23.3 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Agmarila Mayrisqi, Rawat Budaya lewat Karya Tari

- Advertisement -

Di era serbadigital seperti sekarang, seni tari tidak boleh mandek. Optimisme itu dibangun Agmarila Mayrisqi sejak duduk di bangku kuliah. Gempuran media sosial (medsos) jadi peluang baru baginya untuk memopulerkan seni yang digelutinya sejak bangku SMA itu. 

“Di Sanggar Ande-ande Lumut, saya dilatih harus terus berkarya,” ucap Rila, sapaan akrabnya. Didikan itu ia terima saat mengenyam pendidikan di sekolah menengah. Begitu kuliah di Universitas Negeri Malang, perempuan 27 tahun asal Desa/Kecamatan Kras ini menjadi satu-satunya mahasiswa yang memilih skripsi penciptaan tari. Karya yang dia ciptakan adalah Kilisuci Mengesthi. 

Semua berjalan lancar dan ia lulus. Dapat beasiswa bidik misi dari menari seakan mendorong Rila lebih kental lagi dengan seni tari. Bahkan, lewat tari dia bisa mengajari anak-anak privat. Uang hasil mengajar privat itulah yang dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama belajar di Kota Malang.

Baca Juga :  Pedagang Naik Dokar, Barangnya Diangkut Cikar

Saat lulus kuliah pun dia memutuskan untuk menjadi pelatih tari. Kini Rila mengajar tari di beberapa sekolah. Telanjur mencintai seni tari, dia tidak ingin kegiatan yang ia tekuni bertahun-tahun itu padam. Untuk dapat ilmu baru, ia harus terus update. 

Apalagi, perkembangan seni tari sekarang sangat cepat. Agar tidak ketinggalan, dia selalu mengikuti perkembangan seni tari dari berbagai platform digital. 

- Advertisement -

Dari kegiatan rutinnya itu, kemudian tercetus ide merangkul anak-anak muda kembali mencintai seni tari. Anak didiknya kini banyak memanfaatkan media sosial seperti Tiktok untuk memopulerkan karya tari yang baru diciptakan. “Sekarang mereka (anak didiknya, Red) bisa tetap mengekspresikan hasil tari lewat medsos masing-masing,” bebernya. 

Baca Juga :  SMK Al Huda Kediri Terus Kembangkan Kerjasama Luar Negeri

Rila pun mengaku bangga bisa terus menularkan “virus” kepada anak-anak untuk mencintai seni tari. Dia banyak mendidik anak-anak SMP dan SMA untuk menari. “Tantangan terberatnya, ketika lomba hanya ada waktu satu bulan untuk menjadikan mereka bisa menari,” bebernya. 

Rila cukup merasa puas bila anak didiknya bisa menari. Minimal sudah menguasai 50 persen gerakan. Dengan menari, dia berharap anak-anak didiknya bisa mengangkat budaya Jawa.(rq/ut)  

 

- Advertisement -

Di era serbadigital seperti sekarang, seni tari tidak boleh mandek. Optimisme itu dibangun Agmarila Mayrisqi sejak duduk di bangku kuliah. Gempuran media sosial (medsos) jadi peluang baru baginya untuk memopulerkan seni yang digelutinya sejak bangku SMA itu. 

“Di Sanggar Ande-ande Lumut, saya dilatih harus terus berkarya,” ucap Rila, sapaan akrabnya. Didikan itu ia terima saat mengenyam pendidikan di sekolah menengah. Begitu kuliah di Universitas Negeri Malang, perempuan 27 tahun asal Desa/Kecamatan Kras ini menjadi satu-satunya mahasiswa yang memilih skripsi penciptaan tari. Karya yang dia ciptakan adalah Kilisuci Mengesthi. 

Semua berjalan lancar dan ia lulus. Dapat beasiswa bidik misi dari menari seakan mendorong Rila lebih kental lagi dengan seni tari. Bahkan, lewat tari dia bisa mengajari anak-anak privat. Uang hasil mengajar privat itulah yang dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama belajar di Kota Malang.

Baca Juga :  Ubah Sifat Abangan Warga dengan Sering Jagongan

Saat lulus kuliah pun dia memutuskan untuk menjadi pelatih tari. Kini Rila mengajar tari di beberapa sekolah. Telanjur mencintai seni tari, dia tidak ingin kegiatan yang ia tekuni bertahun-tahun itu padam. Untuk dapat ilmu baru, ia harus terus update. 

Apalagi, perkembangan seni tari sekarang sangat cepat. Agar tidak ketinggalan, dia selalu mengikuti perkembangan seni tari dari berbagai platform digital. 

Dari kegiatan rutinnya itu, kemudian tercetus ide merangkul anak-anak muda kembali mencintai seni tari. Anak didiknya kini banyak memanfaatkan media sosial seperti Tiktok untuk memopulerkan karya tari yang baru diciptakan. “Sekarang mereka (anak didiknya, Red) bisa tetap mengekspresikan hasil tari lewat medsos masing-masing,” bebernya. 

Baca Juga :  Hari Ini Umat Hindu Gelar Upacara Tawur Kesanga

Rila pun mengaku bangga bisa terus menularkan “virus” kepada anak-anak untuk mencintai seni tari. Dia banyak mendidik anak-anak SMP dan SMA untuk menari. “Tantangan terberatnya, ketika lomba hanya ada waktu satu bulan untuk menjadikan mereka bisa menari,” bebernya. 

Rila cukup merasa puas bila anak didiknya bisa menari. Minimal sudah menguasai 50 persen gerakan. Dengan menari, dia berharap anak-anak didiknya bisa mengangkat budaya Jawa.(rq/ut)  

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/