JPTP di Kediri Molor 1 Jam

Soal habitat reptil di lahan yang digunakan untuk bandara diamini oleh Kepala Resort Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam  (BBKSDA) Wilayah I Kediri David Fhatur Rohman. Kontur tanah yang berbukit merupakan tempat kesukaan ular. Apalagi pihaknya sering mendapat laporan adanya ular sanca. Juga sering menerima tangkapan dari penduduk.

Sanca kembang merupakan salah satu ular dengan ukuran tubuh yang sangat panjang. Usianya juga bisa lama. “Ular sanca kembang dapat berusia hingga 25 tahun,” tuturnya.

Persebarannya di hutan-hutan Asia Tenggara. Termasuk di hutan pulau Jawa. Ular ini bisa hidup di hutan, padang rumput, semak belukar, dan perkebunan. Ular sanca bergantung pada ketersediaan air. Karena itu saat kemarau mereka sering keluar sarang, mencari sumber air. Itulah yang membuat sanca ini sering masuk ke permukiman, sungai, atau rawa. (ica/fud)

- Advertisement -

Ular menjadi reptil dengan populasi terbanyak yang hidup di hutan lereng Wilis. Habitatnya di perbukitan yang kini telah rata. Salah satu yang khas adalah ular sanca kembang.

 

Bagi penduduk di tiga kecamatan yang ada di lereng Wilis-Banyakan, Grogol, dan Tarokan-sudah tak asing dengan hewan melata yang satu ini. Terutama yang tinggal di pinggir hutan. Tubuhnya yang besar dan panjang membuatnya mudah dikenali. Belum lagi kulitnya yang bermotif dengan warna yang bermacam-macam.

Dalam taksonominya, spesies hewan ini disebut dengan malayophyton reticulus. Biasa juga disebut sebagai ular sanca batik. Sedangkan bagi penduduk di sekitar hutan Lereng Wilis, menyebutnya dengan ular sanca kembang.

Bagi para penduduk ini, mereka sangat hapal dengan ular ini karena sering ‘berinteraksi’. Tak jarang ular-ular tersebut masuk ke permukiman. Mereka memakan ternak warga. Ulah sang ular yang seperti itu diperkirakan karena mereka kehabisan makanan di habitatnya.

Baca Juga :  Tes Wawancara Seleksi Terbuka JPTP di Kediri Molor 1 Jam

Seperti Soyibah misalnya, dia tak bisa melupakan peristiwa yang terjadi pada 2018 silam. Warga Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan ini masih terbayang ketika rumanya dimasuki ular piton. Yang bikin dia juga takut, panjang ular tersebut mencapai lima meter!

“Saya langsung menghubungi nomor darurat BPBD (badan penanggulangan bencana daerah, Red) waktu itu,” kenang wanita 49 tahun ini.

Wajar bila Soyibah meminta bantuan. Dia tentu tak mampu mengusir hewan itu dari rumahnya.

Saat itu dia hendak buang air kecil. Kamar mandi rumahnya ada di bagian belakang. Ketika berjalan dia mendengar bunyi mendesis di dapur yang dalam keadaan gelap. Ketika lampu dinyalakan betapa kagetnya dia karena ada ular besar tak jauh dari tempatnya berdiri.

Untuk menangkap dan membawa ular berwarna cokelat itu relatif lama. Hampir 25 menit. Setelah itu dibawa oleh anggota BPBD.

Baca Juga :  Aris Setiawan, dari Pemanjat Tebing ke Spesialis Rope Acces

Soal habitat reptil di lahan yang digunakan untuk bandara diamini oleh Kepala Resort Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam  (BBKSDA) Wilayah I Kediri David Fhatur Rohman. Kontur tanah yang berbukit merupakan tempat kesukaan ular. Apalagi pihaknya sering mendapat laporan adanya ular sanca. Juga sering menerima tangkapan dari penduduk.

Sanca kembang merupakan salah satu ular dengan ukuran tubuh yang sangat panjang. Usianya juga bisa lama. “Ular sanca kembang dapat berusia hingga 25 tahun,” tuturnya.

Persebarannya di hutan-hutan Asia Tenggara. Termasuk di hutan pulau Jawa. Ular ini bisa hidup di hutan, padang rumput, semak belukar, dan perkebunan. Ular sanca bergantung pada ketersediaan air. Karena itu saat kemarau mereka sering keluar sarang, mencari sumber air. Itulah yang membuat sanca ini sering masuk ke permukiman, sungai, atau rawa. (ica/fud)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/