30.1 C
Kediri
Monday, August 8, 2022

Pertukaran Siswa MTsN 8 Kediri ke Saengtham Wittaya Mulniti, Thailand

Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 8 Kediri memiliki kesempatan berharga belajar di Thailand. Tak sekadar belajar kebudayaan Thailand, namun juga membawa misi memperkenalkan Islam Nusantara.

 

 

DWIYAN SETYA NUGRAHA JP Radar Kediri Kabupaten

 

“Senang bisa ke Thailand, banyak pelajaran yang bisa saya pelajari disana,” ungkap Hafidz Putra Pribadi. Hafidz adalah satu dari 12 siswa MTsN 8 Kediri yang berangkat ke Thailand 27 Agustus-16 September lalu.

Mereka terdiri dari 9 siswa dari kelas 7, dan 3 siswa dari kelas 8. Mereka patut bangga, sebab berhasil melalui seleksi dari para siswa yang dilakukan pihak sekolah.

Setelah itu, barulah dilakukan seleksi lanjutan dengan sistem gugur. Mulai dari tes tulis, tes wawancara, dan tes bahasa baca tulis Alquran (BTQ). “Alhamdulillah, saya dapat mewakili almamater untuk merasakan studi di Thailand,” terangnya.

Hampir sebulan, para siswa ini belajar tentang kurikulum dan kebudayaan negeri gajah putih di Saengtham Wittaya Mulniti, Songkhla, Thailand. “Kami jadi lebih tahu tentang perkembangan keislaman di Thailand,”  ungkapnya kepada koran ini.

Diakui Hafidz, beberapa kurikulum pendidikan keagamaan yang berbasis Islam di Thailand mendapat porsi cukup banyak. Meski minoritas, menurutnya perhatian kepada ilmu agama sangat besar.

Baca Juga :  Pulang Kampung, Rektor Unmuh Malang Mengajar di MTsN 4 Kediri

Perbedaan ini sangat terasa dari proses pembelajaran jika dibandingkan di Indonesia. “Jadi di sana tiap hari ada mata pelajaran keagamaan Islam,” terangnya.  

Di ruangan yang berukuran 6 x 8 meter ini, 12 siswa seolah sepakat tentang kemajuan kurikulum pembelajaran keagamaan yang mereka rasakan selama di Thailand. Bahkan, selama menjalani pertukaran pelajar, 12 siswa ini juga tampak tidak tanggung bersosialisasi dengan masyarakat lokal Songkhla.

Yang menarik, masih kata Hafidz, masyarakat Thailand khususnya Songkhla sangat menjunjung teguh dan mempertahankan kearifan lokal berupa Nasyid. “Di sana (Thailand) musik Nasyid memang sangat populer sebagai syiar keislaman,” ujarnya.

Selama di Thailand, para siswa ini ditemani oleh Kepala MTsN 8 Kediri Fikrotul Azizah, Waka Kurikulum Badik Susanto,  Humas MTsN 8 Kediri Kholilurrahman, Waka Kesiswaan Ahmad Sunarto, dan pendamping siswa Beti Sulistyorini. Para pendamping tersebut hanya mengantar hingga Provincial Administration Organization Thailand.

Sementara itu, Kepala MTsN 8 Kediri Fikrotul Azizah menerangkan program pertukaran pelajar ini adalah upaya sekolah untuk memperkenalkan MTsN 8 Kediri.

Pasalnya, keberadaan MTsN 8 Kediri dahulu dianggap sekolah pinggiran. Bahkan, nyaris tak dilirik masyarakat. Semua itu berawal dari hasil pengamatannya selama menjadi kepala sekolah. “Makanya kami ingin mengubah stigmatisasi itu, dan ingin mempersiapkan output lulusan kami agar bisa bersaing di luar sana,” ujarnya.

Baca Juga :  Pulih Usai Operasi, Anang Boleh Pulang

Menurutnya, kerja sama ini baru dilakukan di Jawa Timur yang berhasil dan mampu melakukan pertukaran pelajar di Thailand. Kebijakan ini diambil agar para siswanya bisa siap bersaing di dunia global. Bahkan, pihaknya menargetkan sekolah yang berada di Kecamatan Pagu ini berbasis Internasional. “Kami ingin para lulusan kami bisa bersaing dengan sekolah lain,” terangnya.

Lebih lanjut, selama melakukan studi di Thailand, kami juga membawa misi memperkenalkan Islam Nusantara. Bahkan, di Thailand sendiri di kenal dengan Keislaman melayu yang santun. “Jadi kami ingin memperkenalkan secara substansi Keislaman Nusantara di sana (Thailand),” ujar perempuan kelahiran Lamongan ini.

Ke depan, masih kata Fikrotul, pihaknya akan mengadopsi beberapa kurikulum yang berhasil ia terapkan di Thailand. Salah satunya tentang kedisiplinan para santri di Thailand dalam mempelajari keislaman. “Kami juga akan bawa budaya mengaji sebelum pelajaran dimulai di sini (MTsN 8) Kediri,” pungkas perempuan kelahiran 17 Mei 1967 ini.

 

 

- Advertisement -

Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 8 Kediri memiliki kesempatan berharga belajar di Thailand. Tak sekadar belajar kebudayaan Thailand, namun juga membawa misi memperkenalkan Islam Nusantara.

 

 

DWIYAN SETYA NUGRAHA JP Radar Kediri Kabupaten

 

“Senang bisa ke Thailand, banyak pelajaran yang bisa saya pelajari disana,” ungkap Hafidz Putra Pribadi. Hafidz adalah satu dari 12 siswa MTsN 8 Kediri yang berangkat ke Thailand 27 Agustus-16 September lalu.

Mereka terdiri dari 9 siswa dari kelas 7, dan 3 siswa dari kelas 8. Mereka patut bangga, sebab berhasil melalui seleksi dari para siswa yang dilakukan pihak sekolah.

Setelah itu, barulah dilakukan seleksi lanjutan dengan sistem gugur. Mulai dari tes tulis, tes wawancara, dan tes bahasa baca tulis Alquran (BTQ). “Alhamdulillah, saya dapat mewakili almamater untuk merasakan studi di Thailand,” terangnya.

Hampir sebulan, para siswa ini belajar tentang kurikulum dan kebudayaan negeri gajah putih di Saengtham Wittaya Mulniti, Songkhla, Thailand. “Kami jadi lebih tahu tentang perkembangan keislaman di Thailand,”  ungkapnya kepada koran ini.

Diakui Hafidz, beberapa kurikulum pendidikan keagamaan yang berbasis Islam di Thailand mendapat porsi cukup banyak. Meski minoritas, menurutnya perhatian kepada ilmu agama sangat besar.

Baca Juga :  Cerita Relawan Isoter setelah Melewati Puncak Kasus Covid-19

Perbedaan ini sangat terasa dari proses pembelajaran jika dibandingkan di Indonesia. “Jadi di sana tiap hari ada mata pelajaran keagamaan Islam,” terangnya.  

Di ruangan yang berukuran 6 x 8 meter ini, 12 siswa seolah sepakat tentang kemajuan kurikulum pembelajaran keagamaan yang mereka rasakan selama di Thailand. Bahkan, selama menjalani pertukaran pelajar, 12 siswa ini juga tampak tidak tanggung bersosialisasi dengan masyarakat lokal Songkhla.

Yang menarik, masih kata Hafidz, masyarakat Thailand khususnya Songkhla sangat menjunjung teguh dan mempertahankan kearifan lokal berupa Nasyid. “Di sana (Thailand) musik Nasyid memang sangat populer sebagai syiar keislaman,” ujarnya.

Selama di Thailand, para siswa ini ditemani oleh Kepala MTsN 8 Kediri Fikrotul Azizah, Waka Kurikulum Badik Susanto,  Humas MTsN 8 Kediri Kholilurrahman, Waka Kesiswaan Ahmad Sunarto, dan pendamping siswa Beti Sulistyorini. Para pendamping tersebut hanya mengantar hingga Provincial Administration Organization Thailand.

Sementara itu, Kepala MTsN 8 Kediri Fikrotul Azizah menerangkan program pertukaran pelajar ini adalah upaya sekolah untuk memperkenalkan MTsN 8 Kediri.

Pasalnya, keberadaan MTsN 8 Kediri dahulu dianggap sekolah pinggiran. Bahkan, nyaris tak dilirik masyarakat. Semua itu berawal dari hasil pengamatannya selama menjadi kepala sekolah. “Makanya kami ingin mengubah stigmatisasi itu, dan ingin mempersiapkan output lulusan kami agar bisa bersaing di luar sana,” ujarnya.

Baca Juga :  Wiretno, Angkat Sejarah Kediri Kolonial Lewat Penelitian Arsitektur

Menurutnya, kerja sama ini baru dilakukan di Jawa Timur yang berhasil dan mampu melakukan pertukaran pelajar di Thailand. Kebijakan ini diambil agar para siswanya bisa siap bersaing di dunia global. Bahkan, pihaknya menargetkan sekolah yang berada di Kecamatan Pagu ini berbasis Internasional. “Kami ingin para lulusan kami bisa bersaing dengan sekolah lain,” terangnya.

Lebih lanjut, selama melakukan studi di Thailand, kami juga membawa misi memperkenalkan Islam Nusantara. Bahkan, di Thailand sendiri di kenal dengan Keislaman melayu yang santun. “Jadi kami ingin memperkenalkan secara substansi Keislaman Nusantara di sana (Thailand),” ujar perempuan kelahiran Lamongan ini.

Ke depan, masih kata Fikrotul, pihaknya akan mengadopsi beberapa kurikulum yang berhasil ia terapkan di Thailand. Salah satunya tentang kedisiplinan para santri di Thailand dalam mempelajari keislaman. “Kami juga akan bawa budaya mengaji sebelum pelajaran dimulai di sini (MTsN 8) Kediri,” pungkas perempuan kelahiran 17 Mei 1967 ini.

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/