28.8 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Aksara Kawi Bisa Hapus Sekat Dua Daerah

Punya hari jadi dan tata administrasi pemerintahan yang berbeda, bukan berarti membuat kota dan kabupaten benar-benar tak sama. Sebaliknya, banyak persamaan dari dua wilayah ini. Terutama dari sisi seni dan budaya.

 

Salah satu contoh peninggalan sejarah yang sama-sama dimiliki kedua daerah ini adalah abjad. Huruf atau aksara Kawi menjadi peninggalan bersejarah yang dimiliki kota dan kabupaten. Huruf kwadrat atau tulisan Jawa kuno bisa ditemukan di beberapa tempat.

“Di Kabupaten Kediri aksara Kawi ini ada di Kecamatan Semen. Sedangkan di Kota Kediri ada di museum Airlangga,” kata Yuli Marwantoko,  kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Disbudpar Kabupaten Kediri.

Aksara Kawi digunakan pada masa Kerajaan Kediri hingga abad ke-11. Sayangnya belum menjadi penanda yang kuat baik di kota maupun kabupaten. Padahal aksara ini memiliki karakter yang kuat untuk menjadi penanda suatu wilayah.

Baca Juga :  Lupakan Euforia, Persedikab Optimistis Dapat Poin Penuh

Misalnya, aksara Kawi ini bisa disandingkan dengan tulisan latin yang diletakkan di gedung-gedung perkantoran hingga nama-nama jalan. Jadi setiap nama tempat termasuk kantor desa dan kelurahan menggunakan karakter huruf Kawi. Apalagi di lokasi strategis seperti tempat wisata maupun daerah yang banyak didatangi orang dari luar daerah, misalnya Kampung Inggris. Dengan metode itu tulisan Kawi bisa melekat di masyarakat.

Selain itu, agar tetap lestari, Yuli mengajak anak-anak aktif mempelajari. Sebab, apabila sudah menyebar ke berbagai tempat maka huruf Kawi ini nantinya akan menjadi tanda.

“Budaya berupa aksara peninggalan masa lalu itu bisa menghapus sekat antara kota dan kabupaten,” ucapnya.

Untuk memopulerkan itu memang perlu ada kolaborasi dua daerah. Caranya, bisa menggelar pekan budaya. Kegiatan bisa dimulai dari Stadion Brawijaya sampai ke kantor Pemkab Kediri, atau sebaliknya.

Baca Juga :  Rakha Sukma Purnama, Pimpinan Milenial yang Jago Bermusik

Kolaborasi itu bisa mengangkat tema utama yang sudah disepakati bersama. Sejauh ini, yang sudah mulai populer di masyarakat Kediri adalah mengangkat tema Panji. Baik kota maupun kabupaten bisa berpadu untuk mengangkatnya lebih tinggi lagi ke nasional.

Targetnya, bisa menjadikan Panji sebagai karakter warga Kediri. Orang mengenal Kediri itu adalah Panji. Dan, Panji berasal dari Kediri. Begitu pun dengan aksara Kawi yang bisa melekat ke siapa pun yang datang di Kediri.(rq/fud/bersambung)

- Advertisement -

Punya hari jadi dan tata administrasi pemerintahan yang berbeda, bukan berarti membuat kota dan kabupaten benar-benar tak sama. Sebaliknya, banyak persamaan dari dua wilayah ini. Terutama dari sisi seni dan budaya.

 

Salah satu contoh peninggalan sejarah yang sama-sama dimiliki kedua daerah ini adalah abjad. Huruf atau aksara Kawi menjadi peninggalan bersejarah yang dimiliki kota dan kabupaten. Huruf kwadrat atau tulisan Jawa kuno bisa ditemukan di beberapa tempat.

“Di Kabupaten Kediri aksara Kawi ini ada di Kecamatan Semen. Sedangkan di Kota Kediri ada di museum Airlangga,” kata Yuli Marwantoko,  kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Disbudpar Kabupaten Kediri.

Aksara Kawi digunakan pada masa Kerajaan Kediri hingga abad ke-11. Sayangnya belum menjadi penanda yang kuat baik di kota maupun kabupaten. Padahal aksara ini memiliki karakter yang kuat untuk menjadi penanda suatu wilayah.

Baca Juga :  Rizma Anggi Alfarian, Penari Tradisional yang Tekuni Dance Cover

Misalnya, aksara Kawi ini bisa disandingkan dengan tulisan latin yang diletakkan di gedung-gedung perkantoran hingga nama-nama jalan. Jadi setiap nama tempat termasuk kantor desa dan kelurahan menggunakan karakter huruf Kawi. Apalagi di lokasi strategis seperti tempat wisata maupun daerah yang banyak didatangi orang dari luar daerah, misalnya Kampung Inggris. Dengan metode itu tulisan Kawi bisa melekat di masyarakat.

Selain itu, agar tetap lestari, Yuli mengajak anak-anak aktif mempelajari. Sebab, apabila sudah menyebar ke berbagai tempat maka huruf Kawi ini nantinya akan menjadi tanda.

“Budaya berupa aksara peninggalan masa lalu itu bisa menghapus sekat antara kota dan kabupaten,” ucapnya.

Untuk memopulerkan itu memang perlu ada kolaborasi dua daerah. Caranya, bisa menggelar pekan budaya. Kegiatan bisa dimulai dari Stadion Brawijaya sampai ke kantor Pemkab Kediri, atau sebaliknya.

Baca Juga :  Dilatik Wali kota Kediri, Kepala OPD harus bisa beri solusi

Kolaborasi itu bisa mengangkat tema utama yang sudah disepakati bersama. Sejauh ini, yang sudah mulai populer di masyarakat Kediri adalah mengangkat tema Panji. Baik kota maupun kabupaten bisa berpadu untuk mengangkatnya lebih tinggi lagi ke nasional.

Targetnya, bisa menjadikan Panji sebagai karakter warga Kediri. Orang mengenal Kediri itu adalah Panji. Dan, Panji berasal dari Kediri. Begitu pun dengan aksara Kawi yang bisa melekat ke siapa pun yang datang di Kediri.(rq/fud/bersambung)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/