26.7 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Desi Permatasari, si Ratu Cabai Milenial asal Desa Wonorejo, Wates

 

Menyandang status sebagai mahasiswa tak menghalangi Desi Permatasari untuk menggeluti bidang pertanian. Gadis yang menempuh jenjang strata 1 (S1) jurusan International Business Management di Universitas Ciputra Surabaya ini, membina puluhan mitra petani cabai dan mengolah panenan mereka menjadi produk bernilai jual tinggi lewat PT Ayo Tani.

 

Gadis kelahiran 30 Desember 1999 silam itu memang menyukai bidang yang jarang dilirik oleh teman-teman sebayanya: pertanian. Lebih khusus lagi tanaman cabai. Di sela-sela kesibukan jadwal kuliahnya, dia harus mengelola puluhan hektare tanaman cabai dan puluhan mitra petani cabai. “Saya memulai usaha sejak semester 4,” katanya tentang usaha yang dimulai dua tahun silam tersebut.

 

Pilihannya pada cabai bukan tanpa alasan. Di bidang pertanian, si pedas ini selalu jadi perbincangan. Sebab, pergerakan harganya akan mempengaruhi inflasi skala daerah hingga level nasional.

 

Dari sana, Desi Permatasari melihat cabai sebagai komoditas pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan. “Selain karena potensinya, saya menggeluti cabai karena memang sudah senang dengan tanaman sejak dulu,”  lanjutnya.

Baca Juga :  Bersama Ratu Cabai Kediri, Poktan Sumber Rohmah Bangun Bank Cabai

Klik link ini untuk menonton video Ngobrol Santai Radar Kediri TV bareng Desi Permatasari Ratu Cabai Milenial

Tak hanya mengelola puluhan hektare tanaman cabai, Desi juga mendirikan PT Ayo Tani sejak 2019 silam. Perusahaannya membangun ekonomi kerakyatan dari hulu sampai hilir. Mulai budidaya tanaman cabai sampai pengolahan cabai menjadi pasta.

Lewat PT Ayo Tani, Desi Permatasari tidak lagi menerapkan pola penanaman cabai konvensional. Melainkan beralih ke pola tanam modern. Sehingga, bisa menghasilkan tanaman dan panenan cabai berkualitas. Serta hasilnya melimpah.

Bagaimana dengan kondisi jebloknya harga cabai yang terjadi sekarang? Desi menilai hal tersebut terjadi karena beberapa kemungkinan. Mulai over suplay di pasaran, hingga kemungkinan masuknya produk impor yang terlalu besar.

Meski demikian, masalah harga jeblok tidak menjadi masalah bagi Desi dan puluhan mitranya. Sebab, dia sudah mengantisipasi hal tersebut dengan mendirikan pabrik pengolahan cabai. Cabai segar diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual tinggi. Mulai olahan pasta cabai, sambal kering, dan berbagai olahan cabai lainya. “Dipabrik kami mampu memproduksi cabai 200 ton per bulan. Sehingga ini jadi salah satu solusi petani cabai saat harga jeblok,” tegas Desi.

Baca Juga :  Donasi Sepatu di SDN 1 Janti: Baru Beli kalau Sudah Mobol-Mobol

 Klik link ini untuk menonton video Ngobrol Santai Radar Kediri TV bareng Desi Permatasari Ratu Cabai Milenial

Dalam momentum Hari Tani Nasional yang diperingati tiap 24 September, Desi mengajak para petani cabai untuk membudidayakan tanaman secara modern. Sesuai dengan kebutuhan industri.

Jika biasanya petani konvensional menanam cabai dan dipanen hingga 24 kali dalam satu musim, Desi mengajak mereka mengubah dengan pola modern. “Hanya satu kali panen, cabai dibabat dan disortir panenannya untuk diserap industri,” jelasnya.

Cara tersebut menurutnya bisa menurunkan HPP di budidaya sehingga bisa bersaing dengan cabai import dari Cina dan India. Kedepan, Ayo Tani menerapkan dua model budidaya, pertama membentuk petani industri dan petani konvensional untuk pasar fres hchilli. Konsep tersebut akan menjaga pasokan cabai di masyarakat agar tetap stabil. Dampaknya, harga juga akan stabil. “Selamat Hari Tani Nasional 2021, petani kuat, petani sejahtera,” semangat si Ratu Cabai ini. (Ik1/adv/ut)

- Advertisement -

 

Menyandang status sebagai mahasiswa tak menghalangi Desi Permatasari untuk menggeluti bidang pertanian. Gadis yang menempuh jenjang strata 1 (S1) jurusan International Business Management di Universitas Ciputra Surabaya ini, membina puluhan mitra petani cabai dan mengolah panenan mereka menjadi produk bernilai jual tinggi lewat PT Ayo Tani.

 

Gadis kelahiran 30 Desember 1999 silam itu memang menyukai bidang yang jarang dilirik oleh teman-teman sebayanya: pertanian. Lebih khusus lagi tanaman cabai. Di sela-sela kesibukan jadwal kuliahnya, dia harus mengelola puluhan hektare tanaman cabai dan puluhan mitra petani cabai. “Saya memulai usaha sejak semester 4,” katanya tentang usaha yang dimulai dua tahun silam tersebut.

 

Pilihannya pada cabai bukan tanpa alasan. Di bidang pertanian, si pedas ini selalu jadi perbincangan. Sebab, pergerakan harganya akan mempengaruhi inflasi skala daerah hingga level nasional.

 

Dari sana, Desi Permatasari melihat cabai sebagai komoditas pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan. “Selain karena potensinya, saya menggeluti cabai karena memang sudah senang dengan tanaman sejak dulu,”  lanjutnya.

Baca Juga :  Melihat Konser Daring Thyga Band di Bukit Surga, Sawahan

Klik link ini untuk menonton video Ngobrol Santai Radar Kediri TV bareng Desi Permatasari Ratu Cabai Milenial

Tak hanya mengelola puluhan hektare tanaman cabai, Desi juga mendirikan PT Ayo Tani sejak 2019 silam. Perusahaannya membangun ekonomi kerakyatan dari hulu sampai hilir. Mulai budidaya tanaman cabai sampai pengolahan cabai menjadi pasta.

Lewat PT Ayo Tani, Desi Permatasari tidak lagi menerapkan pola penanaman cabai konvensional. Melainkan beralih ke pola tanam modern. Sehingga, bisa menghasilkan tanaman dan panenan cabai berkualitas. Serta hasilnya melimpah.

Bagaimana dengan kondisi jebloknya harga cabai yang terjadi sekarang? Desi menilai hal tersebut terjadi karena beberapa kemungkinan. Mulai over suplay di pasaran, hingga kemungkinan masuknya produk impor yang terlalu besar.

Meski demikian, masalah harga jeblok tidak menjadi masalah bagi Desi dan puluhan mitranya. Sebab, dia sudah mengantisipasi hal tersebut dengan mendirikan pabrik pengolahan cabai. Cabai segar diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual tinggi. Mulai olahan pasta cabai, sambal kering, dan berbagai olahan cabai lainya. “Dipabrik kami mampu memproduksi cabai 200 ton per bulan. Sehingga ini jadi salah satu solusi petani cabai saat harga jeblok,” tegas Desi.

Baca Juga :  Jalur Aspal Plosoklaten- Wates Digarap Khusus

 Klik link ini untuk menonton video Ngobrol Santai Radar Kediri TV bareng Desi Permatasari Ratu Cabai Milenial

Dalam momentum Hari Tani Nasional yang diperingati tiap 24 September, Desi mengajak para petani cabai untuk membudidayakan tanaman secara modern. Sesuai dengan kebutuhan industri.

Jika biasanya petani konvensional menanam cabai dan dipanen hingga 24 kali dalam satu musim, Desi mengajak mereka mengubah dengan pola modern. “Hanya satu kali panen, cabai dibabat dan disortir panenannya untuk diserap industri,” jelasnya.

Cara tersebut menurutnya bisa menurunkan HPP di budidaya sehingga bisa bersaing dengan cabai import dari Cina dan India. Kedepan, Ayo Tani menerapkan dua model budidaya, pertama membentuk petani industri dan petani konvensional untuk pasar fres hchilli. Konsep tersebut akan menjaga pasokan cabai di masyarakat agar tetap stabil. Dampaknya, harga juga akan stabil. “Selamat Hari Tani Nasional 2021, petani kuat, petani sejahtera,” semangat si Ratu Cabai ini. (Ik1/adv/ut)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/