26.9 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Kerja Keras Tenaga Kesehatan Memastikan Masyarakat Sasaran Mau Vaksin

Pro dan kontra vaksinasi Covid-19 tak jarang menyulitkan tenaga kesehatan atau vaksinator saat vaksinasi. Untuk memastikan penerima vaksin mendatangi lokasi vaksinasi, tak jarang mereka harus melakukan penjemputan.

HABIBAH A. MUKTIARA, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Suasana Puskesmas Rejoso Jumat (21/5) lalu tengah ramai. Selain pelayanan reguler di bagian depan, puluhan orang terlihat mengantre di aula puskesmas. Mereka tidak sedang menjalani pengobatan. Melainkan sedang menunggu giliran untuk divaksin.

Sembari menunggu giliran disuntik vaksin Covid-19, mereka memilih berbincang dengan orang yang ada di dekatnya. “Ora wedi aku disuntik vaksin,” ujar Sukarni.

Perempuan berusia 85 tahun itu sudah menjalani screening. Termasuk dites tekanan darahnya. Dari sana diketahui jika tekanan darahnya tinggi. “Istirahat dulu ya Bu,” pinta Tri Setyo, salah satu petugas Puskesmas Rejoso yang baru saja mengukur tekanan darahnya.

Sembari menunggu tekanan darahnya normal lagi, Sukarni kembali duduk di ruang tunggu. Perempuan yang setiap hari berjualan bubur sumsum di Pasar Rejoso itu berbincang dengan temannya sesama pedagang. “Lek nggak disuntik engko ora iso dodolan (kalau tidak disuntik nanti tidak bisa jualan,” sahut Suyati, pedagang lain yang juga menunggu divaksin.

Baca Juga :  Diancam Celurit di Begadung Nganjuk, Korban Tak Masuk Kerja Seminggu

Berbeda dengan Sukarni yang tidak takut divaksin, perempuan berusia 70 tahun itu mengaku takut disuntik. Tetapi, perempuan yang setiap hari berjualan sayuran itu memberanikan dirinya karena ingin tetap berjualan di pasar.

Jika dua lansia yang tengah mengantre divaksin itu relatif menurut, tidak demikian dengan lansia atau sasaran vaksin lainnya. Tak jarang, petugas menemukan beberapa sasaran yang menolak. Pun demikian untuk sekadar datang ke puskesmas.

Untuk memastikan semua sasaran mau datang dan disuntik vaksin, menurut Tri Setyo pihaknya bekerja sama dengan bidan desa. Dengan alasan keterbatasan transportasi, pihak puskesmas pun terpaksa menjemput mereka. Apalagi, sasaran lansia yang divaksin Jumat lalu banyak yang rumahnya jauh dari puskesmas. “Dari Desa Sambikerep ada 40 orang,” tuturnya.

Sebenarnya, target vaksinasi dalam satu hari ada 100 orang. Tetapi, dari jumlah tersebut hanya kurang dari separo yang bisa hadir dengan berbagai alasan. Salah satunya, lansia yang memang tidak bisa berjalan sehingga tidak divaksin.

Sementara itu, tak hanya di Puskesmas Rejoso, petugas puskesmas lain juga menghadapi kendala yang sama. Seperti yang terjadi di Puskesmas Nganjuk saat pemberian vaksin dosis pertama Astrazeneca pada Kamis (20/5) lalu. Dari total 100 orang sasaran, hanya 53 orang yang datang.

Baca Juga :  Rizki Burstiando, Melatih untuk Wujudkan Mimpi Masa Kecil

Mengapa puluhan orang lainnya tidak datang? Tatik, salah satu petugas puskesmas menuturkan beberapa sebab. Mulai sibuk hingga ada yang memang tidak datang ke puskesmas karena takut.

Saat Jawa Pos Radar Nganjuk mendatangi Puskesmas Nganjuk sekitar pukul 11.00, ada tiga lansia yang tengah antre divaksin. Rupanya, ketiganya baru datang setelah ditelepon ulang petugas untuk mengikuti vaksin. “Isu dampak vaksin Astrazeneca membuat masyarakat takut divaksin,” urai Tatik.

Padahal, menurutnya informasi yang tersebar di media sosial itu tidak semuanya benar. Setidaknya, hingga saat ini di Nganjuk belum ditemukan ada kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) berat.

Khusus di Puskesmas Nganjuk, Tatik menyebut ada 200 lansia yang dijadwalkan divaksin Covid-19. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 110 yang sudah mendapatkan vaksin dosis pertama. Adapun sisanya masih belum.

Melihat kondisi selama beberapa hari terakhir, menurut Tatik pihak puskesmas akan melakukan evaluasi. “Kami berharap semua sasaran bisa divaksin. Masyarakat tidak perlu takut,” tegasnya.

- Advertisement -

Pro dan kontra vaksinasi Covid-19 tak jarang menyulitkan tenaga kesehatan atau vaksinator saat vaksinasi. Untuk memastikan penerima vaksin mendatangi lokasi vaksinasi, tak jarang mereka harus melakukan penjemputan.

HABIBAH A. MUKTIARA, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Suasana Puskesmas Rejoso Jumat (21/5) lalu tengah ramai. Selain pelayanan reguler di bagian depan, puluhan orang terlihat mengantre di aula puskesmas. Mereka tidak sedang menjalani pengobatan. Melainkan sedang menunggu giliran untuk divaksin.

Sembari menunggu giliran disuntik vaksin Covid-19, mereka memilih berbincang dengan orang yang ada di dekatnya. “Ora wedi aku disuntik vaksin,” ujar Sukarni.

Perempuan berusia 85 tahun itu sudah menjalani screening. Termasuk dites tekanan darahnya. Dari sana diketahui jika tekanan darahnya tinggi. “Istirahat dulu ya Bu,” pinta Tri Setyo, salah satu petugas Puskesmas Rejoso yang baru saja mengukur tekanan darahnya.

Sembari menunggu tekanan darahnya normal lagi, Sukarni kembali duduk di ruang tunggu. Perempuan yang setiap hari berjualan bubur sumsum di Pasar Rejoso itu berbincang dengan temannya sesama pedagang. “Lek nggak disuntik engko ora iso dodolan (kalau tidak disuntik nanti tidak bisa jualan,” sahut Suyati, pedagang lain yang juga menunggu divaksin.

Baca Juga :  Jadi Saksi Karya-Karya Literasi Bernilai Tinggi

Berbeda dengan Sukarni yang tidak takut divaksin, perempuan berusia 70 tahun itu mengaku takut disuntik. Tetapi, perempuan yang setiap hari berjualan sayuran itu memberanikan dirinya karena ingin tetap berjualan di pasar.

Jika dua lansia yang tengah mengantre divaksin itu relatif menurut, tidak demikian dengan lansia atau sasaran vaksin lainnya. Tak jarang, petugas menemukan beberapa sasaran yang menolak. Pun demikian untuk sekadar datang ke puskesmas.

Untuk memastikan semua sasaran mau datang dan disuntik vaksin, menurut Tri Setyo pihaknya bekerja sama dengan bidan desa. Dengan alasan keterbatasan transportasi, pihak puskesmas pun terpaksa menjemput mereka. Apalagi, sasaran lansia yang divaksin Jumat lalu banyak yang rumahnya jauh dari puskesmas. “Dari Desa Sambikerep ada 40 orang,” tuturnya.

Sebenarnya, target vaksinasi dalam satu hari ada 100 orang. Tetapi, dari jumlah tersebut hanya kurang dari separo yang bisa hadir dengan berbagai alasan. Salah satunya, lansia yang memang tidak bisa berjalan sehingga tidak divaksin.

Sementara itu, tak hanya di Puskesmas Rejoso, petugas puskesmas lain juga menghadapi kendala yang sama. Seperti yang terjadi di Puskesmas Nganjuk saat pemberian vaksin dosis pertama Astrazeneca pada Kamis (20/5) lalu. Dari total 100 orang sasaran, hanya 53 orang yang datang.

Baca Juga :  Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (9)

Mengapa puluhan orang lainnya tidak datang? Tatik, salah satu petugas puskesmas menuturkan beberapa sebab. Mulai sibuk hingga ada yang memang tidak datang ke puskesmas karena takut.

Saat Jawa Pos Radar Nganjuk mendatangi Puskesmas Nganjuk sekitar pukul 11.00, ada tiga lansia yang tengah antre divaksin. Rupanya, ketiganya baru datang setelah ditelepon ulang petugas untuk mengikuti vaksin. “Isu dampak vaksin Astrazeneca membuat masyarakat takut divaksin,” urai Tatik.

Padahal, menurutnya informasi yang tersebar di media sosial itu tidak semuanya benar. Setidaknya, hingga saat ini di Nganjuk belum ditemukan ada kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) berat.

Khusus di Puskesmas Nganjuk, Tatik menyebut ada 200 lansia yang dijadwalkan divaksin Covid-19. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 110 yang sudah mendapatkan vaksin dosis pertama. Adapun sisanya masih belum.

Melihat kondisi selama beberapa hari terakhir, menurut Tatik pihak puskesmas akan melakukan evaluasi. “Kami berharap semua sasaran bisa divaksin. Masyarakat tidak perlu takut,” tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/