25 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Mereka yang Bertahun-tahun Jadi Juru Kunci TMP

Ibaratnya, tempat pemakaman pahlawan ini menjadi rumah kedua mereka. Terbiasa dengan suasana yang ada. Termasuk pada hal-hal di luar nalar yang terjadi.

Angin semilir beberapa kali menerpa wajah Sunaryo. Kala lelaki 68 tahun itu mencabuti rumput liar di salah satu makam. Angin itu sedikit menyegarkan wajahnya yang berpeluh.

Di bawah langit mendung, Sunaryo terus melakukan pekerjaan itu. Membersihkan makam-makam yang berjajar dari rongrongan rumput liar yang terus bertumbuhan. Maklum, lelaki ini adalah satu dari tiga orang juru kunci Taman Makam Pahlawan (TMP) Jayabaya Kota Kediri. Empat puluh tahun lebih dia mengabdikan diri. Meneruskan jejak kakeknya, Poniran.

Yang dicabuti lelaki ini adalah rumput liar yang tumbuh di gundukan makam. Sedangkan di sekitarnya, dengan sengajar ditanami rumput taman. Yang tetap dirawat agar menjadi penyegar suasana.

“Rumputnya harus tetap hijau biar enak dipandang dan tetap sejuk,” ucapnya.

Pak Naryo, demikian dia biasa disapa, tak sendiri mengemban tugas sebagai juru kunci. Ada Adi Prayitno, 38, dan Dedi Setiawan, 40. Nama pertama itu masih sedarah dengan dirinya, anak kandungnya.

Sebagai juru kunci TMP, ritme kerja mereka akan bertambah menjelang hari-hari besar seperti Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, ataupun Hari Ulang Tahun TNI. Juga, ketika ada kunjungan dari orang-orang penting. Seperti anggota DPRRI, pejabat, atau petinggi militer.

Baca Juga :  600 Personel Siap Amankan Lebaran di Kediri Raya

“Kalau sudah ada hari atau kunjungan penting begitu, seminggu sebelum acara harus steril. Semuanya harus diperhatikan secara rinci,” jelas Naryo.

Meskipun yang dijaga dan dirawat adalah makam para pahlawan, pekerjaan sebagai juru kunci tetaplah identic dengan hal-hal mistis. Menariknya, para juru kunci ini mengaku pernah mendapati kejadian yang kadang tak masuk akal.

“Kalau pengalaman ada banyak. Saya juga pernah beberapa kali memindahkan kuburan,” ujar Sunaryo.

 

Selama bertugas, ada tiga kuburan pejuang yang dipindahkan ke TMP Kota Kediri. Suatu ketika, kuburan salah satu pejuang di daerah Gurah digali. Jenazahnya akan dipindah ke TMP. Sunaryo masih ingat betul, saat digali pada Juli 2021 itu, tubuh sang mayat masih utuh. Padahal sudah dimakamkan selama 24  tahun lebih.

Tapi, dia juga pernah memindah jasad pejuang yang sudah hancur. Hanya tersisa tulang-belulang saja.

Menariknya, sejak memindahkan kuburan pejuang tersebut, kondisi di TMP Kota Kediri semakin membaik. “Terutama dalam hal mistisnya,” aku Sunaryo.

Dulu, banyak anak kecil yang kesurupan setelah bermain di bagian depan TMP. Setelah diusut lebih jauh ternyata mereka bertingkah sembarangan ketika bermain. Termasuk memanjat pepohonan maupun bangunan yang ada. Ada juga anak kecil yang mengambil sesuatu dari area TMP dan berakhir dengan kesurupan juga.

Selain itu, setiap malam Jumat, dia juga kerap melihat ada yang menyala dari arah makam. Warnanya bermacam-macam, merah, biru, atau hijau. Padahal saat itu tidak ada lampu yang ditaruh di makam. Lampu penerangan juga sedang mati.

Baca Juga :  Bakesbangpol Kabupaten Kediri Sabet Juara II Tingkat Provinsi

Kisah mistis lain diceritakan oleh Dedi. Dia mengaku melihat sejumlah penampakan. Juga, sering mendengar suara hentak kaki seperti orang berbaris. Namun ketika dicari, tidak ada yang sedang melakukan kegiatan baris berbaris. Suasanya juga sedang sepi. Tidak ada kendaraan yang melintas.

Senada dengan Dedi, Adi juga menceritakan pengalamannya, dulu ketika lampu TMP mati, pintu rumah penduduk yang berada di sekitar TMP sering mendapat ketukan. Namun ketika dibuka tidak ada orang. Dia juga sempat melihat sosok tinggi besar ketika akan memotong pohon yang ada di TMP.

“Waktu itu akan memotong pohon untuk perawatan. Awalnya perasaan sudah nggak enak. Ketika sampai di atas semakin tidak enak. Ternyata ada sosok besar, akhirnya turun lagi,” ujar Adi.

Terlepas dari semua itu, dia tetap bersyukur. Setiap kali rombongan keluarga datang untuk berziarah, dia bersama ayah dan rekannya selalu didoakan agar tetap dalam keadaan sehat. Para keluarga memberi ucapan terima kasih yang tak terhingga karena telah merawat kerabatnya dengan baik.

“Alhamdulillah didoakan yang baik-baik. Saya sebelum bersih-bersih selalu kirim doa buat semua yang ada di makam ini,” tutupnya. (fud)

- Advertisement -

Ibaratnya, tempat pemakaman pahlawan ini menjadi rumah kedua mereka. Terbiasa dengan suasana yang ada. Termasuk pada hal-hal di luar nalar yang terjadi.

Angin semilir beberapa kali menerpa wajah Sunaryo. Kala lelaki 68 tahun itu mencabuti rumput liar di salah satu makam. Angin itu sedikit menyegarkan wajahnya yang berpeluh.

Di bawah langit mendung, Sunaryo terus melakukan pekerjaan itu. Membersihkan makam-makam yang berjajar dari rongrongan rumput liar yang terus bertumbuhan. Maklum, lelaki ini adalah satu dari tiga orang juru kunci Taman Makam Pahlawan (TMP) Jayabaya Kota Kediri. Empat puluh tahun lebih dia mengabdikan diri. Meneruskan jejak kakeknya, Poniran.

Yang dicabuti lelaki ini adalah rumput liar yang tumbuh di gundukan makam. Sedangkan di sekitarnya, dengan sengajar ditanami rumput taman. Yang tetap dirawat agar menjadi penyegar suasana.

“Rumputnya harus tetap hijau biar enak dipandang dan tetap sejuk,” ucapnya.

Pak Naryo, demikian dia biasa disapa, tak sendiri mengemban tugas sebagai juru kunci. Ada Adi Prayitno, 38, dan Dedi Setiawan, 40. Nama pertama itu masih sedarah dengan dirinya, anak kandungnya.

Sebagai juru kunci TMP, ritme kerja mereka akan bertambah menjelang hari-hari besar seperti Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, ataupun Hari Ulang Tahun TNI. Juga, ketika ada kunjungan dari orang-orang penting. Seperti anggota DPRRI, pejabat, atau petinggi militer.

Baca Juga :  Rela Begadang agar Bisa Proses Editing Video Sempurna

“Kalau sudah ada hari atau kunjungan penting begitu, seminggu sebelum acara harus steril. Semuanya harus diperhatikan secara rinci,” jelas Naryo.

Meskipun yang dijaga dan dirawat adalah makam para pahlawan, pekerjaan sebagai juru kunci tetaplah identic dengan hal-hal mistis. Menariknya, para juru kunci ini mengaku pernah mendapati kejadian yang kadang tak masuk akal.

“Kalau pengalaman ada banyak. Saya juga pernah beberapa kali memindahkan kuburan,” ujar Sunaryo.

 

Selama bertugas, ada tiga kuburan pejuang yang dipindahkan ke TMP Kota Kediri. Suatu ketika, kuburan salah satu pejuang di daerah Gurah digali. Jenazahnya akan dipindah ke TMP. Sunaryo masih ingat betul, saat digali pada Juli 2021 itu, tubuh sang mayat masih utuh. Padahal sudah dimakamkan selama 24  tahun lebih.

Tapi, dia juga pernah memindah jasad pejuang yang sudah hancur. Hanya tersisa tulang-belulang saja.

Menariknya, sejak memindahkan kuburan pejuang tersebut, kondisi di TMP Kota Kediri semakin membaik. “Terutama dalam hal mistisnya,” aku Sunaryo.

Dulu, banyak anak kecil yang kesurupan setelah bermain di bagian depan TMP. Setelah diusut lebih jauh ternyata mereka bertingkah sembarangan ketika bermain. Termasuk memanjat pepohonan maupun bangunan yang ada. Ada juga anak kecil yang mengambil sesuatu dari area TMP dan berakhir dengan kesurupan juga.

Selain itu, setiap malam Jumat, dia juga kerap melihat ada yang menyala dari arah makam. Warnanya bermacam-macam, merah, biru, atau hijau. Padahal saat itu tidak ada lampu yang ditaruh di makam. Lampu penerangan juga sedang mati.

Baca Juga :  Nasib Desa Wisata Kabupaten Kediri Diterjang Pandemi

Kisah mistis lain diceritakan oleh Dedi. Dia mengaku melihat sejumlah penampakan. Juga, sering mendengar suara hentak kaki seperti orang berbaris. Namun ketika dicari, tidak ada yang sedang melakukan kegiatan baris berbaris. Suasanya juga sedang sepi. Tidak ada kendaraan yang melintas.

Senada dengan Dedi, Adi juga menceritakan pengalamannya, dulu ketika lampu TMP mati, pintu rumah penduduk yang berada di sekitar TMP sering mendapat ketukan. Namun ketika dibuka tidak ada orang. Dia juga sempat melihat sosok tinggi besar ketika akan memotong pohon yang ada di TMP.

“Waktu itu akan memotong pohon untuk perawatan. Awalnya perasaan sudah nggak enak. Ketika sampai di atas semakin tidak enak. Ternyata ada sosok besar, akhirnya turun lagi,” ujar Adi.

Terlepas dari semua itu, dia tetap bersyukur. Setiap kali rombongan keluarga datang untuk berziarah, dia bersama ayah dan rekannya selalu didoakan agar tetap dalam keadaan sehat. Para keluarga memberi ucapan terima kasih yang tak terhingga karena telah merawat kerabatnya dengan baik.

“Alhamdulillah didoakan yang baik-baik. Saya sebelum bersih-bersih selalu kirim doa buat semua yang ada di makam ini,” tutupnya. (fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/